Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, JAKARTA -- Belajar dari hasil penelitian yang dipimpin oleh Profesor Ronald Albert Harris dari Universitas Brigham Young University (BYU), Provo, Negara Bagian Utah, Amerika Serikat, beberapa gagasan mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami dapat menjadi acuan dalam penanggulangan bencana di Indonesia.

Penelitian tsunami purba berlangsung di beberapa wilayah di Jawa dan pulau-pulau Sunda kecil, sebutan dari Profesor Ron Harris. Melihat dari hasil penelitian, Ron Harris menggagas jargon 20-20-20.

"Angka itu bukan sekadar angka yang kemudian muncul begitu saja. Namun, angka ini berdasarkan kalkulasi saintifik yang memperhitungkan durasi gempa yang terjadi, kecepatan tsunami, dan wilayah evakuasi aman," ucap Ron Harris, seperti dikemukakan dalam keterangan tertulis Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Minggu, 6 Agustus 2017.

Lalu, apa itu 20-20-20? Jargon ini merujuk 20 detik gempa (5 km/det x 200 det = 100 km zona pecah), 20 menit evakuasi (tsunami velocity), dan 20 meter ketinggian (tsunami model menunjukkan 20 m gelombang run-up).

Namun, Ron menyampaikan bahwa gagasan terhadap pesan itu harus adaptable dengan konteks wilayah. "Mungkin saja di Ambon 20-10-20, atau di Bali 20-20-10," tutur Ron Harris dalam diskusi membahas mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami di Badan Meteorologi, Klimatoogi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat, 4 Agustus 2017.

Masih dalam konteks mitigasi, Ron Harris menceritakan bahwa kelompok masyarakat di Waingapu, Sumba Timur, tidak mengetahui sejarah tsunami di wilayahnya. Dia menjelaskan memang hal itu dapat terjadi karena generasi yang hidup di wilayah itu ketika siklus gempa bumi dan tsunami yang "tidur".

Ron menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian selama ini, yang menunjukkan siklus "tidur-bangun-tidur", dan mungkin "bangun" pada periode selanjutnya. "Atau, masyarakat di Bali yang tidak mengetahui bahwa mereka hidup di bekas endapan tsunami purba," ujar dia.

Mungkin selama ini, sang profesor mengingatkan, sebagian besar masyarakat menandai tsunami pasca-gempa bumi besar. Padahal, gempa yang tidak terasa besar, namun berdurasi lama dapat menyebabkan tsunami mematikan.

Sementara itu, ketika masyarakat diberikan kuesioner mengenai pendekatan apa yang diinginkan saat peringatan dini. Sebagian besar masyarakat di Pelabuhan Ratu, Pacitan, dan Pangandaran memilih sirene.

Namun yang terjadi, apakah semua sirene yang terpasang berfungsi secara baik? Di sisi lain, ketika warga mengetahui papan mengenai arah evakuasi saat gempa besar dan tsunami, pertanyaan kritis yang muncul mengenap kapan mereka harus evakuasi? [] liputan6.com, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.