Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, LINGKUNGAN -- Muhammad Nur, seorang pegawai negeri sipil yang sehari-hari mengajar di sekolah dasar di Tanjung Lebam, Kabupaten Bengkalis, Riau. Kala waktu luang setelah mengajar, dia berkebun. Pria 49 tahun ini punya kebun sekitar 16,25 hektar di lahan gambut dengan kedalaman rerata lima sampai delapan meter.

Pada 2008, kebun sawit sekitar tiga hektar terbakar. Api dari perkebunan tetangga. Kebun Nur di kelilingi lahan tidur dan perkebunan sawit skala besar.

”Masyarakat daerah sini, tak biasa membakar, jadi tak tahu siapa yang membuat api itu,” katanya, Mei lalu.

Lahan bekas terbakar pun kebanjiran selama empat bulan. Tak bisa tanam sawit lagi. Awalnya, Nur menanam karet. Ikut-ikutan warga lain, sebagian lahan tanam sawit. ”Katanya sawit tiga tahun berhasil, sampai sekarang belum juga.”

Pada 2010, lahan satu hektar tanam jelutung dan jadi lokasi penelitian ilmuwan Jepang bersama dengan peneliti Universitas Riau. Sejak itu, lahan tak pernah terbakar. Gambut tetap basah.

Pada 2013, kebakaran cukup besar kembali terjadi di Tanjung Leban. ”Perkebunan karet kami terbakar.” Lahan sempat lapang karena bimbang mau tanam apa.

Lalu 2014, Pusat Studi Bencana Universitas Riau, berkunjung ke perkebunan Nur. Saat itu, bekas lahan terbakar masih semak-semak. PSB Unri menganjurkan menanam komoditas asli gambut.

Dulu, dia sempat tanam tanaman keras. Sekarang, kembali dia lakukan dengan menanam jelutung, menangan, meranti, pelawan, ramin dan pisang-pisangan, dan kayu kelat.

“Supaya generasi muda nanti tahu tanaman ini pernah hidup di sini. Saya tak pernah berpikir tanaman ini akan saya tebang. Ini memang untuk penelitian,” katanya.

Dari Kementerian Lingkungan Hidup dengan hibah dari luar negeri, ASEAN Peatland Forest Project (IFAD-GEF) pada 2014 dan UNDP 2015 membangun sekat kanal dalam tata air ekosistem gambut selebar 70 meter dan panjang 414 meter sebanyak dua jalur.

Kata Nur, lahan jadi lembab dan tak mudah terbakar. Efektivitas pembasahan tinggi muka air pun dikontrol oleh masyarakat melalui pintu air. Kini, lahan Nur pun terbagi tiga macam, dari hutan campuran, perkebunan sawit dan karet.

Penelitian CIFOR

Sejak Februari 2017, Center for International Forestry Research (CIFOR) bekerja sama dengan Universitas Riau dan masyarakat meneliti kondisi lahan gambut di daerah itu masing-masing satu hektar.

Tujuan mereka, untuk mengamati dinamika sirkulasi emisi lahan gambut, yang sebelumnya terbakar, kemudian restorasi melalui pembasahan dan penanaman kembali.

”Penelitian ini jangka panjang, berlangsung selama tiga sampai lima tahun, dengan memantau parameter di tiga plot pengamatan berbeda. Penghitungan karbon ini bisa bermanfaat secara global,” kata Daniel Murdiyarso, peneliti utama CIFOR di Desa Tanjung Leban, Riau.

Penelitian ini mengamati cadangan karbon, fluktuasi muka air, kedalaman gambut, perubahan elevasi permukaan, dan produktivitas biomassa dari tanaman atau produk primer neto (NPP).

Menurut Daniel, penelitian bisa jadi acuan bagaimana mengelola lahan gambut untuk komoditas yang memberikan nilai ekonomi bagi warga.

”Bukan manfaat karena ada proyek. Itu bisa pergi, manfaat jangka panjang kepada masyarakat.”

Saya bersama wartawan media lain melihat bagaimana cara mengukur perubahan elevasi permukaan lahan gambut menggunakan perangkat rod surface elevation table (RSET). Obyek pengukuran RSET dipagari melingkar agar tak terganggu pijakan.

