Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, MEULABOH -- Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh berupaya menjadikan produksi perikanan budidaya masyarakat dan petani menjadi salah satu pangan alternatif untuk pemperkuat ketahanan pangan daerah.

Kepala Bidang Perikanan Budidaya pada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Barat, Mahli, di Meulaboh, Selasa, mengatakan, melalui upaya demikian masyarakat akan mandiri terhadap pemenuhan kebutuhan sehari-sehari sekaligus menambah penghasilan keluarga melalui peningkatan produksi.

"Karena potensi yang daerah kita miliki prospek untuk pengembangan, namun masyarakat belum ada yang termotivasi untuk menjadi seorang pengusaha dari perikanan budidaya. Selama ini ada pengembangan dilakukan, tapi tidak ada yang serius karena hanya dianggap untuk kebutuhan keluarga, belum kepada bisnis,"katanya.

Dia menyampaikan, apabila diperhitungkan secara individu masyarakat petani ikan tambak, kolam serta berbagai sumber lokasi produksi perikanan budidaya di Aceh Barat telah mencapai 15-20 ton per kali panen, namun produksi tersebut hanya untuk kebutuhan pasar lokal dengan jumlah yang terbatas.

Mahli menyampaikan, pengembangan perikanan budidaya di Aceh Barat dilakukan oleh masyarakat maupun kelompok tani belum mampu mengarah kepada kegiatan ekonomi skala besar karena beberapa faktor, salah satunya adalah terkendala ekonomi untuk penyediaan pakan.

Kemudian nilai jual terhadap perikanan budidaya di daerah itu masih tinggi sehingga sulit bersaing untuk dilepas ke pasar luar Aceh, kondisi tersebut diakibatkan oleh tingginya biaya produksi untuk pakan, biaya perawatan serta kos untuk pengiriman sehingga harga ikan budidaya di daerah itu lebih mahal dari harga ikan yang saat ini beredar di pasar luar.

"Contohkan saja ikan nila ataupun ikan mas, di pasar luar Aceh untuk ikan nila di jual seharga Rp15.000-Rp20.000 per kilogram, sementara ikan budidaya masyarakat kita itu sudah seharga Rp35.000 per kilogram, jadi bagaimana hendak di pasarkan ke luar dengan harga jauh lebih tinggi,"jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, meskipun dengan harga tinggi namun produksi perikanan budidaya masyarakat Aceh Barat laku terjual untuk pasar lokal, terutama untuk warung makan maupun untuk keluarga konsumsi rumah tangga, sebab tidak semua masyarakat menyukai ikan laut.

Mahli menyebutkan, karena harga jual ikan segar itu tinggi, maka harga gulai ikan kampung bila dijual di warung rumah makan di daerah itu bisa mencapai Rp50.000/ekor untuk ikan mas, karena harga beli dari produsen untuk jenis ikan tersebut seharga Rp35.000/kg-40.000/kg, harga tersebut mungkin sangat jauh dengan harga-harga ikan segar di luar Aceh.

Sama halnya dengan ikan lele yang biasanya di jual di luar Aceh seharga Rp30.000/kg-Rp40.000/kg, akan tetapi untuk harga penjualan dari masyarakat untuk ikan lele kampung seperti lele Krueng Tujoh, Kecamatan Mereubo bisa mencapai Rp60.000/kg, tingginya harga jual ikan budidaya itu karena ketersediaan ikan tersebut cukup sedikit sementara peminatnya cukup banyak.

"Walaupun demikian kami terus mendorong masyarakat dan petani untuk terus menggeluti perikanan budidaya ini, karena untuk harga pasar cukup tinggi sebab pembudidayaanya masih kurang. Kalaupun ada yang sudah mampu berproduksi untuk penjualan ke pasar itupun masih sangat terbatas,"katanya menambahkan. [] antaranews.com, photo : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.