Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, KARANG BARU -- Pupus sudah harapan Persikip (Persatuan Sepak Bola Simpang Kiri Putra) untuk menuju ke tingkat propinsi dengan menerima kenyataan menjadi juara 3 di Turnamen liga BLisPI se Regional 1 yang di laksanakan minggu (26/11) di lapangan sepak bola SMAN 2 percontohan Karang baru.


Memang turnamen ini cuma sebatas ajang unjuk bakat para pesepakbola muda berumur 12 tahun, namun dari turnamen ini sudah lahir nama-nama tenar seperti Giovani Dos Santos (Meksiko/Villarreal), Erik Lamela (Argentina/Tottenham Hotspur), Phil Jones (Inggris/Manchester United), dan Siem De Jong (Belanda/Newcastle United).

Maka wajar jika SSB Persikip arahan Arianto dan Afifuddin yang berlokasi di desa Simpang Kiri kecamatan Teunggulon ini punya impian sama seperti Giovani Dos Santos dkk, bahwa suatu hari nanti adalah dari anak-anak Persikip juga bisa menjadi bintang sepakbola dunia.

Walaupun Jalannya tak mudah, mengingat banyak juga tim-tim yang di atas kertas lebih baik dari Anak didik Surya Jaya ini, Namun seperti yang orang sering bilang, bermimpilah setinggi mungkin karena dari situlah kita bisa meraih cita-cita yang diimpikan.

Tetapi mimpi mereka sepertinya hanya sekedar mimpi, karena dukungan dan sarana tempat mereka menimba ilmu bola sangat lah tidak mendukung di sebabkan beberapa perusahaan yang tidak bersolidaritas atau bisa dikatakan tidak mau mengalah dengan membangun parit pembatas antara lapangan bola dengan perkebunan mereka dengan berjarak hanya 2 meter dari lapangan mereka.

Sehingga Anak asuhan Endi surya jaya ini terkadang sering mengeluh apabila bola mereka masuk bahkan lewat dari parit yang berukuran besar itu dan dengan terpaksa mereka harus turun atau bahkan melompat parit untuk mengambil bola yang terkadang membuat kaki mereka terkilir dan tertusuk duri sawit milik perusahaan setempat.

Pengurus SSB Persikip Arianto dan Afifuddin mengatakan kepada TamiangNews.com bahwa mereka cukup bangga dengan semangat dan potensi para anak kampung simpang kiri ini walaupun banyak kendala yang mereka hadapi seperti, susahnya jaringan komunikasi internet yang membuat mereka tidak mengetahui adanya Seleksi seperti BLiSPI ini.

"Kami tahunya ada turnamen BLiSPI ini dari teman yang tinggal di kota karena di daerah kami jaringan internet tidak ada, jadi kami ngk bisa buka internet makanya kami sering ketinggalan jadi begitu tau kami langsung daftar", ujarnya sambil menuai harapan.

Coach Persikip Endi Suryajaya juga menambahkan banyaknya kendala dan kurangnya dukungan sering membuat mereka ketinggalan dalam mengembangkan bakat anak didiknya, antara lain seperti lapangan bola yang bergelombang, lembu yang bebas berkeliaran di lapangan bola mereka dan juga kurangnya perhatian pemerintah setempat terhadap anak-anak penerus bangsa di bidang olah raga. [] TN-W008

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.