RSET berupa alat dari batang pipa baja anti karat ditanam vertikal sekitar 11 meter dari permukaan tanah hingga mencapai lapisan keras di bawah lapisan gambut. Adapun perubahan diukur dari posisi jeruji terpasang pada ‘lengan RSET.’ Ia ukuran perubahan elevasi karena proses lapisan gambut, bukan proses geologi (metode komposisi atau batang yang hancur).

Bayu Hanggara, peneliti CIFOR mempraktikkan. Pertama-tama, menempatkan sebuah ‘bangku’ untuk mengukur perubahan. Adapun bangku tak menganggu sekitar alat RSET yang tertanam. Kemudian memasang lengan RSET untuk mengukur elevasi terdiri sembilan jeruji RSET dan delapan arah mata angin.

”Pengukuran dimulai dari sudut yang sama dengan kondisi tak nyaman. Agar tak menganggu sekeliling permukaan yang akan diukur dan tak terinjak,” katanya.

Pengukuran dilakukan dua kali. Pertama, dari atas daun jatuh di permukaan tanah. Kedua, daun disingkap, kemudian mengukur tanah bagian bawah. Meski demikian, daun perlu ditaruh kembali seperti keadaan normal.

”Pada lahan gambut normal banyak daun, itu merusak lapisan permukaan yang mau kita ukur kalau daun malah dibuang.”

Setiap jeruji diukur masing-masing dan dicatat. Bayu mengukur setiap jeruji RSET pakai penggaris sama, dengan skala sama. Pada pengukuran tahap pertama, pencatatan perlu disertakan kondisi daun jatuh di permukaan tanah. Apakah ada daun, ranting, ataupun tak ada apapun.

”Orang yang mengukur kalau bisa sama. Setiap mata orang memiliki paralatan masing-masing dan justifikasi atas daun jatuh pun sama untuk mengurangi human error.”

Untuk memberikan gambaran terkait perubahan elevasi permukaan, perlu pengukuran RSET berkala setiap enam bulan. Sedangkan, melihat perubahan elevasi masa lampau dari akumulasi bahan organik dan proses lain, dapat dideteksi menggunakan metode radionuklida 210Pb dengan spektrometer.

Berdasarkan data CIFOR, penurunan elevasi akibat deforestasi yang dilanjutkan dengan drainase berkisar antara 2-5 cm per tahun, dimana setiap dua cm pertahun mengakibatkan emisi CO2 sebesar 27 Mg perhektar pertahun.

Setelah mengukur faktor luar, selanjutnya mengukur respirasi total (heterotropik), diukur dalam plot yang tersekat (treching) untuk memisahkan sistem perakaran. Sensor ini punya kelemahan, ia sensitif air. “Jadi kita beri pipa tambahan biar jika diukur sama.”

Menghitung karbon dalam tanah (ukuran ppm), katanya, perlu sekitar 120 detik begitu juga suhu dan kelembapan. Dalam hutan campuran ini, terpasang empat pipa sekatan untuk dihitung.

Penelitian ini juga bersamaan dengan pemantauan pembasahan gambut. Bayu bilang, dalam memantau variasi temporal kedalaman muka air, pakai perangkat HOBO water level data logger yang ditempatkan pada kedalaman muka air terendah kala kemarau.

Penghitungan keseluruhan secara berkala. Data diambil setiap 15-30 menit. Jika kurun waktu 30 menit, data bisa mencapai satu tahun, kalau per 15 menit, hanya enam bulan. ”Ini untuk mengukur tekanan udara, kemudian dikonversi dalam kedalaman muka air.”

Dari penelitian ini, kata Daniel, dapat jadi patokan angka emisi global dan dasar perundingan tingkat internasional.

Bagian penting dari manajemen gambut adalah kubah. Menjaga kubah tak terganggu, tertutup vegetasi dan basah sangat penting dalam menekan pelepasan emisi.

CIFOR menilai, hingga kini masih belum jelas lama waktu dibutuhkan lahan gambut kembali pulih dengan kapasitas serapan karbon.

Pengaturan tata muka air gambut atau pembasahan bukan satu-satunya pilihan tetapi perlu diikuti penanaman ulang dengan vegetasi lokal.

”Keduanya harus bersamaan agar restorasi berjalan efektif,” ucap Daniel. [] Vmongabay.co.id. foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.