Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, BANDA ACEH - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan mengakui kapasitas atau daya listrik di Aceh saat ini masih kurang, sehingga selama ini kerap terjadi pemadaman bergilir pada waktu tertentu tatkala ada pembangkit listrik yang rusak atau perawatan. Ia berharap, persoalan tersebut bisa selesai sebelum 2019.

“Semoga pemadaman (bergilir) selesai, mudah-mudahan bisa selesai sebelum 2019. Apa persoalannya, ya itu, kapasitasnya kurang, masyarakat berkembang kebutuhan listrik pun terus berkembang,” kata Ignasius Jonan saat diwawancarai usai memberi kuliah umum di gedung AAC Dayan Dawood Unsyiah, Jumat (21/7).

Solusi untuk persoalan listrik Aceh, katanya, adalah penambahan daya atau kapasitas, sehingga persoalan klasik yang selama ini dirasakan masyarakat yaitu pemadaman bergilir bisa teratasi. Ia mengatakan, sudah sejak lama pembangkit listrik yang dialokasikan itu memang tidak cukup (kapastitasnya). “Solusinya memang nambah kapasitas,” ujarnya.

Selain itu, cadangan kapasitas di Aceh juga kurang, selama ini cadangan tersebut dalam keadaan siaga. Nah, menurutnya, cadangan siaga biasanya di bawah 30 persen. “Jadi kalau ada yang rusak atau perawatanlah kita bilang, pasti dapat pemadaman bergilir, di mana saja, makanya ini perlu kita tambah,” sebut Jonan.

Soal rencana penambahan daya listrik untuk Aceh juga pernah disampaikan oleh Wakil Menteri ESDM, Archandra Tahar PhD saat berkunjung ke Aceh, Sabtu 9 April 2017. Saat itu, di tempat yang sama, usai memberi kuliah umum tentang energi, Archandra mengatakan, penambahan daya listrik untuk Provinsi Aceh menjadi prioritas ESDM dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

“Penambahan daya listrik di Aceh menjadi prioritas kita, tapi ini perlu waktu. Akan ada pembangkit listrik yang baru, ini semua sudah direncanakan,” kata Archandra kepada wartawn saat itu.

Kemarin, kehadiran Menteri ESDM, Ignasius Jonan ke Aceh dalam rangka memberi kuliah umum dalam seminar potensi gas blok A sebagai pembangkit listrik untuk Aceh dan Sumatera Bagian Utara. Seminar itu diselenggarakan oleh Unsyiah, Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), dan PLN.

Dalam kuliah umumnya, Jonan juga mengatakan, selama ini Aceh merupakan bagian jaringan pembangkit listrik Aceh-Sumut.

Pada 2018 nanti, katanya, tidak ada lagi jaringan listrik perprovinsi, pemerintah akan membuat jaringan tersebut per pulau yang membawahi beberapa provinsi. “Akan ada transmisi Pulau Sumatera, sehingga pembangkitnya mau di mana saja sama. Kalau jaringan Pulau Sumatera ini jadi, tidak usah khawatir, semuanya jadi satu,” sebutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Jona juga mengatakan, pihak ESDM bekerja sama dengan pihak terkait akan membangun empat SPBU Kompak yang akan dibangun di dua kabupaten di Aceh, yakni di Aceh Barat dan Gayo Lues. Pembangunan SPBU Kompak itu, agar BBM dijual dengan harga yang sama.

Ada beberapa hal yang akan terus dibenahi pemerintah di Aceh dalam rangka pembangun energi sumber daya mineral yang prinsipnya berkeadilan dengan memihak kepada masyarakat. “Tahun ini kita juga akan tambah jaringan gas ke 2.000 rumah di kota Lhokseumawe, sebelumnya dari 2009 sampai 2016 sudah kita bangun sebanyak 4.000 rumah,” pungkas Jonan.

Kuliah umum, kemarin turut dihadiri Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Ketua DPRA Tgk Muharuddin dan Wakil Ketua DPRA Sulaiman Abda, Presiden Direktur PT Medco Energi Hilmi Panigoro, Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal, dan Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) Marzuki Daham.

Menteri Jonan juga bertemu dengan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf di ruang tunggu VIP Bandara SIM, Blang Bintang, Aceh Besar. Saat itu, Irwandi baru saja landing setelah menempuh perjalanan dari Aceh Singkil untuk melantik Bupati dan Wakil Bupati Aceh Singkil. “Sedangkan Jonan akan kembali ke Jakarta setelah mengisi kuliah umum di Unsyiah,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol Pemerintah Aceh, Mulyadi Nurdin Lc MH. [] serambinews.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.