Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, KARANG BARU -- Bipartit persoalan yang dihadapi Ida Ria S (46), korban PHK yang dilakukan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Tenggulun Kabupaten Aceh Tamiang, PT Nilam Wangi masih belum menemukan hasil kesepakatan pada keduabelah pihak.

Ida Ria S (foto) di PHK pada akhir Mei 2017 lalu sehingga pada 1 Juni Ida sudah tidak bekerja diperusahaan itu lagi. Kepada TamiangNews, Ida Ria S menyebutkan, PHK yang diterimanya merupakan sebuah kebijakan dari seorang Human Realision Depelopment (HRD) PT Nilam Wangi, Syaiful Heri.

Masih menurut Ida, akibat PHK dimaksud, HRD Syaiful Heri telah menciptakan munculnya polemik kasus yang tidak sesuai peraturan ketenagakerjaan.

"PHK ini atas kebijakan HRD, namun setelah saya tidak bekerja lagi, uang pesangon yang ditawarkan perusahaan kepada saya tersebut tidak sesuai dengan ketentuan," ujar Ida Ria S, Selasa (14/8/2018) di kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Aceh Tamiang.

Pantauan media ini, HRD PT Nilam Wangi, Syaiful Heri pada pertemuan Bipartit dengan Idah Ria S yang dipimpin kepala Disnakertrans, Yusbar tersebut, belum memenuhi permintaan Ida yang meminta uang pesangon senilai Rp. 145 juta.

"Kalau dihitung secara rinci pesangon saya mencapai Rp. 159 juta lebih. Namun saya meminta perusahaan agar membayar pesangon saya sebesar Rp. 145 juta saja, tapi itupun tidak juga dipenuhi," ujar Ida.

Dari nilai nominal yang diajukan Ida, ternyata pihak perusahaan hanya akan membayar Rp.120 juta, sehingga bipartit kedua ini harus tertunda kembali hingga bipartit ketiga pada Jumat mendatang.

Pantauan TamiangNews.com, dalam perundingan bipartit yang ke dua ini, sebelumnya Syaiful Heri menyampaikan bahwa PT Nilam Wangi akan membayar konfensasi pesangon Ida sebesar Rp. 95 juta yang selanjutnya naik menjadi Rp. 120 juta.

"Kalau meminta pesangon sebesar Rp. 145 juta, saya harus berunding kembali dengan pimpinan perusahaan," ujar Syaiful Heri. [] TN-W013

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.