Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, LONDON -- Negara-negara Uni Eropa dan Arab mengecam pengakuan AS terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Selain dari negara Muslim, protes juga datang dari sebagian besar negara di dunia.

Suasana Dome of The Rock di kompleks Al Aqsa, Yerusalem, Palestina beberapa waktu lalu. Pejabat senior Pemerintahan Trump mengabarkan Trump akan mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan memindahkan kedutaan besarnya ke kota tua ini.
Dilansir di Reuters, Rabu (7/12), Uni Eropa dan PBB menyuarakan peringatan keras. Mereka menilai keputusan AS untuk memindahkan Kedutaan Besarnya ke Yerusalem sebagai penghalang kesepakatan damai Israel-Palestina.

Langkah ini hanya akan jadi batu penghalang besar selanjutnya yang mengancam. Sekutu AS di UE, Prancis menolak keputusan unilateral tersebut dan menyerukan perdamaian.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan status Yerusalem telah menjadi perhatian besar masyarakat dunia. "Status Yerusalem menjadi jaminan keamanan internasional sehingga seluruh komunitas internasional sangat memperhatikannya," kata dia.

Inggris dan Jerman pun protes dan menilai Yerusalem harus menjadi bagian dari Palestina juga. Status Yerusalem harus ditentukan berdasarkan solusi dua negara.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan tidak ada alternatif lain untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina selain solusi dua negara. Status final Yerusalem pun hanya bisa ditentukan melalui kesepakatan langsung.

"Saya secara konsisten menolak segala keputusan unilateral yang memperburuk proses perdamaian Israel-Palestina,"kata Guterres. Ia juga berjanji akan melakukan apa pun untuk mendukung kepemimpinan kedua pihak kembali pada negosiasi. [] republika.co.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.