Dilihat 0 kali

(catatan pojok untuk pembangunan Taman Kehati Aceh Tamiang)

Oleh : Izuddin*)

Istilah Taman Keanekaragaman Hayati atau jamak dikenal dengan akronim Taman Kehati sudah terlalu sering kita dengar, dalam istilah asing-nya disebut dengan Biodiversity. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa sangat sedikit dari kita yang memahami dengan baik apa yang dimaksud dengan Taman Kehati, seperti apa batasan defenisinya serta seperti apa manfaatnya bagi manusia dan lingkungan. Di tengah-tengah gempuran isu global tentang pemanasan dan perubahan iklim, kerusakan hutan dan deforestasi, serta ancaman kepunahan plasma nuftah dan tanaman endemik lokal akibat pemanfaatan hasil hutan yang dilakukan tanpa kontrol dan pengawasan yang baik, konsep dan rencana pembangunan taman kehati untuk tujuan penyelamatan spesies tanaman tertentu menjadi salah satu program primadona bagi banyak pemerintah daerah serta organisasi non pemerintah maupun perseorangan yang berkonsentrasi di bidang lingkungan. Niat mulia ini tentunya patut didukung oleh semua pihak, dengan memberikan kontribusi yang maksimal sesuai kapasitas masing-masing. Program pembangunan Taman Kehati secara benar dipastikan bisa meningkatkan keanekaragaman hayati dan mendukung konservasi flora dan fauna di luar kawasan hutan.

Untuk merealisasikan rencana besar membangun taman kehati pada sebuah kawasan tentunya harus diawali dengan sebuah perencanaan yang baik. Langkah awal yang paling penting tentunya adalah dengan terlebih dahulu memahami secara utuh batasan dan definisi tentang Taman keanekaragaman hayati itu sendiri. Gagal paham terhadap definisi, batasan dan ruang lingkup kehati tentunya akan melahirkan sebuah konsep salah kaprah, yang pada akhirnya tentu akan menghasilkan out put yang juga ngawur dan jauh menyimpang dari tujuan awalnya.

Taman Keanekaragaman Hayati atau Kehati, secara definisi menurut Peraturan Mentri Negara Lingkungan Hidup nomor 3 tahun 2012 adalah suatu kawasan pencadangan sumber daya alam hayati lokal di luar kawasan Hutan yang mempunyai fungsi konservasi in-situ dan/atau ex-situ, khususnya bagi tumbuhan yang penyerbukan dan/atau pemencaran bijinya harus dibantu oleh satwa dengan struktur dan komposisi vegetasinya dapat mendukung kelestarian satwa penyerbuk dan pemencar biji. Sesuai dengan definisi di atas, yang dimaksudkan dengan Kehati adalah keanekaragaman makhluk hidup di muka bumi danperanan-peranan ekologisnya, yang meliputikeanekaragaman ekosistem, keanekaragaman spesies, dankeanekaragaman genetik.

Program Taman Kehati adalah sebuah program yang diselenggarakan untuk menyelamatkan berbagai spesies tumbuhan asli/lokal yang memiliki tingkat ancaman sangat tinggi terhadap kelestariannya atau ancaman yang mengakibatkan kepunahannya. Pemanfaatan sumber daya hayati untuk berbagai keperluan secara tidak seimbang telah menyebabkan makin langkanya beberapa jenis flora dan fauna karena kehilangan habitatnya, kerusakan ekosisitem dan menipisnya plasma nutfah. Mengacu kepada penjelasan di atas, maka dalam konsep pembangunan Taman Kehati, jenis tumbuhan yang akan diselamatkan dalam Taman Kehati adalah tumbuhan lokal, tumbuhan endemik, dan tumbuhan langka. Oleh sebab itu, pada banyak daerah yang telah membangun sebuah kawasan Taman Kehati, pilihan terhadap jenis tanaman yang akan di tanam biasanya akan jatuh pada jenis tanaman hutan yang mulai langka seperti jenis meranti, kayu hitam/merbau, kruing, gaharu atau kayu alim, serta berbagai jenis tanaman obat serta jenis-jenis tanaman buah lokal yang mulai jarang ditemukan.

