Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SPORT -- Piala Dunia 2006, mereka melaju sampai babak 16 besar. Piala Dunia 2010, mereka berhasil menempati peringkat 2. Piala Dunia 2014, mereka berhasil menghuni 3 besar. Piala Dunia 2018, mereka bisa jadi hanya akan menjadi penonton.

Betul, kata “mereka” di atas mengacu ke tim nasional Belanda. Tim yang sekarang menempati peringkat 3 klasemen sementara Grup A. Melakoni sembilan pertandingan, pasukan Dick Advocaat mengumpulkan nilai 16 dengan agregat gol +7.

Arjen Robben dkk berada di bawah Prancis yang menghuni puncak klasemen dengan 20 poin dan Swedia di peringkat 2 (19 poin). Teorinya, Prancis dan Swedia memiliki peluang lolos langsung ke Piala Dunia 2018. Prancis bisa langsung terbang ke Rusia dengan status juara grup jika bisa mengalahkan Belarus di Stade de France, Paris, dini hari nanti, berapa pun skornya.

Namun, jika gagal menang sedangkan pada saat bersamaan Swedia mengalahkan Belanda, Les Bleus harus bertarung melalui babak play-off dan mengizinkan The Blue-Yellow melengang duluan sebagai juara grup. Sedangkan Belanda hanya bisa lolos ke play-off jika mengalahkan Swedia di Amsterdam Arena dengan agregat tujuh gol.

Kondisi yang membuat kapten Belanda Arjen Robben memilih berada di dua sisi. Pertama, dia menegaskan timnya akan terus berjuang sampai menit terakhir. Kedua, dia berpikir realistis dan memahami logika publik. “Kami harus tetap yakin sampai menit terakhir. Tapi, lebih baik saya mengatakan yang banyak orang pikirkan. Sangat tidak realistis bisa mengalahkan Swedia dengan skor besar. Lebih baik orang meninggalkan kalkulatornya di rumah,” kata Robben.

Pernyataan pemain Bayern Muenchen ini seperti mengubur optimisme tinggi Belanda yang masih sempat berambisi mendapatkan tiket Piala Dunia setelah melakukan pergantian pelatih dari Danny Blind ke Advocaat. Kehadiran Advocaat di membuat Belanda langsung mencatatkan kemenangan 5-0 atas Luksemburg. Namun, penyakit Oranje terpuruk lagi karena dibantai Prancis 0-4. Mereka bangkit lagi dan membuka peluang setelah mengalahkan Bulgaria 3-1.

Sayang, harapan lolos ke Rusia menjadi gelap gulita saat Swedia mengalahkan Luksemburg, 8-0, Sabtu (7/10), beberapa jam sebelum Belanda menundukkan Belarus 3-1. “Setelah melihat hasil Swedia, kami tidak bisa berbuat banyak. Sebab, mengalahkan Swedia 7-0 di kandang tidak akan terjadi,” ujarnya.

Memang, secara logika hampir mustahil Belanda bisa mendapatkan tiket play-off. Jika ini yang terjadi, kegagalan ini menambah catatan buruk setelah pada Piala Eropa 2016, Belanda gagal melewati fase kualifikasi.

Back to back absen di dua event besar, akan jadi periode tergelap sejarah sepak bola Belanda. Padahal, Belanda pernah mencatat bagaimana Johan Cruyff, Johan Neeskens dkk, mengguncang dunia dengan total football pada 1970-an, dilanjutkan masa Ruud Gullit dan Marco van Basten yang memberi inspirasi kepada Oranje meraih gelar juara Piala Eropa 1988.

Regenerasi berlanjut ke Patrick Kluivert, Dennis Bergkamp, Arjen Robben, dan Wesley Sneijder yang setidaknya membawa Belanda tetap bersaing di jajaran tim elite. Sekarang Belanda seperti kehilangan talenta.

Pemain-pemain muda, seperti Memphis Depay,24; Vincent Janssen,23; Davy Klaassen,24; dan Van Ginkel,24; gagal membawa Belanda menjaga stabilitas mereka di level elite. Kegagalan yang sebenarnya sudah terlihat di level klub, di mana mereka dikatakan gagal bertarung di kompetisi elite seperti Liga Primer atau Primera Liga.

Baik Advocaat atau Blind tetap menggunakan pemain-pemain senior, seperti Robben, Sneijder, Robin van Persie, Ryan Babel, meski dengan sistem on-off. “Swedia dulu baru dilihat nanti,” ujar Robben terkait masa depannya.

Sementara Advocaat yang sempat meragukan kemampuan Swedia mengalahkan Luksemburg delapan gol tanpa balas mulai bersikap realistis. “Realistisnya ini sangat sulit, tapi belum sepenuhnya berakhir,” ujar Advocaat kepada NOS. [] sindonews. foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.