Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, MAREEBA -- Hingga 100 ekor walabi telah terbunuh di lahan Mareeba Turf Club (lapangan pacuan kuda) di ujung utara Queensland. Para penjaga satwa liar yakin bahwa hewan mamalia (berukuran lebih kecil dari kanguru) ini ditembak dengan anak panah.

Dalam beberapa kasus, bayi walabi ini ditinggalkan menempel di kantong induk mereka yang sudah mati setelah pembunuhan massal tersebut.

Organisasi perlindungan hewan RSPCA sedang menyelidiki insiden tersebut setelah awalnya lebih dari 50 mamalia gesit ini ditemukan tewas pada hari Jumat (113/10) di Mareeba Turf Club.

Beth Stern, wakil presiden organisasi Penyelamatan Satwa Liar Tablelands, memberi tahu RSPCA setelah menerima telepon dari penjaga satwa liar yang tertekan karena menemukan mayat hewan tersebut.

"Ini telah terjadi selama beberapa minggu dan kami baru tahu tentang hal ini pada hari Jumat," kata Stern. "Ada hampir 100 walabi yang telah terbunuh."

Awalnya, pihak berwenang mengira hewan-hewan tersebut telah ditembak namun Stern mengatakan bahwa sebuah otopsi mengungkap kenyataan yang lebih brutal.

"Sejak itu, kami mengetahui ini bukan tembakan senjata, Dokter hewan percaya itu dari anak panah," katanya. "Seekor walabi tertentu tertembak di belakang, punggungnya patah dan kepalanya tertusuk.”

"Ini adalah adegan mengerikan bagi orang-orang yang peduli terhadap satwa liar," kata Stern.

Gunakan pagar kanguru untuk menjebak
Sekretaris Mareeba Turf Club, John Thurlow, membenarkan bahwa pembunuhan terhadap sejumlah walabi berlangsung.

Ia mengatakan, ada pagar kanguru yang dipasang di lahan klub sekitar sebulan lalu. "Kami membiarkan walabi itu terbiasa dengan pagar sebelum kami mengusir mereka," sebutnya.

"Seseorang telah menutup gerbang itu dan menggunakan pagar baru kami untuk menggiring mereka ke daerah di mana mereka bisa menembak hewan-hewan tersebut."

Bayi walabi ditinggalkan di kantong sang induk
Juru bicara RSPCA Queensland, Michael Beatty, mengatakan seorang inspektur lokal sedang menyelidiki pembunuhan tersebut.

"Ada bayi walabi yang tertinggal di kantong sang induk dan beberapa walabi meninggal karena terperangkap di pagar," sebutnya.

RSPCA telah menetapkan bahwa walabi itu tak dimusnahkan secara legal, dengan izin apapun. "Sayangnya, hewan tak bisa bicara sehingga kami mendesak siapapun yang memiliki informasi untuk melapor," kata Beatty.

Mereka yang memiliki informasi bisa menghubungi nomor telepon hotline RSPCA Queensland, di nomor 1300 264 625.

Kepolisian Queensland serta Departemen Perlindungan Lingkungan dan Warisan juga dibuat waspada akan insiden tersebut. [] republika, foto : ilustrasi

 

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.