Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SURAT PEMBACA -- Kecintaan dan kepedulian masyarakat terhadap Tamiang semakin terkikis, saya amati di Kota kecil Kualasimpang saat ini yang notabene adalah tanah ulayat Tamiang sangat sulit mencari nama tempat maupun jalan berbahasa Tamiang, bangunan berarsitektur Tamiang di Kota Kualasimpang satu-satunya hanya diwakili bangunan Istana Karang dan itupun kurang mendapat perhatian dari Pemkab Tamiang.

Waktu saya masih berusia dini saya pernah bertanya pada ayah saya mengenai nama Ir. Juanda yang diabadikan menjadi nama jalan di Karang Baru. Begitu ayah saya mengatakan bahwa mereka adalah anak-anak pahlawan nasional, saya sangat terkejut. Dalam hati saya berkata "kok bisa orang luar Tamiang dibuat jadi nama jalan di Tamiang, emang apa kontribusi mereka untuk Tamiang dan kenapa tidak nama raja-raja Tamiang saja seperti Raja Silang, Po Pala, Pucuk Suloh dan lain-lain dijadikan nama jalan tersebut". Rasa penasaran saya lantas saya tanyakan pada ayah saya, ia pun menjelaskan bahwa Suku Tamiang itu sangat toleransi terhadap suku pendatang.

Masalah terbaru yang muncul adalah mengenai nama jalan di depan Istana Karang seharusnya dibuat nama pejuang Tamiang Raja silang. Beliau adalah Raja Karang Tamiang yang anti Belanda, karena perlawanannya terhadap Belanda iapun diasingkan ke daerah Bengkalis Riau. Rencana pergantian jalan sudah sejak lama diprogramkan, lantas apa masalahnya mengapa nama jalan tersebut belum juga diganti. apakah yang menghalangi pergantian nama jalan ini? Apa alasan dan motif mereka menghalanginya? Mengapa mereka tdk menghargai Suku Tamiang sebagai penduduk pribumi di Tamiang. Begitu banyak pertanyaan yang muncul terkait masalah ini yang seyogianya menjadi bahan pelajaran dan perenungan bagi etnis Tamiang.

Saya pribadi sebenarnya bingung menyikapi masalah ini, sebab tidak sedikit orang yang menilai negatif terhadap persepsi dan gerakan yang saya lakukan. Sebagian ada yang menilai saya terlalu fanatik sebagai Tamiang, ada juga yang menganggap saya tidak toleransi. Semua tuduhan ini umumnya datang dari mereka yang memiliki hubungan harmonis dengan etnis lain.

Saya berharap agar Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dapat lebih serius lagi memikirkan dan merealisasikan nama-nama suatu objek atau tempat serta nama jalan yang ada di Aceh Tamiang dengan nama-nama pejuang atau nama Raja-raja Tamiang sebagai salah satu perwujudan kecintaan dan kepedulian terhadap tanah Tamiang tercinta ini. []

Pengirim :
HAMDANI
Kampung Sunting Kec. Bandar Pusaka
Kabupaten Aceh Tamiang
email : hamdanidani281@yahoo.co.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.