Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, TENGGULUN -- Puluhan Kepala keluarga (KK) di dua permukiman di Dusun Lama, Blok 40 dan Blok 30, Kampung Selamat Kecamatan Tenggulun Kabupaten Aceh Tamiang, belum pernah merasakan mandi, cuci dan mengkonsumsi air bersih yang memiliki standar layak untuk digunakan untuk barbagai kebutuhan hidup bagi mereka dan segenap keluarganya.

Seperti halnya yang terjadi di Blok 40, air yang dimanfaatkan untuk segala kebutuhan rumah tangga di Blok 40 tersebut didapatkan dari parit buntu berukuran tidak lebih dari 1.5 meter x 3 meter di kebun kelapa sawit warga yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.

Amatan TamiangNews, air parit yang tidak pernah bertukar karena tidak ada saluran atau mata air tersebut sudah bercampur dengan air sabun bekas cucian pakaian serta mencuci badan, sehingga yang dimanfaatkan oleh warga hanya yang itu itu saja. Sehingga warnanya menjadi putih keruh dan dapat dipastikan sangat jauh dari bersih dan sehat.

"Disini tidak bisa dibuat sumur karena dibawah permukaan tanah ada batu cadas yang tidak dapat ditembus dengan cangkul atau linggis," ujar warga setempat, Arifin kepada TamiangNews, Minggu (30/07) sore.

Pada akhirnya, imbuh Arifin, sebanyak 28 KK warga yang mendiami dusun Blok 40 dan puluhan KK warga Blok 30 hanya berpasrah diri dan tidak mampu berbuat lebih sehingga harus relah dan terpaksa dengan memanfaatkan air yang tidak sehat dan tidak layak konsumsi itu.

"Pada tahun 1980 lalu, kami dan beberapa keluarga lain membuka lahan perladangan dan perkampungan disini. Jadi dari jaman dulu airnya ya seperti ini," ujar Misnah (65) dan ibunya, Markamah (79) yang sedang membersihkan diri di parit itu ketika menjawab media ini.

Dijelaskannya, air yang diperuntukkan khusus dikonsumsi, untuk menghindari agar air tidak bercampur dengan sabun, disamping nya dibuat kolam mini berukuran 1 X 1 meter dengan diberi penyekat pematang tumpukan tanah sebagai pemisah antara air bersabun yang dipergunakan untuk mandi cuci dengan air untuk dikonsumsi.

"Air yang untuk masak makanan dibuat seperti sumur sumuran, itu yang disebelah situ," ungkap Misnah seraya menunjuk kearah tempat yang dimaksudnya.

Dampak dan resiko yang ditimbulkan dari memanfaatkan air yang tidak layak dan disinyalir mengandung berbagai bakteri, kedua ibu dan anak ini menyebutkan sering mengalami rasa gatal gatal pada kulitnya.

"Kalau gatal dikulit ya memang sering sekali kami merasakannya. Soalnya air yang ukurannya hanya sedikit ini, selain didunakan untuk mandi dan cuci, juga untuk pemandian itik atau bebek. Sedih pak kalau hidup tidak ada air bersih," sebutnya.

Cerita miris dari Misnah dan Markamah bahwa warga disana sering mengalami rasa gatal gatal pada kulit tubuh karena menfaatkan air untuk membersihkan diri dan mencuci pakaian yang juga digunakan untuk mandi itik itu dibenarkan oleh Arifin dan sejumlah kaum warga lainnya.

"Apalagi kalau pada musim kemarau, aroma airnya pun sangat tidak sedap, warnah airnya berubah dari warna aslinya. Air tersebut juga dimanfaatkan sebagai tempat mandi bebek peliharan dan kera liar," imbuhnya.

Data dan amatan lapangan berhasill dikumpulkan, sulitnya untuk mendapatkan air bersih yang sehat dan layak konsumsi, bukan saja dialami oleh warga di Blok 40 saja, Hal sama juga terjadi dan dialami masyarakat yang berdomisili di Blok 30 didusun yang sama, Dusun Lama Gampong Selamat.

Warga didua Blok yang berbeda lokasi dengan jarak tempuh sekira 1 kilometer ini berharap uluran tangan pemerintah agar dipermukimannya dibangun fasilitas air bersih yang layak konsumsi.

"Sejak dulu, kami segenap warga di Blok 30 dan 40 sangat mendambakan adanya jaringan air bersih dikampung kami ini. Anak anak kami juga kan memiliki hak untuk bisa menikmati hidup yang bersih dan sehat layaknya anak anak yang hidupnya didarah kota dan daerah kampung yang kaya dengan air bersih," kata Arifin.

Orang bernama lengkap Arifin Siregar beserta warga lainya berharap keluhan masyarakat didaerahnya bisa didengar dan dibaca pemerintah maupun anggota DPRK Aceh Tamiang.

"Semoga mata dan hati mereka bisa terketuk dan terbuka untuk melihat dan memperhatikan keadaan kehidupan kami yang miskin dengan air bersih. Setidaknya kami juga rakyat yang telah berkontribusi memberikan hak suara kami pada Pilkada memilih Bupati dan Gubernur, maupun Pileg untuk memilih anggota DPR," pungkas Arifin. [TN-W013]

Foto : Dua orang ibu ini, warga Blok 40 Dusun Lama Gampong Selamat, Tenggulun sedang mandi di parit.

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.