Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, YOGYAKARTA -- Agatha Ari Wulandari, Lurah Kricak, Tegalrejo, Yogyakarta diberitahu bakal mendapat kunjungan tamu penting pada Rabu, (22/4/17). Dia hanya diperlihatkan sebuah foto. Seorang perempuan, berambut coklat, berkulit putih.

“Kita tak diberi tahu tamu siapa. Kita hanya diberi tahu akan ada tamu VVIP,” kata Ari, Rabu, 19 April lalu. “Saya diminta mengalungi (kain batik) tamu ini.”

Tak dinyana, perempuan itu adalah Melinda Gates, istri pendiri Microsoft yang kini menjadi orang terkaya dunia. Hari itu, Melinda mengunjungi lokasi penyebaran nyamuk berwolbachia di rumah warga Kricak. Sebelumnya dia juga mengunjungi Laboratorium Eliminate Dengue Project (LEDP), Universitas Gadjah Mada.

“Kita tak menyangka untuk penelitian ini akhirnya akan ada tamu penting. Kita tahunya hanya penelitian biasa. Rasanya takjub dan senang,” kata Ari, mengungkapkan kesan bertemu Melinda.

Kedatangan Melinda ke Yogyakarta sengaja dilakukan tak mencolok. Media ramai menurunkan berita justru setelah dia mengunggah kegiatan di Indonesia itu lewat Facebook.

“Saya sangat terkesan mengunjungi laboratorium Eliminate Dengue, tempat para peneliti menginfeksi nyamuk dengan bakteri wolbachia. Bakteri ini mencegah virus dengue berkembangbiak di dalam nyamuk, dengan begitu nyamuk tak bisa menyebarkan virus mematikan ke manusia,” tulis Melinda 22 Maret lalu di Facebook.

“Teknologi ini, akan menyelamatkan kehidupan. Bahkan hal yang sama bisa diterapkan pada Zika.”

Dia mengunggah beberapa foto selama di Indonesia, termasuk foto panorama alam Indonesia berupa sawah berlatar gunung nan cantik.

Tiga tahun sebelumnya, 5 April 2014, Bill Gates datang ke Yogyakarta, pun diam-diam. Dia menyambangi laboratorium sama, dan melepas koloni nyamuk berwolbachia di Dusun Kronggahan, Gamping, Yogyakarta.

Bekti Andari, Kepala Komunikasi dan Penyertaan Masyarakat LEDP mengatakan, kunjungan Melinda merupakan pengakuan internasional atas upaya Indonesia dalam menanggulangi penyakit demam berdarah.

“Dia antusias. Mengunjungi laboratorium, menemui masyarakat langsung, ke rumah warga yang dititipi ember dan dialog,” kata Bekti.

Tempat pembiakan

Bangunan bercat putih di perumahan dosen UGM di Sekip, Yogyakarta, menjadi tempat insectarium sekaligus Laboratorium Eliminate Dengue Project di Indonesia. Bangunan itu terbagi beberapa ruangan. Ruang depan tempat rapat dan diskusi.

Di dinding ada peta penyebaran nyamuk wolbachia di Yogyakarta. Bersebelahan dengan itu ada ruang antara lain untuk para peneliti menghitung nyamuk hasil tangkapan. Agak ke dalam ada ruang pembiakan nyamuk.

Di sana, telur nyamuk wolbachia yang menetas jadi jentik-jentik, berubah ke pupa, lalu nyamuk dewasa. Siklus sekitar dua minggu. Nyamuk-nyamuk itu lalu dimasukkan ke kandang berupa kotak transparan tertutup rapat.

“Mereka diberi makan darah manusia. Setiap minggu para relawan akan membiarkan tangan digigit nyamuk,” ucap Warsito Tantowijoyo, entomolog atau ahli serangga LEDP, Senin, (10/4/17).

Para relawan adalah staf laboratorium, dan sesekali tamu, misal, Gubernur Yogyakarta Sultan Hamengkubowono X, juga Bill Gates dan Melinda Gates rela memberi makan dengan cara tangan digigit nyamuk wolbachia. Itu jadi bukti nyamuk ini aman bagi manusia. Dengan wolbachia, virus dengue terhambat, walau nyamuk tetap ada.

“Untuk mendapatkan telur bagus, kita kasih makan darah manusia. Kita sudah mencoba misal dengan darah kambing. Hasilnya, telur nyamuk tak banyak. Seminggu nyamuk bertelur. Ngasih makan Kamis, panen telur Selasa.”

Di laboratorium juga terlihat puluhan ember kecil seukuran gayung tempat telur nyamuk wolbachia siap dititipkan ke warga tertata rapi. Setiap pintu ruang memiliki kelambu untuk mencegah nyamuk dan binatang kecil lain masuk ke ruangan.

