Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, TUALANG CUT — Sempat terjadi protes dari pemain DLH FC terhadap wasit yang memimpin pertandingan pada saat DLH FC melawan tuan rumah Raja Muda FC pada babak perempat final Selasa (28/03) ternyata menyimpan cerita unik dan aneh akibat tindakan tak beradab yang dilakukan oleh salah seorang hakim garis yang berinisial Mus yang notabene merupakan pengadil di lapangan hijau.

Menurut amatan TamiangNews.com di lapangan, aksi protes yang berawal dari terjadinya gol balasan penyama kedudukan 1-1 pada menit injuri time babak pertama oleh pemain Raja Muda yang berbau offset. Kapten DLH FC Nandar Bale memprotes tindakan wasit yang tidak menganggap itu sebagai offset, padahal menurutnya itu jelas-jelas offset.

Berawal dari itu, sehingga kisruh antara pemain DLH FC dengan wasit tak bisa dihindari. Dan seorang hakim garis yang bernama Musrizal tiba-tiba memasuki lapangan dan sempat mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada pemain. Menurut salah seorang pemain DLH FC, wasit Musrizal mengeluarkan kata-kata yang tidak sportif serta bernada memihak, "Ku Kalahkan Tim Kalian Mau?". Sehingga Pendi dan Dana dua pemain DLH FC saat ini spontan memprotes ucapan seorang pengadil di lapangan hijau yang menurut mereka belum pernah terjadi dalam sejarah sepakbola.

Saling dorong tak terhindarkan, namun berkat kesigapan panitia perselisihan tersebut dapat diatasi dan pertandingan dilanjutkan kembali pada saat ini.

Seusai pertandingan kericuhan kembali terjadi, disaat para pemain kedua kesebelasan saling bersalaman, namun tiba-tiba hakim garis Musrizal kembali masuk ke lapangan dan mengeluarkan kembali kata-kata tidak pantas kepada salah seorang pemain DLH FC. Dana salah seorang pemain DLH FC mengatakan, hakim garis Musrizal menjumpai dia dan mengatakan, "bagaimana, kita selesaikan disini atau diluar".

Akibat ulah konyol dan tak terpuji sang hakim garis tersebut, spontan saja saling kejar dan dorong pun terjadi. Bahkan hakim garis tersebut sempat mengeluarkan kata-kata makian yang tidak pantas dari seorang pengadil. Namun, lagi-lagi berkat kesigapan panitia dan aparat pengaman pertandingan keributan dapat diatasi.

Seorang pegiat sepakbola Aceh Tamiang, Saiful Alam SE kepada TamiangNews.com, memberikan pendapatnya atas ulah konyol pengadil tersebut. Aneh tapi nyata apa yang dipraktikkan oleh hakim garis tidak seharusnya seorang hakim menunjukan sikap memihak secara terang terangan sangat konyol kita sesalkan sikap hakim garis mengeluarkan kata kata kotor kepada pemain . Seharusnya mereka mendidik saya yakin panitia penyelenggara menggelar turnamen ini adalah untuk menjaring talenta talenta muda berbakat sebagai cikal bakal pemain masa depan, bagaimana jadinya jika wasit dan hakim garis tidak bermoral pasti hasil yang didapat pemain pemain bermoral tempe. [] TN-W001

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.