Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, KUALASIMPANG -- Kucuraan dana baik dari pemerintah pusat maupun Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang setiap tahunnya kian berkurang guna mendukung program dan kegiatan khusunya di sektor pertanian.

Bantuan Pemerintah untuk Aceh Tamiang tahun 2015 sebesar Rp 24 miliar dan tahun 2016 sebesar Rp 13 miliar. Tahun 2017 diinformasikan bantuan sektor tersebut hanya Rp 2,1 miliar untuk bidang produksi dan perlindungan tanaman Dinas Dinas Perkebunan, Pertanian dan Peternakan Aceh Tamiang,.

"Pemerintah tahun ini mengalokasikan bantuan benih padi untuk luas tanam 1.500 hektare bersumber dana APBN. Dari tahun sebelumnya 10.000 hektare," ungkap Kabid Produksi dan Perlindungan Tanaman Mustafa kepada MedanBisnis, Senin (27/2) di ruang kerjanya.

Ia katakan, berkurangnya jumlah dana alokasi bantuan tersebut tidak diketahui persis apa penyebabnya.
Menurut Mustafa, tahun ini, dari program dan kegiatan yang sudah dialokasikan anggarannya belum seperti yang diharapkan petani terhadap bantuan benih padi. Namun begitu, masyarakat petani padi tetap melakukan sesuai dengan musim tanam.

"Luas tanam padi ditargetkan 32.000 hektare di hamparan sawah yang ada, meski tahun 2017 belum tersedia alokasi dana bersumber dari APBK untuk bantuan benih padi," ujar Mustafa.

Mustafa optimis, petani padi Aceh Tamiang tetap melaksanakan tanam padi sesuai musim tanam walau tanpa bantuan pemerintah dikarenakan tanaman padi merupakan tanaman unggulan bagi petani sawah. Dan hasilnya dapat meningkatkan pendapatan petani dibandingkan komuditas lain seperti jagung dan kedelai.

"Cuma saja pengaruh produksi bisa mengalami penurunan dari tahun sebelumnnya disebabkan cuaca ekstrim, penyakit tanaman dan serangan hama, seperti blaser yang menyebabkan tanaman padi pertumbuhannya kerdil dan hangus bila tidak segera diantisipasi petani mengalami gagal panen," jelas Mustafa, seraya mengatakan untuk membangkitkan gairah petani padi, pemerintah pusat menyediakan benih bersubsidi yang harganya terjangkau dan dapat meringankan biaya tanam.

Sambung Mustafa, untuk tanaman jagung dan kedelai juga menurun, tahun 2017 dialokasikan untuk luas tanam 1.000 hektare. Pengembangan tanaman jagung dan kedelai juga tidak sesuai yang diharapkan, dikarenakan keterbatasan lahan.

"Selama ini petani untuk musim tanam komoditas jagung dan kedelai petani hanya mengandalkan lahan sawah, yang rentan digenangi air ketika curah hujan tinggi akibatnya tanaman mati. Bahkan lahan non sawah sudah dialihkan fungsi tanaman perkebunan," katanya.

Sementara petani sendiri kurang bergairah untuk menanam kedelai dan jagung, dikarenakan harga jualnya tidak stabil.

"Setelah panen dari tanam serentak harga anjlok, dan pendapatannya tidak menjanjikan, sehingga petani kurang berminat," ungkap Mustafa.

Cabai Merah

Sementara mengahadapi melonjaknya harga cabai merah yang harganya dalam beberapa waktu ini turun naik, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang belum mengalokasikan untuk penunjang komoditas cabai merah. Melainkan petani cabe melakukan penanaman secara swadaya.

Mustafa menjelaskan, untuk tahun 2016 produksi cabai merah (besar) mencapai 752 kwintal. Dari tiap setara kwintal setara 100 kilogram, jadi produksi yang dicapai sebanyak 75.200 ton/tahun dari penanaman swadaya petani. Dari ditargetkan luas tanam 60 hektare, terealisasi 48 hektare, dan dicapai luas panen 43 hektare.

Ia menambahkan, untuk tahun 2017, pihaknya menaikkan target luas tanam menjadi 70 hektare. Luas tanam cabai merah hingga Januari sudah terealisasi 12 hektare, dengan luas panen tujuh hektare dan pencapaian produksi 100 kwintal atau setara 10 ton.

"Diharapakan pencapaian produksi cabai merah besar bisa melebih dari tahun sebelumnya guna mengimbangi melonjaknya harga di tingkat pasar," pungkas Mustafa. [] medanbisnisdaily.com, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.