Dilihat 0 kali

TamiangNews.com -- Harian Serambi Indonesia kemarin mewartakan dua wanita dan satu bayi asal Aceh kini sedang dalam status menunggu pengusiran dari Malaysia. Untuk bisa pulang ke Aceh mereka harus diusir atau dipulangkan paksa, dengan kata lain dideportasi.

Ketiga perempuan itu adalah Syamsiah Hasan (67 tahun) asal Beureunuen, Pidie, Tia Wati (25) asal Ujung Pacu, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe bersama bayinya yang berumur delapan bulan bernama Tiara Salsabila.

Mereka ini adalah tiga dari lima wanita Indonesia yang ditahan Imigrasi Malaysia bersama 63 WNI lainnya di Port Klang Selangor sejak 2 Mei lalu gara-gara meninggalkan perairan Malaysia naik boat sayur dari laluan yang tidak diwartakan (jalur yang tidak ditetapkan) oleh Pemerintah Malaysia.

Dibanding WNI lainnya, ketiga perempuan asal Aceh ini tergolong beruntung. Hanya ditahan sekitar 20 hari di lokap tahanan Imigrasi Malaysia di Port Klang. Mereka kemudian diadili oleh majelis hakim Pengadilan Sipil Malaysia di Sepang, Selangor.

Karena pertimbangan kemanusiaan, mengingat Syamsiah Hasan sudah berusia lanjut, sedangkan Tia Wati sedang beranak kecil yang juga perempuan, akhirnya ketiga perempuan asal Aceh itu diampuni oleh majelis hakim. Termasuk seorang wanita asal Sumatera Barat yang juga sedang beranak kecil.

Di luar lima perempuan asal Aceh dan Sumatera Barat itu, belum seorang pun WNI yang ditahan sejak 2 Mei lalu di Port Klang Selangor yang diampuni oleh pengadilan sipil setempat. Terdapat 43 orang warga Aceh dalam rombongan yang pulang melalui jalur tak resmi itu, sehingga mereka ditahan.

Bahkan lima perempuan yang sudah diampuni itu masih harus menunggu waktu berhari-hari untuk dideportasi. Target mereka untuk bisa berkumpul dengan keluarga di awal puasa Ramadhan (dalam adat Aceh disebut meugang puasa) akhirnya kandas.

Buktinya, hingga hari ketiga puasa, mereka masih berada di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, menunggu deportasi. Selain itu, mereka harus menunggu proses pembuatan surat perjalanan laksana paspor (SPLP) dari KBRI setempat.

Niat hati, setelah diampuni oleh majelis hakim, sedianya kelima perempuan Indonesia itu bisa segera dipulangkan ke Tanah Air.

Tapi kita sebagai warga Indonesia, khususnya orang Aceh, tidak bisa memaksakan kehendak terhadap aturan yang berlaku di negeri jiran tersebut. Kita harus dengan sabar menunggu prosedur deportasi yang mereka gariskan.

Kita juga harus tegar menghadapi fakta bahwa saat ini terdapat 35 lelaki Aceh yang ditahan selama tiga bulan di Penjara Sungai Buloh, Selangor. Sedangkan lima perempuan asal Aceh yang juga sudah divonis tiga bulan penjara kini dikurung di Penjara Kajang Selangor.

Nah, kejadian yang menimpa puluhan warga Aceh bersama 25 warga dari berbagai provinsi lainnya di Indonesia itu harusnya menjadi iktibar terbesar bagi kita untuk semakin berhati-hati ketika melawat ke negara jiran, terutama Malaysia. Berkunjung ke negara lain boleh-boleh saja. Tapi haruslah menempuh prosedur resmi.

Misalnya, harus punya paspor dan jika pun ingin kerja, haruslah memiliki visa kerja. Jangan sampai visa kunjungan wisata disalahgunakan untuk bekerja. Itu bukan cari nafkah namanya, tapi cari-cari perkara.

Selain itu, bagi warga Aceh yang sudah berhasil masuk Malaysia harus pula cermat mengamati tanggal kedaluwarsa paspornya.

Jangan sampai terjadi kasus overstay, dalam artian kita masih berada di negeri orang, sedangkan paspor dan atau visa kita sudah berakhir masa berlakunya.

Jika kemudian gara-gara dokumen keimigrasian kita bermasalah atau memang tak punya paspor yang masih berlaku, alhasil saat kembali ke kampung halaman, terpaksalah menempuh jalur tidak resmi untuk menghindar dari pemeriksaan petugas imigrasi. Nah, pada saat-saat seperti inilah seseorang akan sangat berpeluang ditahan oleh otoritas maritim Malaysia.

Dan kalau sudah ditahan, urusan pembebasannya menjadi tidak mudah, sekalipun melibatkan jalur diplomatik antarnegara.

Jadi, jangan karena ulah kita secara pribadi, negara yang kemudian repot mengurusi kita. Jadilah warga yang baik dan taat hukum, termasuk saat melawat ke negara lain. [] tribunnews.com, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.