Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SURAT PEMBACA -- Parah dan memalukan, barangkali ungkapan ini yang pantas dilontarkan kepada oknum-oknum yang melakukan pencurian dan pengrusakan terhadap fasilitas pemerintah di jalan raya, kerugian yang disebabkannya dirasakan oleh banyak orang yang melintasi jalan raya tersebut dan tindakan mereka ini tergolong kasus kriminal.

Di bawah ini saya tampilkan gambaran di kampung saya, di mana spion sebagai kaca pemantau di setiap tikungan dirusak oleh oknum yang tidak bertanggungjawab dan beralih fungsi menjadi tiang bendera. Kondisi ini terjadi diakibatkan rusaknya moral generasi muda oleh kecanduan narkoba, judi, dan maraknya pengangguran tingkat tinggi (PTT), minimnya lapangan pekerjaan salah satu pemicu terjadi tindakan kriminal.

Dalam setiap kampanye, pemerintah selalu menjanjikan akan menciptakan lapangan kerja yang seluas-luasnya, namun ternyata semua itu hanya sebatas lip service. Generasi muda merupakan penerus masa depan yang akan melanjutkan pembangunan, seyogianya mereka dibina dan diberdayakan agar bakat dan impian mereka dapat tersalur dengan baik.

Sejak Kabupaten Aceh Tamiang dimekarkan dari Kabupaten Aceh Timur dan telah melalui 3 periode pergantian kepemimpinan, namun tiada perubahan signifikan yang memberi manfaat bagi masyarakat. Akibat kurangnya kepedulian dan perhatian pemerintah terhadap kalangan generasi muda mengakibatkan terjadi perubahan sosial yang drastis di tengah masyarakat, kondisi ini sangat meresahkan masyarakat, namun tidak ada upaya dari pemerintah untuk menyelesaikan kondisi ini. Bila generasi muda tidak diberdayakan dengan baik, maka dapat dipastikan pada 25-35 tahun mendatang generasi muda di Aceh Tamiang akan hancur akibat kerusakan moral.

Pihak yang berwajib hanya mampu melakukan penangkapan, tanpa pernah mencaritahu latarbelakang yang memicu terjadinya tindak kejahatan tersebut. Melihat kondisi di kampung saya, lalu lintas sudah layak diganti menjadi ”lalu semak”, kecamatan tempat saya tinggal tercatat sebagai salah satu kecamatan paling tertinggal dari 12 kecamatan yang ada di Aceh Tamiang.

Minimnya perhatian pemerintah terhadap kampung saya diakibatkan tertanamnya pandangan miring dari pemerintah terhadap masyarakat setempat, mereka menilai masyarakat Aceh Tamiang yang menetap di bagian hulu adalah orang kampungan (udik), tidak berpendidikan, dan gagap teknologi (gaptek). Saya sebagai putera asli Tamiang bagian hulu merasa sangat kecewa terhadap penilaian tersebut, seorang pemimpin yang baik seyogianya berlaku adil dalam menjalankan pembangunan bukan tebang pilih sesuai pesanan.

Maka oleh karena itu saya sangat berharap kepada bupati dan wakil bupati Aceh Tamiang terpilih mampu melakukan pemerataan pembangunan, pendidikan, kesehatan dan memberikan perhatian lebih terhadap daerah yang selama ini diabaikan, dan membantu kalangan generasi muda dalam melanjutkan pendidikan dengan cara memberikan dana beasiswa kepada mereka yang kurang mampu.

Sebagai catatan Tamiang bagian hulu sangat besar peranannya dalam menambah Pendapatan Asli Daerah. Akhir kata, saya mengimbau agar seluruh masyarakat Tamiang dari hulu maupun hilir agar bersatu padu membangun daerah Aceh Tamiang yang lebih baik demi kesejahteraan kita bersama dan masa depan anak cucu kita mendatang. [] Red-TN, Foto : Ilustrasi

Pengirim :
HAMDANI
Kampung Sunting Kec. Bandar Pusaka
Kabupaten Aceh Tamiang
email : hamdanidani281@yahoo.co.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.