Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, KARANG BARU -- Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang, yang juga koordinator komisi yang membidangi masalah pendidikan, Juanda, S.IP meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang membangun sejumlah sekolah unggul dan favorit di 12 kecamatan yang ada di Tamiang.

Harapan tersebut diuangkapkan​ Wakil Ketua DPRK Aceh Tamiang, Juanda kepada TamiangNews,Rabu (14/6). Dengan keluarnya Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 17 tahun 2017 tentang penerapan sistem zonasi dalam menggelar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPBD) tahun ajaran 2017/2018.

“Dengan keputusan Permendikbud nomor 17 Tahun 2017 harus kita sikapi dengan menciptakan semua sekolah yang ada saat ini harus menjadi sekolah favorit karena dengan sistem zonasi dapat mengatasi timbulnya sekolah favorit,” ujarnya.

Menurut Juanda sistem zonasi dapat mengatasi timbulnya sekolah favorit dan sebelumnya penerimaan murid baru di sekolah negeri menggunakan nilai tertinggi dari nilai evaluasi belajar murni (NEM), sehingga banyak muncul sekolah favorit yang berdampak negatif seperti murid berlomba untuk masuk sekolah favorit tersebut.

"Akibatnya banyak sekolah yang kurang favorit menjadi kekurangan murid, sementara sekolah favorit warga berlomba lomba memasukkan anaknya ke sekolah tersebut.

Selain membeda-bedakan sekolah pola penerimaan siswa baru seperti yang terjadi tahun lalu, juga sangat rawan terjadi pungli, karena tetap ada orang tua siswa yang mau membayar berapapun, asal anaknya dapat masuk sekolah favorit, "ungkap Juanda yang juga menjabat Ketua PAN Aceh Tamiang ini.

Dengan adanya pola perubahan sistem penerimaan siswa baru yang menggunakan NEM atau grade berdasarkan zonasi, maka semua sekolah baik negeri maupun swasta wajib menerima murid-murid baru yang masuk dalam radius zonasinya.

Selama ini, tegas Juanda, mindset yang berkembang dimasyarakat menunjukkan bahwa sekolah bagus itu hanya berada di wilayah pusat kota.

Sekolah tersebut kerap disebut sebagai sekolah favorit. Selain istilah itu, berkembang pula istilah sekolah pinggiran, julukan tersebut muncul karena lokasinya memang berada di tepi kota.

Nah, istilah semacam itu, berdampak menghambat kemajuan pendidikan, sebutan yang terlanjur melekat ke sekolah pinggiran membuat siswa pintar tidak berminat mendaftar ke sana. Padahal, metode pengajaran dan fasilitasnya sama.

“Semua perspektif penggolongan sekolah inilah yang kedepan harus dirubah,” ujar Juanda lagi.
Syarat utama sistem zonasi adalah jarak tempat tinggal siswa ke sekolah tujuan, faktor lain hanya sebagi tambahan, termasuk hasil UN.

Mekanisme baru ini diharapkan Kuantitas siswa di setiap sekolah diberbagai wilayah menjadi merata, dengan demikian, kedepan tidak ada lagi sekolah yang mengeluh kekurangan murid saat tahun pelajaran baru dimulai. [] M.Hendra Vramenia (TN-W004)

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.