Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, LANGSA – Penyair Agusni AH kembali merampungkan antologi puisi tunggalnya. Kali ini, karyanya diberi judul “Teja Merambat Bumi.” Buku ini dijadwalkan peluncurannya pada Maret 2017.

“Alhamdulillah karya sastra puisi dalam antologi Teja Merambat Bumi segera di lounching dalam bulan Maret mendatang,” sebut Agusni di Langsa, Sabtu (25/2).

Menurutnya, saat peluncuran antologi puisi dimaksud nantinya akan dihadiri sejumlah penyair dan pengarang ternama. Salah satunya penyair fenomenal melalui novel “Rinai Kabut Singgalang” yang juga Ketua Umum Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Muhammad Subhan.

Agusni yang aktif menulis sejak di bangku sekolah menengah pertama itu, sebelumnya menelurkan beberapa antologi puisi bersama penyair Aceh lainnya. Belum lama, ia bersama Putra Zulfirman menyuguhkan antologi Merengkuh Asa pada akhir 2015.

Meski sibuk sebagai pekerja makhluk bumi, Agusni tetap berkarya. Kesibukannya sebegai Ketua Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Langsa, tidak menyurutkan semangat kepengarangannya.

Ia tetap concern dan konsisten dengan dunia sastra. Gaya bahasa yang digunakan juga sungguh menarik dan dikemas ciamik sehingga menyajikan puisi bermakna. Dalam karyanya, Agusni kerap mengemas kondisi kekinian di sekitarnya. Perjalanan bathin dan spiritual yang dilalui acap ditoreh dalam larik dan bait puisinya.

“Ia saya memang mulai akrab dengan dunia kepengarangan sejak SMP. Sejumlah karya sastra kala itu dipublis diberbagai media cetak lokal dan nasional”, aku Agusni.

Dalam buku antologi Teja Merambat Bumi, sejumlah seniman sastra dan akademisi memberikan tanggapan terkait buah karya pria kelahiran Dewantara Aceh Utara tersebut. Muhammad Subhan misalnya, dalam endorsment-nya, menuliskan, seperti judul buku ini, "Teja Merambat Bumi", puisi-puisi Agusni AH berpotensi "membumi" di hati pembacanya.

“Ia merekam peristiwa; politik, hukum, kriminal, budaya, hingga cinta. Bukan sekadar kata, ia 'menusuk-menikam' kesadaran kita bahwa banyak ketimpangan yang terjadi di bumi dan butuh tangan-tangan yang peduli. Peduli pada keadilan dan kedamaian”, tulis Subhan.

Hal senada juga dilontarkan Sekretaris Jenderal FAM Indonesia, Aliya Nurlela, sebagai seorang wartawan dan penyair, Agusni AH lihai meracik kata, dan itu ia buktikan melalui buku ini. Ia mereportase setiap peristiwa, lalu mengolahnya menjadi puisi yang tidak semua pekerja media mampu melakukannya.

“Ia memungut realitas sosial yang terjadi di sekitarnya dan mengubahnya menjadi realitas sastra. Saat ini kumpulan puisi itu ada di tangan pembaca”, ungkap novelis dan peraih perempuan inspiratif bidang seni dan budaya Majalah Nova 2016 itu. Karya Agusni AH juga mendapat tanggapan dari redaktur tamu ruang budaya SKH Haluan Padang, Deni Meilizon.

“Saya sangat gembira menikmati sajak-sajak Agusni AH ini. Ia membawa kita menyusuri lorong ruang dan waktu. Baik daya ungkap, larik, bait dan diksi khas penyair yang membuka gelanggang dan berproses pada era 90-an,” ujar peraih Literasi Minangkabau 2016 ini.

Dari kalangan akademisi, Dosen IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, sekaligus pemerhati sosial kemasyarakatan, Dr Amiruddin Yahya MA, menuturkan, dari judulnya yang mengetarkan, karya ini mengurai makna dibalik fenomena alam dan uniknya seakan-akan menghadirkan pembaca untuk menjadi saksi dimana “Teja” sebagai pembuka pintu kehidupan tatkala mentari mengiring fajar .

karya ini, secara substansif dielabolarikan dengan metaforis dalam gaya bahasa sastra. Karenanya, karya sastra ini menjadi intelektualitas, milestone yang inspiratif dan edukatif. Membaca buku ini akan menghantarkan pembaca menemukan makna implisit dari transisi waktu dalam sistem alam.

Karena itu, karya ini akan tetap menjadi bacaan menarik, baik dari gaya penulisan maupun tema sentra yang diurai. Sejatinya, akan membentuk pemahaman holistik tentang kehidupan dan menyadarkan kita untuk lebih mencintai jagad semesta.

Kemudian, Dr Sulaiman Juned, M.Sn yang merupakan dosen Prodi Seni teater Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang ini mengemukakan, penyair lewat karyanya bernama puisi terkadang bergerak begitu liar. Bahkan mengandung gagasan yang sulit ditebak jika tidak ditelisik secara mendalam. Penyair dalam setiap waktu--setiap ruang kreatifnya 'membaca kehidupan' lalu berkelahi pikiran dalam melahirkan puisi.

Selanjutnya dikemas pada ruang kontemplasi berdasarkan realitas sosial dirinya, keluarganya, masyarakatnya, menjadi puisi.

“Penyair Agusni AH dengan cerdas mengabarkan/meneriakkan kegelisahan batin lewat cahaya kekuning-kuningan di kaki langit, muncul di timur saat matahari terbit sebagai pembuka awal kehidupan, seperti halnya dalam kumpulan puisi berjudul 'Teja Merambat Bumi'. Memang layak untuk dibaca,” urai Sulaiman Juned.

Terakhir, Ketua Dewan Kesenian Aceh, Nur Maida Admaja, memberikan apresiasi dan penghargaan yang tulus terhatur kepada DKA Kota Langsa dan Disporabudpar setempat, yang telah menelurkan buku antologi "Teja Merambat Bumi" Karya Agusni AH dan Penyunting Putra Zulfirman itu.

“Kami melihat pada buku ini masyarakat dapat memilih suatu sudut pandang atau perspektif mengenai pengalaman spiritual, perjalanan batin, sosial budaya, politik, dan potret kehidupan sang penyair terhadap realitas hidup. Terus berkaya kendati terkendala sekat, ruang dan waktu,” tutur dia. [] TN-W005

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.