Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, TENGGULUN -- Perang terhadap Narkoba sebagai Bahaya Latin kerap disalah artikan oleh pihak pihak yang ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, terkadang malah hanya sebagai alamat untuk membuktikan pihak tertentu sudah menjalankan program negara yang antipati terhadap penyalahgunaan Narkoba.

Seperti yang dilakukan oleh Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit PT Evans Indonesia terhadap Karyawannya beberapa waktu lalu tanggal 21 April 2017, dinilai Karyawan perusahaan Modal Asing ini hanya kamuflase semata, bagaimana tidak dikatakan oleh salah seorang karyawan yang tidak bersedia namanya dipublikasikan mewakili rekan-rekannya mengatakan, saat mereka tes urine dari 500 karyawan hanya 100 orang karyawan saja yang dilakukan tes urine.

Anehnya para petugas medical check-up yang melakukan tes urine juga didatangkan dari salah satu klinik yang berlokasi di Sumatera Utara (Sumut), dan tidak ada dari Kabupaten Aceh Tamiang. Aneh, PT. Evan Indonesia beroperasi di Kabupaten Aceh Tamiang, namun ketika melaksanakan program kerja, perusahaan tersebut terkesan tidak membangun kerja sama dengan pihak instansi yang ada di Kabupaten setempat, dan tidak didampingi pihak BNN.

Menurut mereka memang benar pihak manajemen ada menyuruh kepada kami untuk mencari Klinik yang tidak memungut biaya untuk rehab Narkoba, setelah kami temukan dan berkoordinasi dengan BNN Kota Langsa justru pihak perusahaan tidak menerimanya dengan alasan tidak sesuai dengan keinginan mereka karena tidak Bintal (Bimbingan Mental) bagi kami, oleh perusahaan menetapkan Klinik Habib beralamat di Jalan Lintas Banda Aceh - Medan, kawasan Desa Ie Bintah, Kecamatan Manyak Payed.

Dia juga menuturkan, pada saat menentukan tentang biaya rehabilitasi, pihak perusahaan terkesan plintat-plintut, sehingga hal tersebut menimbul kecurigaan bagi pihak publik. Pada saat pertama kali disampaikan oleh pihak HRD, muncul angka untuk biaya rehabilitasi sejumlah Rp.10 Juta per-karyawan. Biaya tersebut harus ditanggung sendiri oleh masing-masing karyawan dan perusahaan akan memberikan pinjaman yang nantinya akan dipotong melalui uang gaji.

Namun lanjutnya, karena para karyawan merasa keberataan dengan angka Rp. 10 Juta, pihak perusahaan kembali menurunkan jumlahnya menjadi Rp.7,5 Juta. Namun angka tersebut masih dianggap mahal, dan akhirnya para karyawan mendatangi langsung ke klinik tempat mereka akan direhab, yang beralamat di Jalan Lintas Banda Aceh - Medan, kawasan Desa Ie Bintah, Kecamatan Manyak Payed. Setelah terjadinya proses tawar-menawar, biaya rehab kembali turun menjadi Rp.4,5 Juta.

Sementara itu pihak perusahaan PT. Evans Indonesia Manager SKE Hamdi Anas didampingi Manager SKD Wawan Wijayanto yang dikonfirmasi TamiangNews.com mengatakan “pihaknya sudah benar bahwa kami dari pihak perusahaan memang melakukan tes urine terhadap 200 dari 500 karyawan yang ada di PT. Evans Indonesia dan menggunakan biaya karyawan itu sendiri.

Dari hasil tes urine tersebut ada 22 orang yang positif menggunakan Narkoba sehingga kami dari pihak perusahaan seharusnya PHK para karyawan tersebut, akan tetapi kami masih memikirkan anak dan keluarga mereka apabila mereka kami pecat. Sehingga timbul inisiatif dari kami pihak perusahaan untuk memberikan pilihan kepada para karyawan tersebut yaitu Di PHK + Pesangon, atau Direhabilitasi + bisa kembali diterima kerja dengan menandatangani surat pernyataan yang dibuat pihak perusahaan.

Memang pasti banyak pihak bertanya tanya kenapa hanya 100 orang saja yang pihak perusahaan lakukan tes urine? Kami melakukan tes kepada beberapa posisi jabatan yang beresiko berdampak dapat merugikan perusahaan antara lain Sekuriti, satpam, kepala gudang sampai kepada sopir. Kenapa mereka? karena kami melihat dengan menggunakan narkoba mereka bisa merugikan pihak perusahaan dengan jabatan dan posisi yang strategis yang di berikan kepada mereka, karena yang namanya narkoba itu pasti mudarat atau dampaknya enggak baik.

Saya berikan contoh seorang supir sebuah perusahaan sedang membawa tamu dari perusahaan dan di tengah jalan terjadi kecelakaan, usut punya usut ternyata kecelakaan terjadi dampak dari menggunakan narkoba, gitu juga seperti kepala gudang perusahaan apabila dia menggunakan narkoba sudah pasti habis barang yang ada di gudang di juali untuk membeli narkoba tegas Hamdi Anas

Dan disini juga saya katakan bahwa 22 karyawan yang sedang di rehabilitasi Jagan takut karena uang THR dan Bonus Pinjaman pasti kami berikan karena itu haknya para karyawan akan tetapi Jagan ditanya gaji yang 2 selama masa Rehabilitasi karena perusahaan punya aturan sendiri dimana “No work no Money” atau tidak kerja tidak ada uang pungkasnya panjang lebar sambil bersiap untuk meeting dengan para staff nya.

Hal senada juga di sampaikan Camat Kecamatan Simpang Kiri Zulfiqar. SP yang di tanyai TamingNews.com mengatakan “ saya tau persis bahwa pihak perusahaan PT. Evans Indonesia sudah benar melakukan prosedur dalam melakukan tes urine terhadap karyawan yang bisa merugikan pihak perusahaan, bahkan para karyawan yang sudah positif saja terlibat tidak di PHK malah perusahaan memikirkan bagaimana para karyawaan ini bisa bekerja kembali pasca melakukan Bimbingan rehabilitasi narkoba.

Disambungnya lagi saya selaku Camat sangat anti terhadap penyalahgunaan narkoba terkhususnya di Kecamatan Simpang Kiri bahkan saya sudah koordinasi bersama Kapolsek dan Dandramil bahwa atas nama penyalahgunaan narkoba jangan ada kata ampun ujar Zulfiqar. SP. [] TN-W007/TN-W012, Foto : Ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.