Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, LANGSA -- Seorang mantan anggota Polisi Daerah (Polda) Aceh Syafrizal Roza (32), dengan pangkat terakhir Brigadir bersama pasangannya Tuturi (33) warga gampong Lengkong, Kecamatan Langsa Baroe, diciduk petugas Wilayatul Hisbah (WH).

Keduanya diciduk di salah satu kamar kantin dalam lingkungan wisata hutan Kota Langsa, Gampong PB Seuleumak, Langsa Barat, pada Selasa (21/2) malam sekira pukul 21.15 WIB, karena diduga telah berbuat mesum.

Kepala Dinas Syariat Islam Kota Langsa Drs H Ibrahim Latif MM kepada MedanBisnis, Rabu (22/2) mengatakan, penangkapan pasangan dugaan mesum ini dilakukan pihaknya berawal dari laporan masyarakat yang mengatakan, pukul 20.45 WIB pasangan itu terlihat masuk ke dalam salah satu kamar kantin yang berada dalam lingkungan wisata hutan kota.

Atas laporan tersebut pihaknya bersama petugas WH langsung menuju ke TKP yang sudah ditunggu oleh pemuda setempat yang terus melakukan pengawasan.

Selanjutnya bersama pemuda setempat Dinas Syariat Islam dan WH langsung melakukan penggerebekan ke kantin dimaksud.

Namun, saat kita gedor pintu kantin, katanya, pasangan non muhrim yang berada dalam kamar itu tidak mau membukakan pintu, selang lebih kurang 7 menit baru pasangan tersebut membukakan pintu dan petugas WH langsung menarik mereka keluar.

"Saat ditarik pasangan laki-lakinya Syafrizal Roza mengaku anggota polisi dari kesatuan Polda Aceh dan memperlihatkan kartu anggota (KTA) atas nama dirinya dengan pangkat Brigadir," sebut Ibrahim Latif.

Lanjutnya, ketika sedang melakukan pemeriksaan di TKP, tiba-tiba datang beberapa personel Polres Langsa berpakaian biasa yang diduga dihubungi oleh pelaku.

Kawanan polisi tersebut memaksa mengambil pelaku dari tangan petugas WH tanpa melalui prosedur resmi yang telah disampaikan.

Bahkan, sambung Ibrahim, saat itu sempat terjadi ketegangan dengan personel Polres Langsa yang akhirnya mengambil paksa pasangan mesum yang mengaku anggota Polda Aceh itu dari tangan WH.

"Padahal kita sudah menjelaskan, prosedurnya pelaku diproses dulu di WH selanjutnya baru diserahkan ke penyidik Polres, namun mereka tetap memaksa bahkan dengan sikap yang arogan," sebut Ibrahim lagi.

Terkait dengan sikap oknum Polres Langsa ini, dia sangat menyesalkannya dan akan melaporkan perihal tersebut ke Polda Aceh bahkan Polri.

Karena status polisi itu adalah sipil dan tidak ada peradilan militer, jadi pelanggaran yang dilakukan oleh oknum manapun harus tetap diproses dengan Qanun No 6 tahun 2014 tentang hukum jinayat yaitu proses hukum cambuk.

"Setelah diambil paksa dari kita, sekira pukul 01.00 WIB dini hari, pihak Polres Langsa mengembalikan pasangan pelaku kepada kita, namun karena kesalahan prosedural dan ditakutkan telah hilang barang bukti pada diri pelaku, maka saat itu kita tolak dan mengembalikan pelaku kepada pihak Polres," ujarnya.

Dia menambahkan, pada pagi harinya (Rabu) petugas kembali menyerahkan pelaku ke Dinas Syariat Islam, namun pihaknya tetap menolak dengan alasan yang sama.

Sementara itu, Kapolres Langsa AKBP Iskandar Zulkarnain melalui Kasat Reskrim AKP Muhammad Taufiq kepada Medan Bisnis, Rabu (22/2) mengatakan, pada saat kejadian pihaknya bukan melarikan atau mencoba melepaskan pelaku dari petugas WH.

Tapi, kita khawatir pelaku akan menjadi korban amukan warga yang sudah memadati TKP, sehingga sebagai langkah pengamanan kita membawa pelaku ke Polres sementara waktu, dan sekarang pelaku sudah kita serahkan kembali ke WH untuk diproses lanjut," sebut Taufiq.

Sementara itu, terkait status anggota Polri dengan pangkat Brigadir sebagaimana pengakuannya kepada petugas WH dan masyarakat saat diamankan.

Pelaku sudah menjadi sipil biasa sejak tahun 2013 dengan SKEP Kapolda Aceh No KHIRZDIN/128/VI/2013 tertanggal 17 Juni 2013. [] medanbisnisdaily.com, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.