Dilihat 0 kali

Oleh : RAHMAD PURNAMA*

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan sekolah yang berbasis kompetensi atau keahlian dengan tujuan menyiapkan generasi muda yang siap terjun ke dunia kerja. Sekolah ini memberikan metode pembelajaran dengan persentase praktek lebih besar dibandingkan teori. Saat ini pendidikan SMK menggunakan model pendidikan simulasi untuk menghadapi dunia kerja dimasa yang akan datang. Namun, faktanya setelah lulus terkadang tidak sedikit alumni yang tidak mendapatkan pekerjaan atau kadang banting setir memilih profesi yang tidak ada kaitannya dengan skill dan kompetensi yang diambil semasa di bangku sekolah. Misalnya ketika alumni SMK yang mengambil ilmu listrik atau otomotif, setelah tamat tidak sedikit yang hanya menjadi buruh bangunan, bahkan menganggur. Padahal ilmu yang didapat dari sekolah sebenarnya dapat dikembangkan dan mempunyai peluang lapangan kerja yang lebih baik dan luas. Inilah masalah serius yang harus kita pikirkan solusinya secara bersama.

Menurut penulis, fenomena lulusan SMK yang menganggur atau pun memilih profesi di luar kompetensinya tersebut dikarenakan oleh beberapa hal. Pertama, disebabkan oleh lemah dan kurangnya pemahaman serta pembekalan mengenai dunia kerja dalam materi pembelajaran. Pembekalan mengenai dunia kerja ini tidak cukup dengan kegiatan magang siswa di beberapa industri maupun unit usaha di luar sekolah, namun perlu pembekalan mengenai kewirausahaan yang kuat. Dengan begitu, setelah mereka lulus dapat memilih apakah skill- nya ingin diaplikasikan dengan bekerja pada industri atau unit usaha milik orang lain, atau mereka memilih untuk berwirausaha sendiri. Kedua, pendidikan kedisiplinan kerja, jiwa serta mental tidak mudah menyerah belum maksimal diterapkan di setiap pembelajaran. Pendidikan ini penting untuk membentuk karakter siswa SMK menjadi kuat, pantang menyerah dan inovatif, mengingat karakter tersebut akan sangat membantu siswa bila nantinya telah lulus dan terjun ke masyarakat maupun dunia kerja.

Ketiga, masalah yang sering muncul di media adalah mengenai lemahnya daya serap lulusan SMK di dunia kerja karena rendahnya mutu lulusan SMK. Mutu lulusan SMK tergantung dari koordinasi semua sektor dan stakeholder seperti dana, managemen pendidikan dan pengelolaan sekolah, sarana dan prasarana belajar, kurikulum, serta yang paling penting dan berpengaruh adalah produktivitas dan kompetensi guru. Jika semua sektor dan stakeholder pendidikan SMK ini saling bersinergi dan saling mendukung, tentu mutu lulusan SMK akan dapat bersaing dengan tenaga-tenaga kerja dari berbagai belahan dunia. Keempat, belum maksimalnya dukungan pihak sekolah dalam membantu distribusi dan alokasi lulusan SMK ke berbagai lapangan kerja yang ada, padahal upaya ini sangat penting dalam memaksimalkan daya serap lulusan SMK di dunia kerja dan mengurangi jumlah pengangguran.

Melihat berbagai faktor dan persoalan yang mempengaruhi mutu dan penyerapan lulusan SMK tersebut, maka perlu dilakukan berbagai terobosan baru dalam pendidikan di SMK agar peserta didik lebih inovatif dan kreatif dan benar-benar siap berkarya nantinya di masyarakat . Beberapa langkah tersebut antara lain :
1. Dengan meng-kolaborasikan pembelajaran teknis/praktek dengan kewirausahaan misalnya bagaimana suatu komponen atau alat bisa dijadikan sebuah produk yang siap dan dapat siswa jual, baik melalui sekolah maupun dijual sendiri secara langsung maupun online.
2. Sekolah dapat berperan aktif untuk mempromosikan hasil karya maupun skill siswa-siswanya misalnya melalui koperasi, pameran-pameran komersial, melalui website Sekolah maupun penawaran-penawaran lainnya . Hal ini dapat memacu semangat belajar, produktivitas dan kreativitas serta kedisiplinan peserta didik.
3. Untuk menularkan jiwa kreatif dan kewirausahaan ke peserta didik, guru juga harus dipacu untuk memiliki jiwa kewirausahaan dan peningkatan kompetensi keahliannya sehingga dapat berkarya dan mengembangkan hasil karyanya menjadi sebuah produk siap pakai dan dapat dijual ke pasaran.
4. Memberikan Kesempatan yang luas kepada guru untuk bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi maupun pelatihan-pelatihan tambahan, baik di dalam maupun di luar negeri agar dapat mengembangkan ilmu, keahlian serta kreatifitasnya.
5. Sekolah sebaiknya mengupayakan untuk menjalin komunikasi dan kerjasama dengan beberapa perusahaan, baik besar maupun kecil, berbagai industri serta pemilik-pemilik usaha untuk mengadakan Career Day atau Career Week (Ajang Pencarian Kerja) di SMK. Ajang tersebut sebagai wadah mempertemukan lapangan kerja dengan para calon pekerjanya, serta membantu distribusi langsung lulusan SMK ke dunia kerja.

Beberapa ide dan saran di atas semoga dapat menjadi pertimbangan oleh para stakeholder utama dalam mengambil sikap dan kebijakan terkait peningkatan mutu pendidikan di SMK agar para peserta didik dan alumni SMK tidak hanya BISA mengaplikasikan ilmu dan keahliannya, tetapi juga dapat TANGGUH menghadapi berbagai kendala dan persaingan yang ketat di era global saat ini. SMK BISA...!, SMK TANGGUH....! [] Foto : Ilustrasi

* Penulis adalah Seorang Pendidik, email : rahmad.mk@gmail.com 

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.