Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SERUWAY -- Anggota DPD RI asal Aceh, H. Sudirman atau yang lebih dikenal Haji Uma hadir di Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu sore (4/11). Kehadiran Haji Uma selain dalam rangka bersilaturrahmi dengan masyarakat setempat, ternyata ada agenda lain untuk pembuatan sebuah film yang dalam proses produksinya juga turut melibatkan beberapa kru manajemen produksi film Eumpang Breuh.


Dalam film ini turut terlibat anggota DPRA, Asrizal H. Asnawi dan juga Wakil Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Tamiang, Amiruddin Puteh. Pembuatan film ini terlaksana dari hasil kerjasama Dinas Informasi dan Komunikasi Provinsi Aceh dan anggota DPRA, Asrizal H. Asnawi.

Film yang turut dibintangi Haji Uma ini adalah sebuah film yang mengangkat nilai adat dan budaya Aceh Tamiang. Film ini juga bagian upaya untuk mempromosikan penerapan Qanun Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Kehidupan Adat dan Adat Istiadat.

Dalam Qanun ini, terdapat 18 perkara/sengketa yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang dapat diselesaikan melalui peradilan adat.

Menurut Haji Uma, dari 18 perkara yang diatur penyelesaiannya lewat peradilan adat, 4 perkara menjadi bagian yang di integrasikan dalam alur cerita film ini, yakni perkara perselisihan tapal batas, perselisihan rumah tangga, pencurian dan khalwat (mesum).

"Jadi film ini sarat muatan edukatif terkait ada budaya Aceh Tamiang. Harapannya, melalui film ini masyarakat lebih memahami perkara atau sengketa apa saja yang dapat diselesaikan pada tingkat kampung melalui peradilan adat", ujar Wakil Ketua PURT DPD RI ini.

Haji Uma sangat mengapresiasi para pihak yang memberi perhatian untuk mengangkat nilai adat dan budaya. Karena menurutnya, hal ini sangat penting dilakukan dengan kondisi sosial hari ini dimana pemahaman masyarakat terhadap aspek dimaksud cenderung rendah. Sehingga perlu adanya upaya melalui berbagai media yang salah satunya adalah media film.

Sementara itu, anggota DPRA Asrizal H. Asnawi menyampaikan bahwa film ini adalah bagian dari program aspirasinya yang bekerjasama dengan Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Provinsi Aceh. Inisiasi pembuatan film dilandasi oleh kondisi dimana sebagian besar masyarakat belum memiliki pengetahuan dan pemahaman yang kuat tentang aspek yang termuat dalam Qanun Nomor 9 Tahun 2008 Tentang Kehidupan Adat dan Adat Istiadat.

"Film ini mengangkat cerita tentang adat dan budaya Masyarakat Aceh Tamiang dan perannya dalam proses penyelesaian perkara/sengketa melalui peradilan adat yang telah tumbuh dan diterapkan sejak lampau dalam kehidupan sosial masyarakat", ujar Asrizal H. Asnawi.

Lebih jauh, Ketua Fraksi PAN di DPRA ini juga berharap film ini menjadi sistem pendukung yang efektif dalam upaya mensosialisasikan Qanun tentang Kehidupan Adat dan Adat Istiadat di Kabupaten Aceh Tamiang. [] TN-W001

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.