Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, KARANG BARU -- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang memiliki utang sebesar Rp 1,6 Miliar kepada distributor obat. Adanya utang sebesar itu terungkap berdasarkan dari laporan hasil pemeriksaan (LHP) BPK RI tahun 2016 dan audit yang dilakukan oleh Satuan Pengawas Internal (SPI) RSUD Aceh Tamiang. Dari LHP BPK RI tahun 2016 RSUD Aceh Tamiang memiliki utang obat sebesar Rp 643 Juta dan dalam perjalanan muncul lagi utang sebesar Rp 1 Miliar yang mengharuskan Satuan Pengawas Internal (SPI) RSUD Aceh Tamiang melakukan audit.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh TamiangNews.com dari berbagai sumber mengatakan sampai saat ini utang tersebut belum dibayar sehingga terancam diblack list oleh beberapa perusahaan obat. Menyikapi hal ini Pemda Aceh Tamiang melalui Inspektorat sedang melakukan audit khusus terkait utang obat tersebut.

Direktur RSUD Aceh Tamiang Ibnu Azis, SKM ketika dikonfirmasi TamiangNews beberapa waktu lalu membenarkan bahwa rumah sakit yang dipimpinnya di tahun 2016 memiliki utang obat sebesar 1,6 Miliar.

"Utang obat RSUD Aceh Tamiang di tahun 2016 lebih sedikit jika di bandingkan tahun-tahun sebelumnya, padahal pasien yang berobat ke RSUD Tamiang di tahun 2016 melonjak drastis sebanyak 1.000 orang setiap bulan sejak rumah sakit ini memiliki 32 spesialis", ujarnya.

Menurutnya, terjadinya utang obat disebabkan pihaknya melakukan pemesanan obat di penghujung tahun 2016, akibat membludaknya pasien rumah sakit. ”Pasien yang berobat ke RSU Tamiang melonjak drastis sebanyak 1.000 orang setiap bulan, sejak rumah sakit ini memiliki 32 spesialis", ujarnya.

Obat yang dibeli semua kebutuhan BPJS, namun untuk membayar utang tersebut harus dilakukan audit khusus terlebih dahulu oleh pihak Inspektorat Kabupaten Aceh Tamiang. Setelah itu baru bisa dibayar dengan menggunakan dana RSUD Tamiang yang suplus Rp 6,9 Miliar. “Sekarang jauh lebih simpel karena sejak tahun 2016 RSUD Aceh Tamiang sudah menggunkan sitem badan layanan unit daerah (BLUD) sehingga dapat dibayar langsung utang obat tersebut”, ujar Ibnu Azis.

Sampai saat ini perusahaan yang berutang obat masih memberikan utang obat kebutuhan rumah sakit karena sebelumnya lancar pembayaran, memang ada perusahaan tertentu yang memberi tenggang waktu pembayaran untuk obat-obat tertentu, misalnya jika dalam waktu tiga bulan tidak dibayar, obat tersebut “dikunci” alias tidak bisa dipesan .

Namun pihaknya menyiasati dengan menggunakan perusahaan obat cadangan lain, dengan membeli obat yang sama manfaatnya dengan perusahaan sebelumnya, tentunya setelah konsultasi dengan dokter bersangkutan.

Informasi berkembang, pagu anggaran pembelian obat RSUD Aceh Tamiang tahun 2016 mencapai Rp 12 miliar namun hasil audit BPK ditemukan hutang obat yang belum dibayar Rp 643 juta. Selintingan, dikabarkan saat audit internal SPI RSUD ditemukan lagi utang yang belum dibayar mencapai Rp 1 miliar sehingga menjadi tanda tanya kenapa bisa muncul hutang lagi padahal saat audit BPK utang sudah diketahui. [] M. Hendra Vramenia (TN-W004)

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.