Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, LINGKUNGAN -- Jika selama ini rumput laut dijual dalam keadaan mentah, di Kabupaten Banteng, Sulawesi Selatan, tumbuhan yang banyak ditemukan di pesisir pantai ini diolah menjadi beragam produk olahan konsumsi hingga pupuk organik. Kemasannya pun tak kalah bersaing dengan produk-produk pabrikan yang dijual di swalayan.

Ketika berkunjung ke rumah produksi rumput laut ini di Sentra Produksi Rumput Laut Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemkab Bantaeng, Rabu (26/7/2017) saya disambut oleh Rosmini, pendamping kelompok dan Sri Wahyu Ningsih serta Sidar, anggota Kelompok Fitra, salah satu kelompok binaan dinas. Ketiganya begitu bersemangat memperlhatkan beragam produk olahan yang sudah siap jual. Salah satu produknya dinamakan ‘Kaktus’.

“Ini dinamakan ‘kaktus’ karena bentuknya yang bergerigi seperti berduri sebagaimana halnya tanaman kaktus. Ini termasuk produk unggulan dan paling banyak diminati. Kita jual Rp10 ribu per bungkus,” jelas Rosmini, yang juga Kepala Seksi Kemitraan dan permodalan di DKP Bantaeng.

Ia mempersilahkan saya mencicipi keripik tadi. Rasanya memang sangat gurih dan enak. Bumbunya terasa di lidah. Hanya saja agak keras ketika dikunyah. “Kalau agak keras mungkin campuran rumput lautnya yang terlalu banyak,” jelas Rosmini.

Untuk memproduksi keripik yang agak renyah memang butuh kombinasi yang tepat. Terlalu banyak bahan rumput lautnya akan membuat keripiknya agak keras. Rumput laut biasanya dicampur tepung beras ketan dengan perbandingan 1 : 10. Untuk 100 gram tepung rumput laut harus dicampur dengan 1 kg tepung beras ketan. Ini bisa menghasilkan 13 bungkus keripik.

Selain Kaktus , ada 15 produk makanan riangan lainnya, seperti Narutob, Rulika, Narut, dan Chesstick.

“Sebenarnya masih banyak jenis produk lainnya, ada sekitar 15 produk secara keseluruhan, cuma memang yang di display ini yang paling laku dan banyak pesanannya. Semuanya adalah produksi kelompok, baik yang merupakan binaan dinas secara langsung ataupun tidak,” jelas Rosmini.

Terkait kemasan dan desain produk, diakui Rosmini, adalah bantuan dari Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ristek/BPPT dua tahun silam. Semuanya masih dibagikan secara gratis kepada kelompok-kelompok dampingan dinas.

“Kalau produksinya sih sebenarnya sudah lama namun dikemas secara menarik baru dua tahun silam bantuan dari BBPT. Selain kemasan juga ada bantuan-bantuan lain berupa alat-alat produksi dan alat pengemasan. Ada juga berupa motor niaga yang biasa kami gunakan untuk menjual di pinggir-pinggir jalan.”

Sentra Produksi ini memang dipenuhi beragam peralatan produksi dan pengemasan. Konsep awalnya tempat ini menjadi pusat produksi seluruh kelompok dampingan dinas. Hanya saja belakangan tak semua kelompok bisa menggunakan berbagai peralatan tersebut.

“Kendalanya pada lokasi kelompok yang jauh dari kota. Untuk datang ke sini mereka harus datang dari jauh makanya kemudian produksi tetap dilakukan di daerah masing-masing, sementara pengemasannya tetap dilakukan di sini,” jelas Rosmini.

Agar produk anggota kelompok tersebut sesuai standar, DKP Bantaeng secara rutin melakukan kunjungan ke kelompok-kelompok tersebut, tidak hanya melakukan pengawasan mutu namun juga membantu mereka dalam hal produksi.

“Adik-adik yang ada di sini sering berkunjung ke kelompok-kelompok tersebut. Kita tetap jaga agar kualitas produk terjamin,” tambah Rosmini.

Sebagai binaan dari DKP Pemkab =Bantaeng, dukungan terhadap sentra produksi ini cukup banyak. Selain dari BPPT, pihak lain yang banyak membantu adalah DKP Pemprov Sulsel, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan sejumlah instansi lainnya.

“Kalau dari DKP Sulsel kita banyak dibantu dengan kegiatan pelatihan-pelatihan untuk pengembangan produk, mutu hasil dan pemasaran. Bulan lalu bahkan kita ikut pelatihan dua kali,” jelas Rosmini.

Selain produk olahan rumput laut, di Sentra Produksi Rumput Laut ini juga diproduksi pupuk yang berasal dari bahan dasar rumput laut. Dinamakan Bio Care Max yang dijual dalam bentuk kemasan plastik dan jerigen.

Untuk mengolah rumput laut menjadi beraneka macam produk ternyata prosesnya cukup sederhana, meski ada perlakuan khusus.

Menurut Sri Wahyu Ningsih, anggota Kelompok Fitra, rumput laut yang akan digunakan harus diseleksi dengan baik. Setelah terkumpul sesuai dengan kebutuhan rumput laut ini kemudian dicuci. Prosesnya bisa mencapai dua hari.

“Setelah produknya jadi langsung masuk dalam proses pengemasan. Proses akhirnya adalah dimasukkan dalam Water Cold Dispenser.”

Produk olahan rumput laut ini bisa bertahan hingga tiga bulan, meski sejumlah produk hanya bisa bertahan selama sebulan saja. “Kalau lewat tiga bulan rasanya sudah berubah dan melempem. Sudah tak enak lagi,” ungkap Sri.

Menurut Rosmini, seluruh produk mereka ini sudah memiliki PIRT dari Dinas Kesehatan dan label Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), sehingga layak dipasarkan secara luas.

Tantangan utama produk ini adalah pada pemasaran yang masih terbatas. Sebagian besar pembeli masih merupakan tamu-tamu Pemda dari luar. Meski sudah ada dititip di took-toko namun masih terbatas.

“Sebenarnya sudah ada tawaran dari carrefour di Makassar. Mereka sudah minta sampel, namun belum kita tindak lanjuti,” ujar Rosmini.

Tantangan untuk produksi lebih pada cuaca. Belum ada mesin pengering khusus, sehingga masih sangat tergantung pada terik matahari. Semua proses produksi juga masih manual.“Kalau cuaca matahari tidak terik jelek juga hasilnya.”

Selain aneka macam kerupuk, produk lainnya yang bisa dihasilkan adalah dodol dan sirup. Dulu dua jenis ini bahkan produk andalan, meski produksinya terkendala cuaca yang tak menentu.

Menurut Rosmini, beragam produk olahan rumput laut ini bisa jadi alternatif jajanan untuk murid-murid sekolah. Tidak hanya sehat namun juga terjangkau secara harga. Sebungkus kerupuk hanya seharga Rp5.000 – Rp10.000,-, tergantung pada ukurannya.

Produk-produk dari sentra produksi ini telah mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Secara nasional, salah satu kelompok dampingan mereka, yaitu Kelompok Alagae bahkan pernah mendapat juara pertama untuk jenis produk olahan.

Mereka juga telah mendapat kunjungan belajar dan magang dari berbagai pihak dan daerah seperti Gunung Kidul, Bitung, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. [] mongabay.co.id. foto : ilustrasi.

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.