Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SPORTS -- Adalah sebuah kabar yang mencengangkan ketika PSSI hendak menghentikan Indra Sjafri sebagai pelatih Timnas Indonesia U-19. Rencana PSSI ini patut dipertanyakan.

Indra Sjafri Pelatih Timnas U-19
Memang tidak ada salahnya jika PSSI ingin memecat atau menghentikan seorang pelatih. Sebab awalnya mereka mengangkat pelatih punya target tertentu yang harus dicapai. Jika target tersebut tak tersampaikan maka posisi pelatih tersebut juga akan berada di ujung kaki. Terancam.

Seperti yang dikatakan ketua PSSI, Edy Rahmayadi, bahwa posisi Indra Sjafri di Timnas U-19 saat ini bukan hanya berada di ujung tanduk tapi sudah berada di ujung kaki. Sementara pelatih  54 tersebut sebenarnya masih punya kontrak hingga bulan Desember akhir tahun ini.

"Nasib dia bukan lagi di ujung tanduk, tapi di ujung kaki," ucap ketua PSSI yang juga menjabat sebagai Pangkostrad TNI Angkatan Darat tersebut, Kamis (16/11).

Ancaman pemecatan Indra Sjafri tak lepas dari pencapaian Timnas U-19 di beberapa kompetisi akhir-akhir ini. Pada kompetisi Piala AFF U-18 di Myanmar kemarin, Indonesia  hanya mampu keluar sebagai juara tiga. Padahal harapan PSSI adalah tim Garuda Muda bisa menjadi juara.

Kegagalan tersebut berlanjut dalam babak kualifikasi Piala Asia U-19. Dalam turnamen tersebut, Indonesia hanya mampu berada di peringkat tiga klasemen Grup F setelah mengalami kekalahan dari Korea Selatan dan Malaysia. Untungnya Indonesia menjadi tuan rumah dalam turnamen tersebut sehingga Indonesia tetap lolos.

Namun tetap saja pemecatan Indra Sjafri akan menimbulkan pertanyaan. Banyak kalangan yang mengecam rencana PSSI tersebut, yang sok meniru Italia yang langsung memecat Gian Piero Ventura setelah gagal mengantarkan Italia lolos ke Piala Dunia 2018.

"Kami sudah menyiapkan penggantinya," kata ketua PSSI yang berencana menggantikan Indra entah dengan siapa.

Pertanyaannya sekarang adalah siapa yang pantas menggantikan Indra Sjafri?

Indra Sjafri adalah satu-satunya pelatih yang pernah membawa Indonesia menjuarai Piala AFF U-18 pada tahun 2013. Setelah itu nama Indra kian mencuat setelah meloloskan timnya di putaran final Piala Asia U-19 tahun 2014 di Myanmar.

Sayangnya, Indonesia tak mampu memenuhi target di Piala Asia U-19 tahun itu yang diharapkan bisa menembus semi final. PSSI kemudian menghentikan Indra Sjafri sebagai pelatih. Namun setelah pemecatan itu, toh tim muda Indonesia juga tak meraih prestasi apa-apa.

PSSI akhirnya kembali mengangkat Indra sebagai pelatih tahun ini jelang menghadapi Piala AFF U-18 2017 di Myanmar.

Seperti saat membangun tim untuk memenangkan Piala AFF U-18 pada tahun 2013, Indra Sjafri kembali menghadirkan nama-nama pemain muda yang membuat pemirsa terkesan. Jika pada tahun 2013, ia mengenalkan pada Indonesia kehebatan Evan Dimas dkk,  tahun ini ia menyuguhkan pada kita pemain seperti Egy Maulan Vikri. Pemain asal Medan ini pun menjadi buah bibir setelah menjadi top skor di Piala AFF U-18 kemarin.

Tidak mudah bagi Indra Sjafri membangun tim dari kalangan remaja Indonesia. Pada tahun 2013, ia harus keluar masuk ke daerah pedalaman untuk menjaring bakat pemain yang ia inginkan masuk dalam timnya.

Lalu untuk menyiapkan skuatnya pada Piala AFF U-18 tahun ini juga tak jauh beda. Hanya saja ia tak banyak melakukan blusukan seperti sebelumnya karena persiapan yang sangat terbatas. Ia hanya punya waktu enam bulan untuk menyiapkan tim. Tapi buktinya, ia mampu membawa Timnas U-19 mendapat juara tiga di Piala AFF U-18 kemarin.

Di  Indonesia sendiri, kompetisi untuk usia muda sebagai lahan menjaring pemain muda belum berjalan maksimal. Itulah yang membuat tugas pelatih usia muda di negeri ini tidak mudah.

Beda di luar negeri.  Pekerjaan seorang pelatih tim nasional di sana relatif lebih mudah karena terbantu dengan adanya sistem kompetisi di berbagai level yang sudah berjalan apik. Artinya, pelatih bisa melihat performa satu pemain di atas lapangan dalam sebuah kompetisi profesional. Sementara di sini masih belum maksimal sehingga penjaringan pemain muda dilakukan melalui tahapan tes yang diadakan di cabang-cabang di daerah.

Melihat alam sepakbola Indonesia yang masih seperti itu, jika PSSI ingin menggantikan Indra Sjafri dengan pelatih lain, perlu mencari pelatih yang lebih baik darinya. Insting pelatih dalam menebak talenta pemain harus kuat. Kenapa hal itu penting dimiliki pelatih tim muda Indonesia saat ini, karena perkembangan sport science di Indonesia belum cukup memadai sebagai ukuran yang komprehensif.

Selain itu, calon pelatih tim muda Indonesia juga membutuhkan integritas yang tinggi. Sekali lagi, melatih para pemain muda tentu bukan urusan mudah. Pelatih dituntut, selain bisa meningkatkan sisi teknik pemain di atas lapangan, juga harus bisa membentuk karakter pemain yang masih dalam masa pertumbuhan.

Indra Sjafri terbukti bisa memberikan warna  dalam kepribadian anak asuhnya. Jika kita mengamati, maka akan sering melihat bagaimana pasukan Garuda Muda ketika menjalani pertandingan di atas lapangan. Mereka bisa menunjukkan kegigihan sebagai pemain profesional namun juga memiliki sisi moralitas yang baik. Jika mereka sukses mencetak gol, misalnya, mereka melakukan sujud sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.

Karena menurut Indra Sjafri, sepakbola bukan hanya soal kekuatan fisik dan kecerdasan pemain. Pemain sepakbola, menurutnya, juga harus memiliki iman dan taqwa yang baik kepada Tuhan. Itulah filosofi sang pelatih.  

“Sepakbola tidak hanya mengandalkan dengkul dan kecerdasan, tetapi juga harus ditopang iman dan taqwa yang kuat,” kata Indra Sjafri.

Di tengah rumor pemecatan Indra Sjafri, kini terdapat beberapa nama yang dikatakan sebagai kandidat, salah satunya adalah Dejan Antonic. Selain mantan pelatih Pro Duta tersebut juga terdapat beberapa nama yang mengapung di antaranya adalah pelatih Bhayangkara FC, Simon McMenemy, dan Nil Maizar.

Akhirnya, memang Indra Sjafri bukan satu-satunya pelatih yang bisa menjamin prestasi sepakbola Indonesia. Namun rasanya menghentikan pekerjaan Indra Sjafri saat ini tetap tidak tepat karena dalam waktu dekat pasukan Garuda Muda akan menjalani Piala Asia U-19. Butuh persiapan yang matang dari pelatih untuk menghadapi kompetisi itu. Sementara pergantian pelatih hanya akan mengusik persiapan tersebut. [] bola.net

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.