TamiangNews.com, BANDUNG -- Kementerian Pertahanan (Kemhan) menerima enam pesawat baru buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) kemarin. Kehadiran alat utama sistem persenjataan tersebut akan memperkuat kemampuan TNI dalam menjaga kedaulatan wilayah Indonesia. 

Foto : Ilustrasi
Enam pesawat baru tersebut terdiri atas tiga helikopter serang AS555AP Fennec untuk TNI AD, 1 pesawat udara CN 235-220 Maritime Patrol Air-craft (MPA), dan 2 Helikopter AS565 MBe Panther Antikapal Se lam (AKS) untuk TNI AL. Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan, hadirnya enam pesawat baru ini merupakan upaya Kemhan memenuhi kebutuhan alut sista TNI yang sebagian sudah tua. 

Pemenuhan alutsista TNI bekerja sama dengan PT DI sebagai bentuk keman dirian bangsa dalam ketahanan nasional. ”Masuknya heli antikapal slam kepada TNI sesuai dengan renstra minimum TNI dalam mengantisipasi semua potensi ancaman. Kami, pemerintah, terus berkomitmen meningkatkan kemandirian alutsista TNI,” jelas Ryamizard di Hanggar Fixed Wing PTDI, Bandung, Jawa Barat, kemarin. 

Kehadiran heli serang, pesawat udara CN235-200 MPA, dan heli antikapal selam sesuai dengan rencana strategi Minimum Essential Force (MEF) TNI dalam menyikapi dan mengantisipasi berbagai potensi ancaman. 

”Ini merupakan wujud dari capaian industri pertahanan dalam negeri sekaligus menjawab tantangan perkembangan teknologi masa kini yang begitu pesat dan sarat dengan nuansa kompetisi global,” ujarnya. 

Hadir dalam acara tersebut Menhan Ryamizard Ryacudu, Pang lima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, KSAD Jenderal TNI Mulyono, KSAL Laksamana TNI Ade Supandi, serta Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro. Menurut Ryamizard, hasil riset beberapa lembaga dunia seperti Standard Chartered Research, International Monetary Fund (IMF) dan City Investment Research and Analysis, Indonesia diproyeksikan menjadi raksasa ekonomi baru dunia dalam beberapa tahun mendatang. 

Salah satunya didorong oleh kemampuan industri pertahanan dalam negeri yang mandiri. ”Industri pertahanan yang mandiri diharapkan mampu meningkatkan kemampuan pertahanan negara serta mendorong pertumbuhan ekonomi negara,” katanya. 

Mantan kepala staf ang katan darat (KSAD) ini menegaskan, kemampuan PTDI memproduksi heli tempur, heli antikapal selam, dan pesawat pengintai mesti ditunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia telah memiliki kemampuan memproduksi sendiri alutsista. Indonesia harus membuktikan bahwa peralatan tempur ini memiliki kualitas dan andal. 

”Sehingga dunia akan melihat bahwa Indonesia salah satu produsen alutsista potensial. Harapan kami, industri pertahan an Tanah Air bisa menggerakkan ekonomi negara layaknya beberapa negara maju seperti Amerika, Rusia, dan Prancis yang mampu memproduksi sendiri alutsistanya dan maju secara ekonomi. Kekuatan industri pertahanan yang dimiliki suatu negara juga mencerminkan kekuatan ekonomi suatu negara,” paparnya. 

Saat ini Kemhan masih memesan beberapa pesawat dan heli tempur lainnya kepada PTDI. Pemesanan itu sejalan dengan besaran anggaran Kemhan dari APBN yang angkanya sekitar dari Rp111 triliun. 

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, pesa wat yang diterima TNI ini merupakan bentuk keseriusan Kementerian Pertahanan dalam memenuhi kebutuhan alutsista pada renstra kedua 2014-2019. 

”Ada beberapa pesawat yang sudah masuk dalam pemesanan Kemhan kepada PTDI, di antaranya 9 Pesawat Cassa NC-212i, 7 atau 9 Helikopter Caracal, 6 he likopter serang, dan 4 pesawat AKS Peter,” ungkapnya. 

Diakui Panglima, heli AKS dan heli serang yang dibeli dari PTDI masih dalam keadaan kosong, belum dilengkapi sistem persenjataan. Namun, sistem persenjataan itu akan segera dilengkapi Januari ini. Tahap awal, satu unit akan selesai Januari ini. Sisanya akan di lengkapi pada pertengahan tahun secara bertahap.

”Untuk yang satu unit, akhir bulan ini akan di uji coba latihan,” imbuhnya. 

Sementara itu, Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro mengaku siap memenuhi semua pesanan dari Kemhan maupun TNI. ”Keberadaan PTDI akan sangat berarti jika setiap produk serta jasa yang dihasilkannya dimanfaatkan secara maksimal oleh seluruh instansi dan lembaga negara di Indonesia,” kata Elfien. 

Sebelumnya, pada 29 September 2017, PT DI juga telah menyerahkan dua Helikopter AS565 MBe Panther dan dua Heli AKS, sehingga total sudah empat Heli AKS yang diserahkan. Sementara tujuh Heli AKS berikutnya termasuk 2 unit diantaranya akan memiliki konfigurasi full AKS. Heli tersebut akan diserahkan secara bertahap pada 2018 ini. 

Menurut dia, CN235-220 MPA dapat digunakan untuk berbagai macam misi, seperti patroli perbatasan dan Zona Ekonomi Eksklusif, pengawasan pencurian ikan dan pencemaran laut, pengawasan imigrasi dan perdagangan manusia, penyelundupan narkoba dan barang ilegal, serta pencarian dan penyelamatan korban bencana. 

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Gig Jonias Mozes Sipasulta mengatakan, pesawat udara CN235-220 Maritime Patrol Aircraft memiliki beberapa keunggulan diantaranya Maximum Take Off Weight (MTOW) 16.000 kilogram dapat lepas landas dengan jarak yang pendek dengan kondisi landasan yang belum beraspal atau kondisi masih berumput serta mampu terbang selama 10 hingga 11 jam dengan sistem avionik yang lebih modern. 

”Sistem autopilot, adanya winglet di ujung sayap agar lebih stabil. Pesawat ini juga irit bahan bakar,” katanya. Sedangkan Helikopter AS565 Mbe Panther mampu mendeteksi keberadaan kapal selam yang dilengkapi dengan dipping sonarL-3 Ocean Systems DS-100 Helikopter Long-Range Active Sonar (Helras),” ucapnya. [] sindonews.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.