Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SURAT PEMBACA -- Modernisasi dan kemajuan zaman adalah dua hal yang tidak mampu dielakkan oleh umat manusia. Kemajuan zaman seringkali dianggap membawa dampak positif, karena telah memberikan banyak kemudahan dan kesenangan bagi umat manusia, namun ternyata di balik itu kemajuan zaman telah membuat terjadinya banyak ketimpangan di tengah masyarakat. Seiring dengan itu tergerusnya budaya dan moral tak mampu terkendali, akibatnya kerugian semakin banyak melanda manusia. Kondisi ini sangat mencolok di daerah perkotaan yang imbasnya sampai ke daerah pedesaan, generasi muda yang hidup di perkotaan menganggap budaya tradisional bernuansa kampungan dan konservatif.

Hal ini mengakibatkan hilangnya minat mereka dalam mengembangkan budaya tradisional tersebut, demikian juga menggunakan bahasanya. Sehingga semakin hari warisan nenek moyang kita kian mengalami ketergerusan dan sangat sulit untuk dibendung. Kondisi ini saya amati langsung di lingkungan saya sendiri di daerah Tamiang, rasa kepedulian kaum generasi muda di bidang kebudayaan semakin mengalami penurunan, kertertarikan mereka sudah beralih kepada sesuatu yang bersifat menyenangkan.

Masalah budaya dinilai tidak memberikan manfaat yang signifikan bagi kehidupan bagi masa depan mereka, sementara teknologi dan modernisasi yang saat ini mereka nikmati dianggap lebih memberikan jaminan kebahagiaan hidup bagi mereka di masa mendatang. Daerah Tamiang adalah tanah leluhur masyarakat Tamiang, tempat awal berkembangnya budaya dan sejarah Tamiang, suku Tamiang memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang cukup mengagumkan, namun ironisnya hal itu kurang mendapat perhatian dan kepedulian dari pemerintah setempat. Tidak sedikit peninggalan budaya dan sejarah yang terbengkalai dan terlantar.

Dewasa ini generasi muda Tamiang yang masih berada di tanah kelahirannya hingga di daerah perantauan sudah banyak yang merasa malu dan tidak peduli dengan kelestarian dan kelangsungan budaya dan bahasanya. Identitas sebagai orang Tamiang juga sering ditutupi karena kurangnya kepercayaan diri, padahal suku Tamiang adalah suku yang pernah mengalami kejayaan di masa lalu. Dewasa ini para penduduk Tamiang yang mendiami daerah mulai dari Semadam, Sungai Liput, Kebun Tengah, Minuran, Kota Kuala Simpang dan sekitarnya, Tanjung Karang, Kampung Dalam, Terban, Medang Ara hingga daerah perbatasan sudah banyak mengalami pengikisan budaya dan bahasa, sementara semua daerah tersebut adalah tanah ulayat orang Tamiang.

Saya sebagai putera Tamiang sangat prihatin melihat kondisi ini, masyarakat dan pemerintah setempat sepertinya acuh tak acuh terhadap kondisi yang terjadi di lingkungan mereka.Minuran, Bukit Tempurung, Kota Lintang,Tanjung karang,Kampung dalam,Kampung bundar,Terban,Medang Ara, dan Landoh di antara perkampungan yang berasal dari Bahasa Tamiang, di kesembilan daerah itu penggunaan Bahasa Tamiang juga mengalami ketergerusan yang sangat signifikan dan memperihatinkan, padahal penduduknya masih didominasi suku Tamiang. Bila hal ini dibiarkan maka budaya dan bahasa Tamiang akan tenggelam ditelan waktu, jangan sempat anak cucu kita mendatang kehilangan akar budaya mereka dan terombangambing dengan identitas yang tak jelas. Kesempatan untuk melestarikan budaya dan bahasa Tamiang masih ada, mari kita manfaatkan kesempatan itu untuk memperbaiki dan merevitalisasi semua itu.

Para perantau dari daerah Tamiang yang berada di Banda Aceh, Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Solo, Malang, Surabaya, Makassar dan kota-kota yang ada di Indonesia ini bahkan ada juga di Malaysia baik yang bekerja maupun yang menempuh pendidikan mari kita lestarikan budaya Tamiang ini, jangan biarkan modernisasi mengikis budaya dan bahasa kita. Selama ini saya amati para perantau dari Tamiang saat kembali ke tanah kelahirannya banyak yang enggan dan merasa malu menggunakan budaya dan bahasa daerahnya, mereka lebih memilih berkomunikasi dalam bahasa Indonesia karena dianggap lebih keren dan gaul.

Seyogianya para perantau memperkenalkan budaya dan bahasa daerah Tamiang agar dikenal luas oleh pihak lain bukan justru sebaliknya semakin ditinggalkan. Pengalaman saya waktu berkunjung ke daerah Pamatang Bandar Kabupaten Simalungun Sumatera Utara, penduduk setempat dari kalangan suku Batak Simalungun masih tetap eksis mengembangkan budaya dan bahasa daerahnya, demikian juga di daerah lain di tanah Batak. Bahkan di kota-kota besar seperti Bandung dan Makassar, orang Sunda, Makassar, Bugis sangat bangga dengan budaya dan bahasa daerahnya.

Populasi suku tamiang saat ini tidak tidak sampai 100.000 jiwa yang menyebar di berbagai daerah, di tengah jumlah kita yang sangat minim seyogianya kita semakin bergiat melestarikan dan mengembangkan bahasa dan budaya tradisional kita. Suku Tamiang pernah mengalami kejayaan di masa Kerajaan Banua dulu, mari kita kembalikan kejayaan masa silam secara perlahan, kita pasti bisa mewujudkan semua itu, tergantung kemauan kita semua. Where there is a will there is a way. []

Pengirim :
HAMDANI
Kampung Sunting Kec. Bandar Pusaka
Kabupaten Aceh Tamiang
email : hamdanidani281@yahoo.co.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.