Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, DUNIA ISLAM -- Menyambut Ramadan dengan berziarah kubur, telah menjadi tradisi tahunan masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia. Tidak terkecuali Muslim Indonesia. Tiga atau dua hari sebelum bulan Sya’ban berakhir, masyarakat Muslim berjubelan di tempat pemakaman diberbagai kota di negeri ini. Bahkan terkadang ramainya melebihi suasana berziarah kubur di hari lebaran.

Sebenarnya tidak ditemukan riwayat satupun dari Nabi SAW yang mengkhususkan untuk berziarah kubur sebelum memasuki Ramadan. Mengenai ziarah kubur. Rasulullah SAW lebih memilih menganjurkannya secara umum dan terbuka dan tidak menetapkan batasan tertentu. Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya aku pernah melarang kalian menziarahi kuburan, maka (sekarang) ziarahilah kuburan.” (HR. Muslim).

Di antara hikmahnya kata Rasul, “Sebab ziarah kubur itu akan mengingatkan pada hari akhirat dan menambah kebaikan.” Karena tidak ada ketentuan khusus dari Nabi SAW, maka berziarah kubur bisa dilakukan kapan saja. Setiap Muslim bisa membuat agenda tersendiri, apakah menetapkan baginya ziarah kubur setiap hari Senin dan Kamis perpekan, setiap hari Jumat, sebulan sekali, atau hanya pada hari-hari tertentu, termasuk mentradisikan untuk berziarah kubur sebelum memasuki Ramadhan atau bahkan tidak membuat agenda khusus.

Hanya saja, karena tidak adanya petunjuk khusus dari Nabi SAW mengenai waktu-waktu tertentu untuk berziarah, maka kita tidak boleh memberi penetapan bahwa misalnya ziarah pada hari Kamis lebih afdhal dibanding pada hari lain, ataupun menganggap telah berdosa mereka yang lalai dari ziarah kubur sebelum memasuki Ramadhan.

Nabi SAW lebih memilih fleksibel dalam anjurannya kepada kaum muslimin untuk menziarahi kuburan, karena ziarah kubur dapat memberikan manfaat positif yang tidak sedikit terhadap pertumbuhan dan kesehatan jiwa, menambah keimanan, memberi berbagai pelajaran hidup dan menanamkan sifat kesederhanaan, zuhud dan dapat mengikis rasa tamak dan loba terhadap dunia.

Kita bisa melakukannya kapan saja, setiap kita merasa palung hati kita ditimbuni gumpalan noda dendam dan dosa, berziarahlah. Setiap palung hati kita terkuburi oleh konstruksi bangunan berpikir metropolis, maka berziarah kuburlah, kata Nabi, “Itu akan mengingatkanmu pada akhirat.”

Adanya tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan, bisa jadi terbentuk dari anjuran Nabi SAW sendiri. Beliau SAW menganjurkan kepada setiap Muslim untuk memasuki Ramadhan dengan jiwa yang bersih, terlepas dari kebencian dan permusuhan apapun terhadap sesama Muslim, saling mendo’akan, saling memaafkan, saling mengunjungi dan menyambung silaturahmi.

Kematian seseorang, tidak serta merta memutuskannya dengan kehidupan di dunia ini, sehingga dengan meninggalnya seseorang telah berarti tamatlah riwayatnya dan tidak ada lagi sangkut pautnya dengan apapun yang masih berada di dunia ini. Dengan mereka yang lebih dahulu meninggal dunia pun, kita tetap wajib untuk tetap saling menyambung silaturahmi. Allah SWT berfirman, “…dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (Qs. Ar-Ra’d: 21). Para mufassir mengatakan, yang dimaksud oleh Allah SWT menghubungkan apa-apa yang telah Allah perintahkan supaya dihubungkan adalah, silaturahmi dan persaudaraan.

Dalam kitab Zadul Ma’ad, Ibnu Qayyim al Jautziyah menuliskan, Rasulullah SAW senantiasa menziarahi kubur para sahabatnya, mendo’akan mereka dan memintakan rahmat dan pengampunan bagi mereka. Bahkan Rasulullah SAW mengajarkan setiap berziarah, kita mengucapkan salam kepada ahli kubur, “Assalamu ‘alaa ahliddiyaari minal mu’minina wal muslimina, antum lana farathun wa nahnu insya Allahu bikum laahiquuna, Salam sejahtera atas (kalian wahai) para penghuni tempat-tempat ini, baik kaum Mukmin maupun Muslim, kalian telah mendahului kami dan atas kehendak Allah.

Dari sini bisa dikatakan, kita diperintahkan oleh syariat ini untuk tetap menyambungkan silaturahmi hatta kepada saudara-saudara kita yang lebih dahulu meninggal dunia.

Perintah Nabi, untuk mengucapkan salam kepada mereka setiap berziarah, meniscayakan salam-salam kita mereka dengar bahkan membalasnya. Adalah kesia-siaan, jika Nabi memerintahkan kita mengucapkan salam dengan mukhatib (pendengar/teman bicara) para ahli kubur, namun mereka tidak diberikan kemampuan oleh Allah SWT untuk mendengar.

Adanya di antara saudara kita yang menghukumi ziarah kubur menjelang Ramadhan yang selama ini ditradisikan oleh mayoritas kaum Muslimin di Indonesia sebagai praktik bid’ah dan tidak ada landasan dalilnya dalam Al-Quran dan Sunnah, maka kita katakan, ziarah kubur adalah di antara sunnah Rasul yang hukumnya sunnah sebagaimana dalil yang telah dituliskan di atas, dan Rasulullah SAW fleksibel dalam hal penetapan waktu berziarah, sebagaimana halnya salat-salat yang hukumnya sunnah yang tidak ada penentuan dari Nabi SAW mengenai batasan jumlah raka’atnya, maka kita boleh melakukan berapa raka’at yang kita mampu.

Dan tentu saja, sebaik-baiknya amalan, adalah mencontoh apa yang diamalkan Rasulullah SAW. Seperti salat malam misalnya, kita bisa menetapkan bagi diri kita sendiri, melakukan dua raka’at setiap malam, delapan raka’at, atau bahkan menetapkan diri sendiri melakukannya hanya sekali dalam sebulan, sebab paling minimal adalah melakukannya sekali dalam seumur hidup. Kecuali jika ada hadis dari Nabi yang memberikan batasan dan menentukan waktu-waktu yang makruh bahkan haram untuk salat.

Dengan ziarah ke makam sanak keluarga dan makam para shalihin, maka ajaran merekapun akan selalu terkenang dalam hati dan tentu saja akan malu jika mengagungkan makam para shalihin namun mengabaikan ajaran mereka. [] arrahmahnews.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.