Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SURAT PEMBACA -- Namaku Hamdani Avril berasal dari sebuah Kampung bernama Sunting yang terletak di Kecamatan Bandar Pusaka bagian dari Kabupaten Aceh Tamiang, berada di daerah paling timur Provinsi Aceh. Jarak desaku menuju ibukota kabupaten kira-kira 22 kilometer. Kini usiaku 25 tahun, aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Aceh Tamiang, akhir tahun 2017 ini Insya Allah aku akan merampungkan studiku.

Dua bulan lalu aku lagi sibuk-sibuknya menyelesaikan skripsiku, terkadang hampir setiap hari aku harus menuju ibukota kabupaten demi mengerjakan skripsiku ke warnet, perpustakaan, dan lain-lain. Siang itu di tengah teriknya matahari aku pergi meninggalkan kampungku untuk mencari bahan-bahan skripsi di internet, walau cuaca sangat panas tetapi tidak ada pertanda akan turun hujan. Karena di kampungku belum tersedia akses internet aku terpaksa harus pergi ke Kuala Simpang (ibukota kabupaten).

Kuparkirkan sepeda motorku dan pergi memasuki warnet, aku mengambil paket 2 jam dan mulai browsing mencari bahan-bahan yang berkaitan dengan skripsiku. Sekitar 25 menit berlalu, selesai sudah tujuan pokokku, semua bahan-bahan yang kuperoleh lalu kusimpan dalam flashdisk. Karena tidak ada kegiatan lain, aku selingi dengan membuka facebook, terlena dengan fecebook tak terasa paket 2 jamku sudah hampir habis, tiba-tiba terdengar suara gemuruh hujan.

Mungkin dari tadi mendung tak kulihat karena aku berada di dalam ruangan, tidak lama kemudian hujan pun mengguyur deras. Aku tak mungkin pulang dalam kondisi seperti itu, aku lalu menambahkan paket sewa internetku. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, ternyata hujan tak kunjung reda, aku pun melanjutkan dengan main game online sembari mencari blog-blog yang kusukai, 4 jam sudah aku menunggu namun hujan juga tak kunjung reda, karena larut malam aku memutuskan untuk pulang walaupun dalam keadaan hujan.

Jalan yang berlumpur, berlubang dan rusak parah membuat sepeda motorku tidak bisa melaju terlalu kencang, sehingga memakan waktu 55 menit aku baru bisa sampai ke tempat tujuan. Kondisi yang sama juga dialami warga lain yang berada di Kecamatan Bandar pusaka, untuk membeli kebutuhan sehari-hari mereka pergi berbelanja ke Kuala Simpang, pakaian dan sepeda motor selalu menjadi sasaran akibat rusaknya jalan.

Pemerintah setempat menganaktirikan dan memandang sebelah mata pada kampungku, aku sering merasa kesal karena dipandang sebelah mata oleh mereka yang tinggal di pusat pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Saya sangat berharap mereka lebih jeli memperhatikan kampung-kampung terpencil di seluruh Aceh Tamiang seperti kampung Tanjung Gelumpang, Sekumur,Pematang Durian, Sulum, Suka Makmur, dan paling ujung dari Kabupaten Aceh Tamiang yaitu kampung Baling Karang.

Akses jalan untuk menghubungkan antar perkampungan ini cukup parah bahkan ketika hujan datang jalan sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan, Saya sangat sedih melihat penderitaan yang dialami kampung-kampung ini. Kondisi seperti ini sudah berlangsung cukup lama sejak Kabupaten Aceh Tamiang berdiri, namun sampai detik ini jalan menuju ke kampung kampung tersebut masih sangat memprihatinkan. [] Foto : rubernews

Pengirim :
HAMDANI
Kampung Sunting Kec. Bandar Pusaka
Kabupaten Aceh Tamiang
email : hamdanidani281@yahoo.co.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.