TamiangNews.com, JENEWA -- Korea Utara (Korut) hanya butuh beberapa bulan lagi mendapatkan kemampuan untuk menyerang wilayah Amerika Serikat (AS) dengan senjata nuklir. Peringatan ini disampaikan Duta Besar AS untuk Perlucutan Senjata, Robert Wood, di sebuah forum PBB di Jenewa.

Foto : sindonews.com
Dalam Konferensi Perlucutan Senjata di Kantor PBB di Jenewa, diplomat Washington itu mengatakan senjata nuklir Pyongyang harus dilucuti.

Konferensi pada hari Selasa (6/2/2018) itu kembali jadi ajang pertarungan diplomatik antara AS dan Korut. Tak mau kalah, diplomat rezim Kim Jong-un menuduh AS mengobarkan perang nuklir dengan mengerahkan aset nuklir termasuk kapal induk di dekat semenanjung Korea. Pyongyang merasa pengerahan aset itu sebagai persiapan serangan pre-emptive atau mendadak.

”Korea Utara telah mempercepat upaya provokatif senjata nuklir dan kemampuan rudalnya, dan menyatakan ancaman eksplisit untuk menggunakan senjata nuklir melawan Amerika Serikat beserta sekutunya di wilayah tersebut,” kata Wood.

”Pejabat Korea Utara bersikeras bahwa mereka tidak akan melepaskan senjata nuklir, dan Korea Utara mungkin hanya tinggal beberapa bulan lagi dari kemampuannya untuk menyerang Amerika Serikat dengan rudal balistik berhulu ledak nuklir,” katanya lagi, seperti dikutip Reuters.

“Sebuah kajian kebijakan nuklir AS yang baru yang dirilis pekan lalu menegaskan kembali bahwa program nuklir terlarang Korea Utara harus sepenuhnya dapat diverifikasi, dan dieliminasi secara ireversibel, menghasilkan Semenanjung Korea yang bebas dari senjata nuklir," katanya.

Ditanya apa dasar penilaian bahwa Korea Utara akan segera mampu menyerang wilayah Amerika Serikat dengan senjata nuklir, Wood mengatakan bahwa dia tidak memiliki informasi baru untuk dibagikan.

Korea Utara telah menguji coba rudal balistik antarbenua pertama, Hwasong-14, dua kali pada Juli lalu. Pada bulan November rezim Pyongyang itu menguji coba rudal balistik antarbenua Hwasong-15, rudal yang diyakini mampu mencapai daratan Amerika Serikat. Namun, kemampuan untuk memasang hulu ledak nuklir pada sebuah rudal balistik Korea Utara belum bisa diverifikasi.

Korea Utara sedang berada di bawah pengetatan sanksi Dewan Keamanan PBB atas program rudal nuklir dan balistik yang dilarang. Namun beberapa pekan terakhir, dunia telah melihat pencairan ketegangan, setelah Korea Utara setuju berunding dengan Korea Selatan. Pyongyang juga setuju untuk mengirim atlet untuk bersaing dalam Olimpiade Musim Dingin mulai 9 Februari di Pyeongchang.

Melunaknya sikap Korut disindir Wood sebagai “pesona ofensif”. "Apa yang saya sebut 'pesona ofensif' terus terang membodohi siapa pun,” kata Wood.

Tak hanya Korea Utara, diplomat Washington itu juga menyerang China dan Rusia dalam perdebatan diplomatik di Jenewa.

”Rusia, China dan Korea Utara meningkatkan stok mereka, meningkatkan keunggulan senjata nuklir dalam strategi keamanan mereka, dan—dalam beberapa kasus—mengejar pengembangan kemampuan nuklir baru untuk mengancam negara-negara damai lainnya,” tuduh Wood.

”Kami tidak akan menancapkan kepala di pasir, kami akan menanggapi tantangan yang berkembang ini,” imbuh dia.

Bencana Mengerikan

Sebaliknya, diplomat Korea Utara Ju Yong Chol dalam forum tersebut menuduh Amerika Serikat berusaha memperparah situasi di semenanjung Korea dengan mengerahkan aset nuklir besarnya. Menurutnya, pengerahan aset nuklir itu untuk melakukan serangan pre-emptive terhadap Korea Utara.

”Mengingat sifat dan skala bala bantuan militer AS, itu dirancang untuk melakukan serangan pre-emptive terhadap DPRK,” kata Ju Yong Chol, merujuk pada nama resmi negaranya, Republik Rakyat Demokratik Korea.

“Pejabat AS termasuk menteri pertahanan dan direktur CIA berulang kali berbicara tentang ancaman nuklir dan rudal DPRK untuk membenarkan argumen mereka mengenai opsi militer dan konsep baru dari apa yang disebut 'bloody nose’, sebuah serangan pre-emptive terbatas terhadap DPRK berada di bawah pertimbangan di internal pemerintahan AS,” ujar Ju.

Dia mengatakan doktrin 'America First' Donald Trump dan keunggulan nuklir AS akan membahayakan perdamaian dan keamanan global. ”Memicu perlombaan senjata nuklir baru dan bisa membawa seluruh dunia mendekati bencana yang mengerikan,” imbuh Ju. [] sindonews.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.