Oleh sebab itu, inventarisasi tanaman endemik langka merupakan langkah awal yang wajib dilakukan ketika gagasan untuk membangun Taman Kehati diwacanakan. Dalam pelaksanaannya, Selanjutnya, dalam pembangunan Taman Kehati, menjadi sebuah kewajiban untuk melakukan metodologi penanaman yang didasari oleh pendekatan ekosistem secara komprehensif. Di sini tumbuhan utama yang akan diselamatkan akan di tanam sebagai tanaman utama dan didampingi tanaman penunjang seperti misalnya tanaman pakan bagi satwa penyerbuk, atau jenis tanaman yang dapat mengundang satwa bermukim dan berkembang biak.

Untuk tujuan sebuah standarisasi out put, pemerintah dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup sebenarnya telah menerbitkan regulasi yang mengatur secara khusus segala sesuatu yang terkait dengan teknis maupun administratif dalam pembangunan Taman Kehati di tingkat nasional, propinsi maupun kabupaten/kota, yaitu Peraturan Mentri Negara Lingkungan Hidup nomor 3 tahun 2012. Artinya, pihak manapun, baik pemerintah, lembaga, organisasi, perusahaan maupun perorangan yang berencana untuk membangun Taman Kehati untuk tujuan penyelamatan dan pelestarian biodiversity, harus mematuhi standarisasi yang telah ditetapkan agar didapat pengakuan statusnya sebagai Taman Kehati yang resmi. Di dalam regulasi tersebut diatur secara lengkap segala sesuatu yang terkait dengan persyaratan teknis danadministratif, sejak mulai dari perencanaan, penetapan, pelaksanaan hingga kepada pembinaan. Targetnya adalah, terbangunnya kawasan Kehati pada masing-masing daerah yang memenuhi kriteria dan standar nasional, dengan sasaran utama mengembangkan dan melestarikan jenis dan populasi tanaman endemik yang merupakan ciri khas dari masing-masing daerah.

Apakah penjelasan, uraian dan definisi di atas terasa rumit untuk dipahami? Mari kita coba sederhanakan. Bahwa Fungsi utama Taman Kehati adalah sebagai kawasan penyelamatan tumbuhan lokal. Selain itu Taman Keanekaragaman Hayati juga diharapkan mampu menjadi sumber bibit, pemuliaan tanaman, dan sarana pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan dan penyuluhan, serta menjadi lokasi wisata alam dan sebagai ruang terbuka hijau. Dengan demikian, kegiatan pembangunan Taman Kehati idealnya adalah sebuah kegiatan untuk melakukan penanaman berbagai jenis tanaman langka atau terancam keberadaannya di alam akibat penebangan dan alih fungsi hutan yang tidak terkendali, dengan cara mengumpulkan dan menanam jenis tanaman tersebut pada sebuah kawasan dengan luasan tertentu (minimal 3 hektar) pada areal lokasi asal atau habitat aslidi mana tanaman tersebut tumbuh atau In-situ,maupun penanaman yang dilakukan di luar wilayah tumbuh atau habitat aslinya, yang lebih dikenal dengan istilah Ex-situ. Dengan demikian, adalah menjadi sebuah syarat mutlak bahwadi dalam menentukan jenis tumbuhan yang akan ditanam pada lahan Kehati setidaknya harus memenuhi tiga kriteria utama, yaitu : tumbuhan lokal, tumbuhan endemik, dan tumbuhan langka.

Lalu ketika kemudian kita menemukan sebuah fakta bahwa ada sebuah institusi setingkat Satuak Kerja Perangkat Daerah (SKPD) membangun sebuah project pada suatu kawasan dengan luasan satu hektar, yang ditanamai dengan beberapa jenis pohon buah-buahan budidaya yang jamak ditemukan di mana saja, lalu dipancangkan papan nama dengan judul Taman Kehati, maka yang kemudian muncul dalam pemikiran kita saat ini adalah bahwa para pemangku kepentingan yang menjadi penggagas ide tersebut sedang Gagal Paham secara berjamaah.

*) Penulis adalah Manager Program pada LSM KEMPRa, Aceh Tamiang, email : kotalintang7768@gmail.com
(tulisan ini merupakan pendapat pribadi)

Foto : Ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.