Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, FAUNA --  ikan kecil ukuran 7 cm, yang mendiami terumbu karang perairan tropis ini memiliki kemampuan luar biasa. Dibalik keindahannya yang dikenal sebagai ikan hias, ia mempunyai bisa (racun) yang berdaya guna sebagai perisai diri.

Baru-baru ini, sebagaimana dipublikasikan di Jurnal Current Biology, tim peneliti dari Inggris dan Australia, berhasil mengungkap zat kimiawi atau bisa yang terdapat pada taring blenny. Ini merupakan hal berbeda dari sekitar 2.500 ikan berbisa di lautan yang umumnya menyuntikkan racun melalui duri di bagian sirip, punggung, atau ekor. Sengatan yang biasanya meninggalkan rasa sakit hingga beberapa hari.

Bisa pada taring blenny ini sifatnya mematikan rasa, bukan menimbulkan sakit dikarenakan mengandung peptida opioid. Opioid merupakan senyawa penenang atau penghilang rasa. “Bisa blenny sangat unik. Peptida opioid berfungsi seperti morfin atau heroin. Tidak menyebabkan sakit, justru menghambat nyeri,” kata wakil ketua tim peneliti, Brian Fry dari University of Queensland, sebagaimana keterangannya yang dilansir dari Science alert.

Anggota tim peneliti lainnya, Irina Vetter menjelaskan, bisa blenny tidak berarti bertindak sebagai penghilang rasa sakit pada predator semata. Tetapi juga, membuat lemah dan pusing. Mekanismenya, jika blenny terkena cengkraman predator, otomatis ia mengeluarkan bisa yang membuat predator tak berdaya. Sehingga, ia dapat melepaskan diri dan menjauhi pemangsa.

Sebagaimana dituturkan Nicholas Casewell, dari Liverpool School of Tropical Medicine, kepada Gizmodo, blenny memanfaatkan taringnya yang berbisa, untuk menyelamatkan diri. Peptida opioid menyebabkan penurunan tekanan darah sang predator. “Sesaat blenny menyuntikkan bisa, dengan menggigit pemangsanya itu, ia segera melarikan diri.”

Namun begitu, blenny hanya menggunakan bisa untuk menghindar dari predator saja, seperti dari kejaran ikan keling, kerapu, belut, dan ikan besar lainnya. Jadi, bukan untuk berburu mangsa karena blenny umumnya memakan plankton dan alga.

Tersebar

Blenny tersebar luas di perairan tropis seluruh Samudra Pasifik, termasuk ada di Indonesia. Di Australia, diketahui ikan ini hidup di bagian tengah sampai pantai utara-barat Australia dan dari pantai utara Queensland ke pusat New South Wales. Dari lima genus fangblennies, hanya satu yang memiliki bisa di taringnya.

Renny Kurnia Hadiaty, Ichthyology Laboratory, Divisi Zoologi, Pusat Penelitian Biologi, LIPI, kepada Mongabay Indonesia, Kamis (13/04/2017) menuturkan, Indonesia merupakan pusat dari coral triangle, yaitu kawasan dengan tingkat keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Kawasan ini mencakup enam wilayah: Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon. “Blenny merupakan ikan laut dengan pola warna yang cantik. Ikan ini juga tersebar di Raja Ampat.”

Saat ini, banyak jenis blenny yang jadi ikan hias karena variasi warna yang menawan dan perilakunya menarik. “Dengan keunggulan tersebut, seharusnya potensi blenny bisa dikembangkan. Namun, memang harus diteliti dahulu bagaimana kebiasaan makannya, habitat dan perilakunya, serta upaya domestikasinya,” papar Reni.

Para peneliti berharap, riset lebih mendalam dapat mengungkap senyawa apa saja yang terkandung dalam bisa tersebut. Sehingga, memberikan manfaat bidang medis di masa mendatang. Terutama untuk pengobatan manusia. [] mongabay.co.id, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.