Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, TENGGULUN -- Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Rengas di Dusun Adil Makmur I Kampung Tenggulun Kecamatan Tenggulun kondisinya kian memprihatinkan, kondisi miris itu diakibatkan ulah pengusaha penambang galian C di sepanjang DAS sungai Rengas.

Selain rusaknya DAS dan rusaknya badan jalan yang diakibatkan oleh mobil dum truk (DT) pengangkut batu kali, berdampak warga menjadi meradang akibat lahan kebun sawit mereka banyak erosi dan terkikis yang disebabkan ulah pengusaha yang diduga terindikasi curang dan diduga ilegal.

"Jalan yang mereka lalui untuk mengambil hasil yang diduga secara ilegal tersebut tanpa dirawat. Ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut," ujar warga setempat, Nurdin saat ditemui Tamiang News, Sabtu (22/07).

Nurdin menjelaskan, setidaknya ada dua perusahaan besar berbadan usaha PT yang beroperasi didarahnya, yakni PT Ajas dan PT Bohana Putra, selain itu ada juga galian C mengatasnamakan perseorangan. Kedua perusahaan dimaksud tidak berkantor di kampung tersebut.

"Penghentian truk bermuatan batu kali itu terjadi pada Kamis (20/07) saat salah satu mobil truk tersebut terperosok di lobang yang mengangah yang tidak jauh dari Masjid Al-Badar Dusun Adil Makmur 1, yang jelas ada sejumlah orang warga yang memihak perusahaan yang sengaja beradu argemen dengan warga", tegas Nurdin.

Dugaan itu kata Nurdin, disebabkan orang orang tersebut terindikasi memiliki kepentingan keuntungan pribadi dan kelompoknya, sehingga mengabaikan kepentingan masyarakat umum.

"Ini jelas melanggar keputusan bersama Datok Penghulu Kampung Tenggulun dan Majelis Duduk Setikar Kampung Tenggulun (MDSK) Nomor 27/2017 tanggal 5 Pebruari 2017 yang ditandatangani Datok setempat, Abdullah Sani saat beliau menjadi Datok", ujar nurdin lagi.

Dalam musyawarah tersebut imbuh Nurdin dihadiri ketua MDSK dan anggota, Melanggar keputusan bersama Datok Penghulu Kampung Tenggulun dan Majelis Duduk Setikar Kampung Tenggulun (MDSK), Ketua LKMK dan anggota, Imam Desa, Imam Dusun Khatib, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat yang inti dari musyawara itu membahas tentang galian C di Kampung setempat.

Sambung Nurdin, pasca kejadian itu, perusahaan abu-abu dimaksud sudah menarik semua anggotanya sehingga tidak ada lagi kegiatan penambangan galian C di sepanjang Sungai Rengas.

Meskipun pihak perusahaan tidak dapat ditemui, namun TamiangNews berhasil menemui salah seorang warga setempat, Sujono yang mengaku sebagai kerani pencatat jumlah trip yang diangkut keluar oleh mobil DT.

"Saya hanya orang pekerja PT. Boahana yang ditugaskan untuk menghitung trip kendaraan. Jadi saya tidak tau soal legalitas perusahaan yang mengambil batu disini", ujar Sujono yang juga mengaku sebagai anggota LSM. Sayang, diduga LSM nya tersebut tidak dimanfaatkan untuk membela kepentingan orang banyak. [] TN-W013

Foto : Kondisi tingkat kerusakan DAS dan lingkungan sungai Rengas.

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.