Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, MEULABOH -- Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh mengharapkan Perum Bulog Meulaboh menampung pembelian beras produksi masyarakat petani sehingga terdongkrak peningkatan ekonomi masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Aceh Barat, Safrizal di Meulaboh, Rabu, mengatakan, selama ini diperkirakan hanya sekitar 45 persen produksi pertanian tanaman padi milik masyarakat dan petani yang laku terjual.

"Harapan kita kalau bisa semua bisa tertampung, tapikan selama tidak semua terserap oleh Bulog karena persaingan harga tampung oleh agen pengumpul (tengkulak) dari luar dengan Perum Bulog memiliki selisih harga cukup signifikan," sebutnya.

Para penampung dari luar Aceh Barat datang membeli gabah petani dengan harga tampung hingga Rp5.000/kg, sementara pemerintah dalam hal ini Perum Bulog hanya diberikan kekuatan modal serapan beras Rp3.700/kg.

Sebab itu kecenderungan masyarakat dan petani menjual Gabah Kering Giling (GKG) mereka untuk penampung dari luar, baik dari kabupaten tetangga maupun dari Medan Sumatera Utara dan Pemda tidak melarang terhadap inisiatif petani demikian.

Safrizal menyampaikan, hanya dua provinsi di Indonesia yang nilai beli gabah maupun beras petani dengan harga tinggi di atas harga Perum Bulog yakni Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara dengan harga tampung gabah kering hingga Rp5.000/kg.

"Karena itu Bulog sendiri membeli beras dengan harga di atas Rp9.000 per kilogram, kalau memang harga Bulog bisa mengimbangi harga pasar Medan, kita harapkan semua tertampung mereka,"sebutnya.

Lebih lanjut dikatakan, hanya sekitar 50.000 ton per tahun dari hasil produksi pertanian tanaman pangan yang terjual, apalagi untuk dua kali masa panen atau Indek Pertanian (IP) tidak semua masyarakat menjualnya.

Selain untuk kegiatan ekonomi, produksi tanaman padi masyarakat selama ini juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, artinya untuk dua kali panen, untuk per satu kali panen menjadi pangan konsumsi keluarga masyarakat dan petani.

Safrizal menyampaikan, diperkirakan saat ini masyarakat petani di Aceh Barat sudah mulai memasuki musim panen, seperti di yang dilakukan oleh petani Desa Ranto Panjang, Kecamatan Meureubo dengan produktivitas 7 ton/hektare.

"Sudah memasuki musim panen, sudah kita turunkan alat mesin pemotong padi tapi belum melakukan gerakan panen perdana. Melihat dari kondisi pertanian, untuk target produksi Aceh Barat sepertinya akan tercapai,"katanya menambahkan. [] antaranews.com, photo : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.