Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, KARANG BARU -- Tim Inspektorat Kabupaten Aceh Tamiang melakukan audit khusus selama 6 hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang terkait dugaan utang obat di tahun 2016 sebesar Rp 1,1 Miliar. Hal tersebut disampaikan Plt Kepala Inspektur Kabupàten Aceh Tamiang Fadilluk Tahir, SE kepada TamiangNews, Kamis (13/07).

"Audit tersebut dilakukan selama enam hari yang dimulai dari tanggal 4 Juli 2017 dan audit dilakukan oleh tiga orang yakni Erwin sebagai ketua tim, M. Nuh dan Asnawati sebagai anggota", jelasnya.

Menurutnya audit khusus terhadap RSUD Aceh Tamiang dilakukan berdasarkan perintah dari Bupati Aceh Tamiang terkait dugaan utang obat RSUD yang kedua di tahun 2016 sebesar Rp 1,1 Miliar setelah sebelumnya berdasarkan laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK RI, RSUD Aceh Tamiang juga memiliki utang obat sebesar Rp 643 Juta. Audit ini bertujuan untuk melihat kelengkapan dokumen dan kebenaran terkait adanya dugaan utang obat yang dilakukan oleh pihak RSUD Aceh Tamiang yang masih berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) bertahap.

"Hasil audit ini akan dilaporkan kepada Bupati Aceh Tamiang, kalau ada kebocoran, pimpinan akan memerintahkan manajemen RSUD untuk mengembalikan dan kalau tidak ditemukan kebocoran, Inspektorat Kabupaten Aceh Tamiang akan membuat rekomendasi kepada pihak terkait untuk membayar utang obat tersebut", jelas Fadilluk Tahir.

Seperti yang diberitakan TamiangNews sebelumnya, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang memiliki utang sebesar Rp 1,6 Miliar kepada distributor obat. Adanya utang sebesar itu terungkap berdasarkan dari laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK RI tahun 2016 dan audit yang dilakukan oleh Satuan Pengawas Internal (SPI) RSUD Aceh Tamiang.

Dari LHP BPK RI tahun 2016 RSUD Aceh Tamiang memiliki utang obat sebesar Rp 643 Juta dan dalam perjalanan muncul lagi utang sebesar Rp 1,1 Miliar yang mengharuskan Satuan Pengawas Internal (SPI) RSUD Aceh Tamiang melakukan audit.

Informasi yang berkembang, pagu anggaran pembelian obat RSUD Aceh Tamiang tahun 2016 mencapai Rp 12 miliar namun hasil audit BPK ditemukan hutang obat yang belum dibayar Rp 643 juta. Selintingan dikabarkan saat audit internal RSUD ditemukan lagi utang yang belum dibayar mencapai Rp 1,1 Miliar sehingga menjadi tandatanya kenapa bisa muncul hutang lagi padahal saat audit BPK, utang sudah diketahui. [] M. Hendra Vramenia (TN-W004)

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.