Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SURAT PEMBACA -- Zaman modern dalam pandangan banyak orang memberikan banyak keuntungan dan kemudahan, mereka tidak menyadari ternyata di balik itu terjadi perubahan sosial dratis di tengah masyarakat, baik dalam pemikiran maupun tingkah laku. Di tengah kemajuan zaman ini, persaingan semakin sempit dan ketersediaan lowongan pekerjaan juga kian sempit, pertumbuhan ekonomi konon semakin baik, namun faktanya hal itu tidak berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

Pada zaman ini kalangan orang berpendidikan terutama mereka yang baru tamat sekolah dan kuliah seringkali mengalami kesedihan akibat sulitnya mencari pekerjaan, konon lagi bagi mereka yang tidak memiliki pendidikan. Nilai pendidikan dewasa ini diukur dengan materi, hanya orang yang memiliki materi yang cukup yang dapat merasakan manfaat dari pendidikan. Fenomena tersebut benar-benar terbukti di lapangan, segala urusan diatur dengan uang, baik dalam proses penerimaan mahasiswa baru di universitas negeri, penerimaan pegawai di kantor pemerintah, menjadi PNS, dan menjadi tenaga kerja di perusahaan swasta ternama bahkan dalam pengurusan administrasi seperti urusan KTP,KK,SIM, STNK, dll.

Akibat dari kondisi ini mengakibatkan tidak sedikit orang yang putus asa dan kehilangan semangat hidup, di Negara Indonesia fenomena seperti ini bukanlah hal baru, kondisi ini sudah berlangsung lama sejak awal tahun 1990-an. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, kemiskinan yang menjamur, dan pengangguran yang merajalela, namun tidak ada upaya yang serius dari pemerintah dan pihak yang terkait untuk mengatasinya. Justru mereka masih sempat melakukan tindakan korupsi, mereka mampu hidup berbahagia di atas penderitaan rakyat yang miskin, mampu tertawa di atas tangisan jutaan rakyat yang kelaparan, dan mampu menyelewengkan uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan golongan mereka.

Di Indonesia sangat mudah mencari pengadilan, namun sangat sulit mencari keadilan, kesalahan dapat ditutupi dengan uang, kebenaran akan diabaikan karena ketiadaan uang. Alangkah malangnya nasib negeri ini, kemalangan itu secara otomatis dirasakan rakyatnya, hampir setiap hari kita mendengar berita tentang korupsi, mengapa bibit-bibit korupsi tidak pernah habis sampai detik ini, para pejabat tampil rapi tidak lebih dari para preman berdasi yang menipu rakyat dengan penampilan. Saya sebagai putera Tamiang yang tinggal jauh dari ibukota Jakarta sangat merasakan betul kondisi yang dihadapi negara ini, sistem pemerintahan yang dibangun bukan semakin baik justru membawa negeri ini ke alam keterpurukan. Berulangkali terjadi suksesi kepemimpinan, namun hasilnya tetap saja tidak memberikan dampak yang signifikan bagi kesejahteraan hidup rakyat Indonesia.

Saya hanya pemuda biasa yang barangkali belum banyak berperan dalam pembangunan negeri ini, tetapi sebagai putera pribumi barangkali tidak salah untuk mengungkapkan keprihatinan saya terhadap kondisi bangsa ini. Keberlangsungan negeri ini tidak terlepas dari rakyat, pemerintahan mampu berjalan karena ditopang oleh rakyat, seyogianya di antara mereka saling mendukung, tanpa rakyat negara Indonesia takkan pernah ada. Saya hanya mampu menyuarakan dengan kata-kata dan hanya ini yang bisa saya lakukan saat ini, semoga kiranya di masa mendatang saya punya kesempatan untuk tampil dalam memajukan negeri ini.
Salam dari anak Tamiang Hamdani Avril Kampung Sunting. [] Foto : Ilustrasi

Pengirim :
HAMDANI
Kampung Sunting Kec. Bandar Pusaka
Kabupaten Aceh Tamiang
email : hamdanidani281@yahoo.co.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.