Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, LINGKUNGAN -- Puluhan perempuan muda dengan t-shirt pink, terlihat antusias menjelaskan pemanfaatan sedotan bekas kepada pengunjung pameran di halaman UPT Bahasa Universitas Tanjungpura Pontianak, Kalimantan Barat. Pameran bertema Waste to Wealth pada 12 Juli 2017 itu, merupakan rangkaian program Go Kalimantan Girls yang dihelat Mei, sebelumnya.

“Program ini bertujuan untuk pemberdayaan perempuan di Pontianak, dan Kalimantan keseluruhan. Peserta adalah perempuan usia 18 hingga 25 tahun,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis Bahasa, Stella Prancisca, kepada Mongabay Indonesia. UPT Bahasa membawahi American Corner, yang menjadi fasilitator program tersebut.

Sekitar 40 dara muda, dalam dua gelombang mendalami waste management, khususnya mengubah fungsi sampah menjadi barang bernilai ekonomi. Selain itu, mereka juga diedukasi menjadi agen perubahan lingkungan di masyarakat. “Mereka juga berperan mengatasi isu-isu lingkungan dan kemiskinan,” tambahnya.

Pameran ini mendapatkan kunjungan Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Joseph R Donovan. Donovan yang didampingi Rektor Universitas Tanjungpura, Thamrin Usman, antusias dengan berbagai barang kerajinan yang dipamerkan.

Di salah satu booth, Donovan menduduki kursi yang terbuat dari ban bekas. “(Bangku) ini bahkan lebih nyaman dari kursi kantor saya,” selorohnya. Donovan juga mengagumi gaun buatan peserta yang terbuat dari kulit jagung.

Dalam perbincangan terbatas, Donovan mengungkapkan bahwa Amerika Serikat tetap peduli pada isu perubahan iklim, walau Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, keluar dari kesepakatan iklim Paris 2015. “Keluarnya AS dari perjanjian perubahan Iklim di Paris (Paris Agreement) tahun ini tidak akan membuat komitmen Amerika Serikat berkurang untuk mengkampanyekan pelestarian lingkungan di Kalimantan Barat,” ujarnya.

Donovan menjelaskan Amerika Serikat memutuskan keluar dari kesepakatan, karena merasa tidak adil bagi pembayar pajak di negaranya. “Amerika Serikat tetap memimpin pelestarian dan perlindungan lingkungan. Terbukti, Amerika dapat menurunkan emisi karbon dalam lima tahun terakhir sebanyak 11,5 persen,” ungkapnya.

Awal Juni, Trump mengumumkan pengunduran diri negaranya dari kesepakatan iklim Paris 2015. Kesepakatan ini mengikat Amerika Serikat dan 187 negara untuk menjaga kenaikan temperatur global ‘jauh di bawah’ 2 derajat Celcius (3,6 derajat Fahrenheit) dan ‘berupaya membatasi’ pada 1,5 derajat Celcius.

Donovan menambahkan, Amerika Serikat juga mengembangkan kerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan ekonomi hijau. “Tadi malam saya bertemu Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sandjaja, membahas kerja sama lingkungan hidup dan kesehatan. Salah satunya, perlindungan gambut,” katanya. Dalam salah satu programnya, Amerika Serikat dan Indonesia berkomitmen memberdayakan perempuan dan anak menjadi entreprenuer hijau.

Agen perubahan

Upaya gerakan hijau memerlukan komitmen yang kuat. “Dengan komitmen bersama, gerakan menjadi besar. Bahkan bisa menjadi tren,” ujar Adela Zakiyatunisa, pendamping para peserta Go Kalimantan Girls.

Adela adalah salah satu founder komunitas peduli lingkungan lintas negara. Dia membuat project dengan nama Green Amplifier. Green Amplifier Camp merupakan proyek kolaborasi alumni pertukaran pemuda ke Amerika dari empat negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Filipina). Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pemuda Pontianak terhadap isu lingkungan melalui aktivitas yang menyenangkan.

Alumni Young South East Asian Leaders Initiative (YSEALI) Academic Fellowship Program di University of Montana ini selalu membawa botol minuman ketimbang membeli air kemasan. Dia juga berkomitmen tidak menggunakan sedotan, sebagai upaya mengurasi sampah plastik. Hal ini dilakukannya setelah melihat video penyu yang dioperasi karena lubang hidungnya kemasukan sedotan plastik.

Nurhasanah, peserta Go Kalimantan Girls, berharap kegiatan pemberdayaan perempuan muda terus berlanjut. Perempuan asal Sambas ini mengatakan, belum banyak masyarakat yang mengerti bahwa sampah mempunyai nilai ekonomis. Dia memandang, kemandirian ekonomi perempuan sangat penting.

Kelompoknya, Himawari, bahkan mendapatkan penghargaan khusus dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. Hasil karyanya dinilai unik dan mewakili budaya Kalimantan Barat. Kelompok Nurhasanah membuat tas dari bekas sedotan minuman. Tas tersebut mempunyai motif etnis mayoritas yang ada di Kalimantan Barat, Melayu, Dayak, dan Tionghoa. Selain tas dari sedotan es, Himawari juga memproduksi bantal sofa, bunga dari karung bawang, botol sirup hias untuk pot bunga, bros, baju barbie seperti pengantin, tempat permen, dan tas pensil.

Masa depan

Hasil kerajinan tangan peserta workshop tersebut, tak lepas dari kontribusi Suharti (50), guru keterampilan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Terbuka di Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas.

Dari tangan Suharti, lahir produk yang mempunyai nilai jual tinggi, walau dari barang bekas. “Saya mengajar keterampilan ini, berharap peserta didik bisa meningkatkan ekonomi keluarga,” ujar ibu tiga anak ini.

Hasil karyanya cukup banyak. Dia bisa berkreasi dengan sedotan, karung bawang, tali rami, botol atau gelas bekas minuman. Hasil karya siswanya, biasa dipasarkan melalui pameran atau pesanan khusus. Untuk tas dari sedotan, dijual mulai harga Rp60 ribu hingga Rp200 ribu. Hasil penjualan, sebanyak 30 persen untuk siswa dan sisanya untuk sekolah, dipotong harga bahan baku pendukung.

Stella Prancisca menambahkan, kegiatan pemberdayaan perempuan usia muda merupakan hal penting mencetak generasi perempuan produktif dan berwawasan. Mereka bisa mandiri, walau tidak bekerja di sektor formal. “Tak hanya kemandirian finansial, pengetahuan lingkungan yang ditanamkan, diharapkan menjadi bekal mereka mendidik anaknya sebagai pribadi yang peduli lingkungan,” tandasnya. [] mongabay.co.id. foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.