Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, BANDA ACEH -- Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) bersama Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan kasus kejahatan lingkungan ke Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipidkor) Bareskrim Polri di Jakarta, Kamis (16/11) yang lalu.


Ada empat laporan kasus indikasi penyimpangan sektor lingkungan di Aceh yang dilaporkan ke Dittipidkor Bareskrim Polri. Ke empat kasus tersebut merupakan hasil investigasi MaTA yang tersebar di Aceh Tamiang dan Nagan Raya.

Dalam rilis MaTA yang ditandatangani Staf Bidang Politik dan Hukum Saryulis yang diterima TamiangNews.com, Rabu (22/11) dijelaskan, empat kasus tersebut antara lain, tiga  kasus perjanjian kerjasama pengelolaan kelapa sawit dalam kawasan hutan lindung di Aceh Tamiang dengan objek kelapa sawit dan juga bakau. 

Dan satu kasus lainnya adalah perjanjian kerjasama pengelolaan sawit dalam kawasan lindung di Nagan Raya. Hasil temuan MaTA, kasus-kasus ini dilakukan oleh Dinas Kehutanan Aceh bersama oknum perorangan dan juga koperasi.

Menurut hasil analisa MaTA, ke empat kasus tersebut memenuhi unsur tindak pidana korupsi, sebagaimana dituangkan pada pasal 2 dan 3 UU 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jelas Saryulis.

Saryulis menambahkan, MaTA dan ICW menduga perjanjian kerjasama yang dibuat dalam kasus pengelolaan sawit di kawasan hutan lindung dan kawasan lindung hanya dijadikan sebagai modus untuk melegalkan indikasi penyimpangan. Padahal faktanya untuk “menguras” kekayaan alam Aceh.

Dalam laporan ke Direktorat Tindak Pidana Korupsi (Dittipidkor) tersebut, MaTA turut melaporkan Gubernur Aceh periode 2012-2017, karena Gubernur Aceh patut diduga mengetahui dan mengizinkan perjanjian kerjasama ini dilakukan oleh Dinas Kehutanan Aceh, meskipun Bupati Aceh Tamiang menolak perjanjian tersebut. Kepala Dinas Kehutanan Aceh, Ir. HusainiSyamaun, MM juga turut dilaporkan oleh MaTA karena diduga kuat ikut merancang dan menandatangani perjanjian kerjasama tersebut.

Turut Dilaporkan ke Ombudsman RI

Selain ke Dittipidkor Bareskrim Polri, keempat kasus ini juga dilaporkan ke Ombudsman RI di Jakarta pada hari yang sama ditambah tiga kasus lain dengan potensi penyimpangan mal administrasi. 

Kasus-kasus tersebut antara lain pembukaan lahan oleh PT Indo Sawit Perkasa di Subulussalam yang kuat dugaan tanpa disertai izin land clearing, pembukaan lahan oleh PT Bumi Daya Abdi tanpa dilengkapi dengan dokumen yang lengkap serta kasus pemberian izin usaha untuk PT Mandum Payah Tamita di Aceh Utara.

Bagi MaTA, laporan kasus yang disampaikan ke Dittipidkor Bareskrim Polri dan Ombudsman harus menjadi dasar evaluasi oleh Pemerintahan Irwandi–Nova untuk mendorong perbaikan tata kelola hutan dan lahan di Aceh. MaTA berharap, Pemerintahan Irwandi–Nova harus melahirkan kebijakan-kebijakan yang tidak merusak lingkungan termasuk pengalokasian anggaran yang cukup untuk perbaikan tata kelola hutan dan lahan di Aceh. [] TN-Red

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.