Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SANAA -- Mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh tewas dibunuh dalam sebuah serangan di tepi jalan di daerah Sanhan pada Senin, 4 Desember. Veteran yang berkuasa dari 1990 sampai 2012 itu diduga dibunuh karena telah berkhianat dengan meninggalkan kelompok Houthi untuk bergabung dengan pihak koalisi pimpinan Arab Saudi.

 Mantan Presiden Yaman, Ali Abdullah (metrotvnews,com)
Beberapa analis mengatakan, kematian Saleh akan meningkatkan moral kelompok Houthi dan mengakibatkan pukulan keras bagi koalisi pimpinan Saudi yang telah terjun ke dalam konflik di Yaman sejak 2015. Dengan tewasnya pria berusia 75 tahun itu, harapan untuk membalikkan keadaan terhadap Houthi setelah terjadinya stalemate di Yaman menjadi sirna. 

Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi, Pemimpin Houthi, Abdul Malek al-Houthi menyebut kematian Saleh sebagai kemenangan atas koalisi pimpinan Saudi dan menyampaikan ucapan selamat kepada rakyat Yaman atas kejadian ini. Dia mengatakan bahwa Houthi akan tetap mempertahankan sistem republik di Yaman dan tidak akan melakukan pembalasan pada partai Abdullah Saleh. 

"Pada hari bersejarah, luar biasa dan agung ini dimana konspirasi pengkhianatan dan pengkhianatan gagal, ini adalah hari yang kelam bagi kekuatan agresi," kata Malek al-Houthi sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (5/12/2017).

Sebelum dibunuh, pada Sabtu, 2 Desember Saleh mengatakan dirinya telah siap membuka lembaran baru dalam hubungannya dengan Koalisi Teluk. Pada kesempatan itu Saleh menyebut Houthi sebagai milisi pelaku kudeta di Yaman. 

Saleh adalah seorang ahli dalam menjalin persekutuan dan memberi keuntungan bagi dirinya dan keluarganya di tengah masyarakat kesukuan Yaman yang terbelah dan dipenuhi konflik. Dia membantu terjadinya persatuan antara Yaman dan Yaman Selatan, namun juga menyebabkan perpecahan dan kehancuran Yaman dalam perang beberapa tahun terakhir.

Setelah berkuasa di Yaman selama 33 tahun, saleh dipaksa mengundurkan diri setelah terjadinya pemberontakan Arab Spring pada 2012. Upaya pembunuhan yang gagal atas dirinya memicu terjadinya transisi politik yang di mediasi oleh Arab Saudi.

Setelah upaya pembunuhan tersebut, Saleh melarikan diri ke Arab Saudi untuk mendapatkan perawatan atas luka-luka yang dideritanya. Dia diizinkan kembali ke Yaman beberapa bulan kemudian. Langkah Arab Saudi itu menjadi sebuah kesalahan karena Saleh justru menggagalkan proses transisi dan bergabung bersama Houthi.

Namun, persekutuan antara Saleh dan Houthi berakhir akibat perebutan pengaruh di wilayah yang mereka kuasai bersama, termasuk ibu Kota Sanaa. Perseteruan itu berkembang menjadi pertempuran terbuka antara pasukan loyalis Saleh dengan milisi Houthi pada 29 November.

Menyusul pembunuhan Saleh, media Houthi dan sumber politik di Yaman melaporkan milisi Houthi bergerak ke sebuah desa di luar Sanaa yang menjadi tempat kelahiran Saleh di mana pasukan loyalis membangun pertahanan yang kuat. Tentara Houthi juga diwartakan telah berhasil merebut sebuah rumah milik keponakan Saleh, seorang jenderal angkatan bersenjata. [] okezone.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.