Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, ACEH TIMUR --Seorang wanita warga Langsa yang penderita sakit batu ginjal harus membayar Rp 3 juta kepada dokter spesialis urologi di RSUD Zubir Mahmud, Idi, Aceh Timur, yang membedahnya. Padahal, si pasien terdaftar di Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Dokter Zulfian Hasibuan SpU yang memungut biaya itu menjelaskan bahwa uang Rp 3 juta yang harus diberikan pasien kepadanya adalah untuk kebutuhan membeli dua selang yang digunakan pada operasi batu ginjal pasien, mengingat BPJS tidak menanggung pembelian alat medis jenis selang. “Dan, itu sudah saya bicarakan serta disetujui si pasien serta suaminya.”

Bagi keluarga si pasien, persoalan bukan hanya soal duit Rp 3 juta. Tapi setelah selang dipasang melalui pembedahan, derita si pasien tak berkurang. Bahkan, menurut sang suami, pembedahan yang dilakukan si dokter itu tidak mengangkat atau menghancurkan batu ginjal di tubuh istrinya.

Makanya, belakangan si pasien dirujuk ke RS Adam Malik Medan untuk pengobatan. Ya, kita tidak tahu secara jelas apa yang terjadi pada si pasien serta persoalan apa pula yang dihadapi dokter hingga si pasien merasa belum tuntas ditangani sang dokter.

Tentu agar tak muncul sangkaan-sangkaan buruk seperti dugaan malpraktik, maka masalah ini secara medis dan teknis perlu dijelaskan kepada publik oleh manajemen rumah sakit itu agar hal semacam itu tak terulang lagi.

Kedua, soal pungutan Rp 3 juta untuk membeli alat. Kecuali sang dokter yang memungutnya, semua pihak lain menyatakan pembebanan biaya itu kepada si pasien adalah tindakan yang salah alias pungutan liar.
Pihak BPJS Kota Langsa yang juga membawahi pelayanan BPJS di Aceh Timur menegaskan,

“tidak dibenarkan ada pungutan biaya yang dibebankan kepada pasien BPJS saat berobat di rumah sakit yang terdaftar bekerja sama dengan BPJS. Jika ada penarikan uang dari pasien itu, berarti itu pungli. Soalnya, semua biaya pengobatan masyarakat yang memegang kartu BPJS di rumah sakit adalah gratis, sesuai ketentuannya.”

Ada hal penting perklu diketahui pasien BPJS dan keluarganya, yakni “Apabila ada pasien BPJS yang diarahkan harus membayar uang oleh oknum dokter atau paramedis, jangan langsung diberikan. Tapi harus segera dilaporkan kepada petugas center BPJS yang sekarang ditempatkan di rumah sakit-rumah sakit.”

Ya, kita tak ingin buru-buru menyalahkan dokter atau si pasien. Yang sekarang perlu kita ketahui adalah rumah sakit itu menyediakan stok selang kebutuhan operasi batu ginjal?
Kemudian, jika memang tidak ada selang, mengapa bukan manajemen rumah sakit yang membeli? Mengapa harus dibebankan kepada pasien?

Nah, ini menjadi tugas Bupati Aceh Timur serta DPRK setempat untuk meminta klarifikasi dari pihak rumah sakit, dokter yang menangani si pasien, serta pihak BPJS. Jangan-jangan selama ini sudah biasa hal-hal seperti itu dibebankan kepada pasien? [] tribunnews.com photo : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.