TamiangNews.com, BEIJING -- Pelajar asal Indonesia di Nanjing Polytechnic Institute, China, meraih medali emas dalam Kompetisi Inovasi dan Penemuan Internasional (IIIC) 2017 di Taiwan berkat alat pengontrol listrik buatannya.

Foto : Ilustrasi
"Ini langkah awal saya untuk berkontribusi di dunia pendidikan. Bagi saya, bukanlah naik podium untuk dapat penghargaan yang jadi tujuan, namun seberapa bermanfaatnya alat ini dapat diaplikasikan," kata Miftahun Nurrochman, peraih medali emas IIIC 2017, kepada Antara di Beijing melalui WeChat, Kamis.

Mahasiswa semester V D3 Mekatronika itu mengatakan mahalnya alat pengontrol listrik otomatis (PLC) di pasaran mendorong dia membuat alat serupa yang harganya terjangkau.

PLC rancangan Miftahun diberi nama Petir, yang diambil dari singkatan nama komunitas pencinta teknologi yang menaunginya, Perkumpulan Teknologi, Informasi, dan Rekayasa.

Miftahun melengkapi Petir dengan buku panduan tentang tata cara pengoperasian, perbaikan, sekaligus cara perancangannya. 

"Semua desain saya buka atau dalam istilah teknik disebut open source hardware, seperti desain rangkaian listrik, desain keamanan, dan lain sebagainya sehingga siapa pun dapat membuat PLC Petir, terutama untuk kepentingan pendidikan. Perangkat lunaknya juga dapat menggunakan aplikasi Khazama yang semuanya gratis," katanya.

Ia juga membuka layanan konsultasi mengenai PLC Petir secara cuma-cuma.

Modal

Miftahun mulai mengembangkan alat pengontrol listrik pada 21 Mei 2017 dan baru benar-benar menuntaskannya pada 18 Oktober 2017. Ia merancang dan mengembangkan PLC Petir dengan modal uang pribadi yang dia sisihkan dari uang makan sehari- hari. 

"Beberapa kali gagal karena memang tanpa dosen pembimbing. Tapi saya terus mencoba," katanya.

Pada 20 September 2017, ia menyertakan Petir NH19 dalam kompetisi yang digelar oleh Chinese Innovation and Invention Society (CIIS), yang 80 persen anggotanya profesor, 10 persen lainnya wirausahawan, dan sisanya penemu senior.

Ajang International Innovation & Invention Competition (IIIC) 2017 tersebut diikuti 338 penemuan dan inovasi dari 11 negara dengan metode penilaian berdasarkan abstraksi berbahasa Inggris dan poster penjelasan dan instruksi penggunaan.

"Bagi saya lomba ini sangat penting karena penemuan anak bangsa Indonesia bisa bersaing di dunia internasional," kata Miftahun, yang berangkat dari Nanjing ke Taiwan dengan dukungan dari Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan. [] antaranews.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.