“Di Yogyakarta dibagi jadi 24 klaster,” katanya, sambil menunjuk peta. “Kita melepaskan nyamuk wolbachia di 12 klaster, sebelah ini sebagai kontrol. Tujuh kelurahan yaitu Kricak, Wirobrajan, Karangwaru, Pakuncen, Patangpuluhan, Tegalrejo, Bener, sudah selesai penyebaran wolbachia. Penyebaran sudah sangat tinggi.”

Artinya, di tujuh kelurahan itu menunjukkan perkembangan nyamuk wolbachia bagus dan stabil hingga tak perlu pelepasan lagi. “Sudah lebih 60-70% dari seluruh nyamuk yang ditemukan.”

Nyamuk-nyamuk itu terus diamati hingga 2019, sembari membandingkan kasus DBD di lokasi itu.

Sebelum dititipkan ke warga, ember di laboratorium diberi air, telur nyamuk, dan pakan. Selanjutnya, penentuan penitipan ember berdasar jarak tertentu, sekitar 25-50 meter untuk masing-masing ember.

“Ember dititipkan ke rumah-rumah yang sebelumnya sudah kita pilih, dengan mempertimbangkan jarak, dan persetujuan pemilik rumah. Setiap dua minggu sekali telur diganti, sampai jumlah wolbachia relatif stabil. Seperti di tujuh kelurahan itu, ember diganti 12-15 kali, tergantung masing-masing lokasi.”

Hingga kini, sudah ada 7.000-an ember masing-masing berisi 80-100 telur nyamuk wolbachia tersebar di Yogyakarta.

Sejauh ini, warga mendukung upaya pemberantasan demam berdarah dengan nyamuk wolbachia. Jikapun ada penolakan, lebih karena ketidaknyamanan, dengan alasan, misal, pemilik punya bayi.

Di lapangan, para peneliti juga mengumpulkan nyamuk tangkapan. Gunanya untuk mengetahui populasi nyamuk yang terinfeksi wolbachia.

Defriana Lutfi, peneliti menjelaskan, di Yogyakarta, biasa ada tiga jenis nyamuk, Aedes aegypti, Aedes albopictus, dan Culex quinquefasciatus.

Rekomendasi WHO

Wolbachia merupakan bakteri alami ditemukan pada beberapa jenis serangga. Kemampuan menghambat virus demam berdarah membuka kemungkinan penggunaan bakteri ini secara luas, termasuk jenis penyakit lain. Dibanding pakai insektisida untuk membasmi nyamuk, wolbachia relatif lebih murah dan aman bagi lingkungan.

Laboratorium EDP berdiri sejak 2011. Tiga tahun kemudian, laboratorium ini melepaskan nyamuk wolbachia pertama secara terbatas di Sleman, disusul Bantul.

Proyek Eliminate Dengue Indonesia ini kerjasama penelitian antara Fakultas Kedokteran UGM, Monash University, Melbourne, Australia, dan Yayasan Tahija. Sjakon Tahija, adalah satu dari 50 orang terkaya Indonesia versi Forbes.

Penelitian sama juga dilakukan di Australia, India, Vietnam, Brazil, dan Kolombia. Penelitian di negara-negara itu didanai Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF). Keduanya merasa perlu menyempatkan datang ke Indonesia langsung melihat kemajuan penelitian nyamuk wolbachia dan membandingkan di negara lain.

Bekti Andari mengatakan, di Indonesia, penelitian sengaja di Yogyakarta karena kasus demam berdarah nasional tergolong tinggi. Infrastruktur juga dianggap memadai dalam mengaplikasikan penelitian, dan penerimaan warga sangat bagus. “Kunci keberhasilan penelitian ini pelibatan warga.”

Sejauh ini, penelitian penyakit demam berdarah terus lanjut. Penanggulangan antara lain pakai vaksin, perilaku menguras, menutup, mengubur, hingga fogging.

“Pengendalian virus dengue dalam nyamuk Aedes aegypti dengan wolbachia paling mutahir. Ini sudah diakui WHO sampai 2020 sebagai pendekatan yang menjanjikan, lewat vektor kontrol,” ucap Bekti.

Menurut Warsito, meski masih menunggu penelitian selesai 2019, pengamatan lapangan menunjukkan lokasi ada nyamuk wolbachia berpengaruh terhadap angka DB.

“Di Sleman, dan Bantul, wolbachia tinggi, ada indikasi awal menghambat penularan DB. Ini berita bagus untuk seluruh tim peneliti. Sekarang kita bergerak di kota. [] mongabay.co.id, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.