Dilihat 0 kali

Oleh :  Syahzevianda Zakaria​*

Jangan pernah bosan bertulis-pesan untuk menyongsong nasib "pemuda" hari ini dan nanti. Semakin bosan untuk saling berpesan semakin ada keraguan bagi sesama kita bahwa pemuda telah diambang apatis sesama kaum(individualis).

Pemuda harus siap dengan berbagai isu, kepekaan kita harus dipertaruhkandemi masa depan bangsa. Bangsa ini masih sangat mengharapkan topangan pada jawara muda. Ditengah konstelasi sosial, politik dan ideologi bangsa yang saat ini marak diperbincangkan, pemuda harus mengambil posisi strategis untuk menjadi pilar dan garda garisdepan pemersatu bangsa.

Walaupun sekiranya tulisan ini hanya sebagaihiasan ruang baca peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-89, setidaknyasaya pribadi tidak pernah bosan untuk memberikan opini dan berpesan khususnya untukdiri sendiri bahwa pemuda hari ini bukanlah pemuda akhir zaman. Hanya saja kita sudah berada di penghujung penantian kebangkitan pemuda harapan bangsa.

Betapa sakral momentum 28 Oktober yang saban tahun yang menjadi seremonial kebanggaan kita bersama. 2017, kembali penulissajikan padanan kata untuk memulihkan dan memelihara semangat "juang" pemuda supaya tidak kendur sebelum waktunya.

Penulis mencoba mendeskripsikan makna "Bangsa ada karena pemuda ada". Bangsa ini ada karena pemuda, begitupun pemuda ada tak lain untuk mengabdikan diri pada bangsa ini.

Silahkan dikomentari jika terdapat kegagalan penulis menafsirkan cuplikan narasi pada alamat surat elektronik dibagianbawah tulisan ini. Dimulai dari cikal bakal lahirnya sumpah pemuda, jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka kaum muda telah mengikrarkan dalam "sumpahnya".

Pemuda selayaknya harus menjadi jati diri bangsa yang harus memberikan kontribusi bagi kemashalatan seisi bumi Pertiwi. Taring pemuda bukan untuk menakut-nakuti keadaan, bahkan mencabik-cabik perasaan bangsa sendiri. Pemuda besar karena kerelaan membuka perasaan besar dan rasa bersalah pada keadaan sosialdalam menjawab permasalahan bangsa hari ini dan nanti.

Lagi-lagi, pemuda adalah tulang punggung bangsa yang berporos pada kemuliaan ber-AKSI, retorika semata tanpa aksi bukan untuk menjawab permasalahan bangsa, tapi malah menambah deretan "ego" semata dimata anak negeri. Aksi sosial yang lahir atas keinginan luhur bangsa dalam mensukseskan tujuan bangsa.

Pemuda harus berkumpul dalam sekumpulan insan-insan yang berpemikiran mulia tanpa jeda. Jangan pernah sekalipun mengintervensi jiwa dan semangat juang anak muda bangsa untuk beraksi untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.

Kita punya momen penting setiap tahun seperti perayaan Hari Sumpah Pemuda (HSP). Kilas balik bagi kita untuk menghargai perjuangan pemuda "Tempoe Doeloe" atas kelalaian kita saat ini. Molekul kebaikan apa yang sudah kita berikan hariini untuk bangsa di tengah euforia perayaan hari yang sangat bergengsi bagi kita???

Inilah "cermin tahunan" pemuda untuk berkaca siapa dan untuk apa kita ada?. Maaf saya kurang mampu berteori, stempel yang paling pahit kita hari ini adalah sebagai pemuda simbol, transaksional dan retotik. Silahkan marahdengan dengan kenyataan dan keadaan ini, dimana moral pemuda hari ini perlu dipertanyakan hari ini!

Perlahan pemuda bangsa sangat menikmati kehilangan panel kontrol kepakaan dan sosial. Kita sangat terbuai dengan keindahan materialis sahaja, kita lupa kalau kita ini generasi penerus yang perlahan memiliki jarak pandang semakin dekat. Sumbu sosial dan ideologi kita semakin pendek sehingga tergampang hanyut ditelan isu.

Mengapa harus marah dan meratapi? Ini kan pil pahit yang kita sajikan atas kelalaian kita sendiri. Ditengah kemelut politik yang kian komplementer, begitu banyaknya buaian itu hadir dalam koloni anak-anak muda. Belum lagi persoalan narkoba dan kejahatan yang menjadi tantangan bagi sahabatkita. Selamatkan mereka dengan kreativitas. "Tolong selamatkan kami bung!"

Angka pengangguran pada kaum kita jangan ditanya lagi, kualitas kita sangat dipalsukan dengan oleh kualifikasi yang belum berpihak pada kaum muda. Penjajakan demi penjajakan terus dicari obat mujarab untuk pemecah kebuntuan "status sosial pemuda". Tapi sepertinya belum menyentuh angka signifikan kearah yang lebih baik.

Sangat besar kemungkinanditangan kita lah yang bisa menyelamatkan sesama koloni kita, yang didasari atas kemufakatan dan gotong royong seperti sediakala. Kuatnya bangsa ini tak terlepas dari persamaan persepsi untuk menggapai asa dan cita-cita bangsa ini. Kemampuan komunal yang bisa melunturkan egosentris pemuda yang apatis."MARI BERBENAH"

Selamat Memperingati HSP ke-89
"Wahai pemuda,Sumpah Pemuda bukan sekedar seremonial belaka, jangan sampai melanggar sumpah hanya karena kesulitan melihat pagi".

Bangkitlah pemuda bangsa, masih banyak saudara kita yang mengharapkan sentuhan tangan kita. Salam Pemuda… #mariberbenah

*Penulis adalah Pemuda Tamiang, aktif dalam beberapa Inisiasi tulisan "Muda", Email: syahzevianda@unsyiah.ac.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.