Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SURAT PEMBACA -- Hutan merupakan salah satu penunjang bagi kelangsungan hidup manusia, hewan dan tumbuh -tumbuhan. Pada zaman dahulu nenek moyang orang Indonesia memanfaatkan hutan sebagai tempat mencari kehidupan, dari hutan diperoleh hewan buruan untuk di konsumsi, dari hutan dihasilkan kayu dan bahan untuk mendirikan rumah, dan dari hutan juga didapatkan ramu- ramuan untuk bahan perobatan.

Di tengah hutan seringkali ditemukan air jernih mengalir yang jauh dari pencemaran, dedaunan hijau yang mengandung klorofil sangat baik bagi kesehatan, tidak harus dijadikan santapan, udara yang dihasilkan dari dedaunan hijau yang tumbuh dihutan mengeluarkan udara yang bersih bebas dari polusi. Fungsi hutan sangat vital bagi kehidupan manusia, hutanlah yang banyak menampung air yang turun dari langit dan membendung pengikisan tanah yang memicu terjadinya longsor dan banjir.

Namun sangat disayangkan manusia yang hidup di zaman serba modern ini terlalu serakah, hutan menjadi tumpuan hidup yang terjadi justru ekosistem kehidupan yang terdapat di hutan di rusak, maraknya pembalakan liar(illegal logging) yang menguntungkan segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya hutan-hutan menjadi gundul (deforestasi) dan hewan-hewan kehilangan habitat kehidupannya, begitu besar dampak kerugian yang di sebabkan oleh keserakahan manusia.

Manusia sudah tidak lagi menyadari bahwa nenek moyangnya dahulu berawal dari hutan, dapat survive berkat bantuan hutan, dan dapat berkarya karena di dukung oleh hutan. Kondisi hutan yang ada di kampung saya, sewaktu saya masih anak anak hutan tersebut masih sangat lebat, hutan ini sangat besar manfaatnya bagi kelangsungan hidup masyarakat setempat. Namun kini situasinya berubah, pepohonan yang dulu mudah di dapatkan, kini sudah langka dan hanya menyisakan cerita. Burung yang dulunya berkicau bersahut-sahutan menyapa kedatangan kami, kini kicauan itu sudah berubah menjadi suara mesin kendaraan.

Dahulu sangat mudah memperoleh kayu-kayu terbaik dan berkelas seperti merbau, kayu ulin, damar, meranti, meranti batu, dan cenggal, kini semuanya sudah sangat sulit dijumpai. Dulu masih banyak terdapat kayu berukuran 40, 50, 60 inci. Namun di zaman sekarang ini untuk mencari kayu berukuran 10 inci saja sangat sulit menemukannya. Dewasa ini hutan Indonesia sudah banyak beralih fungsi menjadi area pertambangan, perkebunan pengembangan kelapa sawit dan karet. Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) mulai dari Kabupaten Langkat, Karo, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, dan Aceh Singkil perlahan sekarang sudah mulai marak terjadi perambahan hutan.

Menyikapi kondisi ini, saya sebagai putera asli daerah Aceh Tamiang sangat berharap kepada pemerintah pusat dan daerah, khususnya kepada Dinas Kehutanan dan Perkebunan agar lebih fokus memperhatikan hutan yang ada di lingkungan pemerintah setempat. Di Indonesia ini masih banyak suku-suku yang hidupnya mengandalkan hutan, bahkan menetap di hutan, seperti suku Kubu, Lubu, Talang Mamak, Anak Dalam, Badui, Rejang, Kajang, Mentawai, Asmat, Togutil, Dani, dan masih banyak lagi suku-suku lain di nusantara ini.

Saya berharap semoga dengan tuliisan ini tumbuh kesadaran bagi pemerintah dan para pengusaha untuk ikut menjaga dan melestarikan ekosistem hutan, hutan adalah paru paru dunia, manusia tanpa paru-paru akan mati, bila kelak hutan sudah habis mengalami perambahan, maka dunia akan berubah menjadi lautan. (***)

Pengirim :
HAMDANI
Kampung Sunting Kec. Bandar Pusaka
Kabupaten Aceh Tamiang
email : hamdanidani281@yahoo.co.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.