Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, BANDA ACEH -- Ada peristiwa menarik saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin membuka acara Pekan Nasional (Penas) XV Petani Nelayan di Banda Aceh, Provinsi Aceh, Sabtu (6/6). Sebelum membuka acara yang terpusat di Stadion Lhong Raya (Harapan Bangsa) tersebut, Jokowi sempat menyampaikan pidato mengenai produksi jagung yang terus meningkat.

Di tengah-tengah pidatonya, Jokowi kemudian memanggil dua orang petani jagung yang hadir di antara sekitar 38 ribu peserta Penas yang hadir di lokasi. “Ayo ke depan coba dua orang petani jagung. Dua saja,” kata Jokowi.

Sontak sejumlah petani segera berlari menuju panggung tempat Jokowi menyampaikan pidato. Namun, mereka teradang pasukan pengamanan presiden (paspampres) yang berdiri mengelilingi panggung. Setelah mendapatkan instruksi dari Jokowi, barulah tiga petani dipersilakan naik ke atas panggung.

“Ya sudah, tiga itu nggak apa-apa. Yang diminta dua, yang mau naik tiga. Ya sudah, tiga nggak apa-apa,” ujar Presiden.

Setelah melakukan dialog bersama ketiga petani yang berasal dari Sampang, Madura, Jawa Timur, Kota Kotamabugu Utara, Sulawesi Utara, dan Lombok Timur, NTB, Jokowi pun mempersilakan ketiganya membawa sepeda yang sudah dipersiapkan.

Jokowi lalu melanjutkan pidatonya dan mengganti tema pembicaraan pada komoditas kakao. Presiden pun melakukan hal yang sama terhadap petani kakao. Sama seperti sebelumnya, Jokowi awalnya meminta tiga orang yang naik ke atas panggung, namun akhirnya yang terpilih ada empat dengan satu petani terakhir sempat adu dorong memaksa naik ke atas panggung dengan anggota Paspampres.

“Iya itu nggak apa-apa naik sekalian ke sini,” pinta Jokowi menunjuk petani berkemeja batik putih tersebut.

Setelah selesai melakukan dialog dengan tiga petani dari Gorontalo, Sulawesi Barat, dan Papua, tibalah giliran si petani terakhir yang ditanyai Jokowi. Ketiga petani lainnya sudah tidak berada di atas panggung setelah membawa pulang masing-masing sebuah sepeda yang telah disiapkan.

“Yang terakhir silakan dikenalkan (memperkenalkan diri, Red),” kata Jokowi.

Setelah berbalas salam, Jokowi langsung memotong pembicaraan petani bernama Abdul Hafid itu. “Tadi kok semangat sekali sampai berantem dengan paspampres tadi, kenapa? Kan tadi saya sudah bilang tiga cukup, kok masih ngotot sampe dipegang-pegang paspampres tadi, kenapa?” tanya Jokowi.

Hafid yang tampak polos kemudian menjawab dengan kalimat yang berbeda konteks dengan pertanyaan Jokowi. “Sebenarnya saya berdiri dan berdampingan dengan bapak presiden Republika Indonesia, apa, presiden kita ini, sangat-sangat luar biasa, menurut saya.”

Sontak jawaban petani kakao yang berasal dari Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan tersebut disambut tawa para hadirin termasuk para undangan VVIP yang duduk di belakang Jokowi.

“Nggak, pertanyaan saya tadi, kenapa tadi (saat saya bilang, Red) tiga kan sudah saya setop, cukup tiga, kok masih lari, dipegang paspampres, ngotot itu kenapa? Gitu lho,” Jokowi mengulangi pertanyaannya.

Hafid kemudian menjawab, saat pertama Jokowi meminta petani jagung naik ke atas panggung, dia juga sudah berlari. Namun, keberadaan Paspampres menghalangi keinginannya. “Dari pertama pak presiden, waktu dipanggil petani jagung, saya juga berniat dan ingin berdampingan dengan presiden,” ucap Hafid yang kembali disambut tawa para hadirin.

Jokowi yang merasa pertanyaannya belum dijawab dengan benar kembali mengulangi pertanyaannya. “Nggak, tadi belum dijawab tadi lho. Kenapa kok ngotot sekali tadi sampai dipegang-pegang paspampres tadi masih ngotot mau berantem, kenapa?”

Tak disangka, jawaban Hafid berikutnya membuat tawa Jokowi dan para hadirin pecah membahana di stadion yang menjadi markas klub sepak bola Persiraja Banda Aceh tersebut.

“Kembali saya ke Pancasila sila terakhir.” Hadirin dan Jokowi tertawa sangat keras dan panjang.

“Ya, silakan,” kata Jokowi.

“Sila terakhir itu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (Tawa kembali pecah, Red). Kalau ditanya dari perwakilan Sulawesi Selatan tidak apa dapatkan juga (tidak mendapatkan kesempatan juga, Red) seperti petani yang ditunjuk, dipanggil tadi, (artinya) itu sila keadilan itu menurut saya tidak ada,” kata Hafid. Tawa hadirin makin riuh.

“Waduh, ini petani pintar banget ini, ya sudah sepedanya diambil. Ya, sudah nggak jadi tanya kakao lah sudah,” kata Jokowi.

Namun, seakan belum cukup membuat geger stadion, Hafid enggan langsung turun mengambil sepeda. Dia pun meminta Jokowi agar bersedia berfoto bersama dengannya.

“Saya mohon kepada bapak presiden, pertama foto berdua, kedua, foto berempat bersama bapak Menteri Pertanian dan bapak Gubernur Sulawesi Selatan,” katanya. Setelah menyanggupi permohonan Hafid, Jokowi meminta agar petani kakao tersebut foto sendiri bersama Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, yang berada di belakang ujung kanan barisan tamu VVIP.

“Udah. Sana foto dengan pak gubernur. Satu-satu aja, nanti sama mentan. Ini mau buka Penas, malah acara foto-foto,” kata Jokowi.

Tawa hadirin makin riuh. Kendati demikian, kepolosan dan keisengan Hafid belum habis lantaran setelah mengambil sepeda, dia menaiki sepeda tersebut dan melintas di depan panggung kemudian membuat satu putaran membentuk angka delapan untuk selanjutnya berlalu. Jokowi hanya geleng-gelang kepala melihat tingkah Hafid.

Setelah itu, Jokowi kemudian secara resmi membuka acara Penas XV Petani Nelayan yang dihadiri 38 ribu peserta tersebut bersama Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Gubernur Aceh Zaini Abdullah. [] Republika.co.id, foto : Republika/EH Ismail

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.