Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, BANDA ACEH -- Cut Fauziah, warga Gampong Lamdingin, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Selasa (31/1) kembali bertemu dengan remaja yang diduga sebagai anaknya yang menghilang saat tsunami 12 tahun lalu.

Remaja itu merupakan Muhammad Akbar Tanjung (20) yang selama ini menetap di Gampong Awek, Kecamatan Kota Jantho, Aceh Besar, bersama keluarga angkatnya.

Cut Fauziah kepada Serambi kemarin menceritakan, pertemuan Akbar berawal dari kecurigaan pihak keluarganya yang menetap di Lamsujen, Lhoong, Aceh Besar.

Saat itu Akbar datang ke gampong tersebut meminta sedekah mualaf. Karena mirip dengan Akbar yang menghilang saat tsunami, mereka pun langsung mempertemukan Akbar dengan Fauziah yang menetap di Banda Aceh.

“Saya saat ini masih antara percaya tidak Akbar anak saya atau bukan, karena kondisi dia masih linglung,”ujar Fauziah. Sebagian pihak keluarga dan kerabatnya juga berfirasat remaja tersebut memang Akbar yang hilang tsunami 26 Desember 2004 saat itu masih berumur 8 tahun.

Dari bentuk bibir, dan ada beberapa tanda yang menjadi dasar keyakinan keluarga. Namun jika dulu Akbar kecil bernama Maulana Akbar, kini namanya Muhammad Akbar Tanjung, tak diketahui siapa memberi nama baru itu.

Fauziah mengisahkan, saat bencana itu ia bersama suaminya, Samsul Bahri, adik, dan ketiga anaknya terpisah saat dihempas tsunami.

“Saat itu Akbar minta tolong, tapi saya tidak bisa memegang tangannya, itulah terakhir kalinya saya melihat Akbar,” lirih Fauziah.

Setelah tsunami ia melihat foto Akbar dipajang di Rumah Sakit Kesdam Banda Aceh, sebagai anak-anak korban tsunami yang pernah dirawat di rumah sakit itu.

Namun ia kehilangan jejak, walaupun sudah mencari ke beberapa tempat, mereka tidak pernah menemukan Akbar lagi.

Sedangkan Akbar tidak ada yang diingat tentang bencana tsunami, yang ia ingat saat kecil ia memiliki bekas jahitan di bagian perut dan lebih banyak diam.

Karena masih ada anggota keluarga yang ragu mengenai Akbar sebagai anak Cut Fauziah. Pihak keluarga pun ingin memastikan kebenaran itu dengan melakukan tes DNA. “Agar tidak ada keraguan lagi harus dilakukan tes DNA,” ujar Ernawati, adik dari ayah Akbar.

Begitupun, Ernawati mengaku belum mengetahui bagaimana prosedur untuk melakukan tes DNA, dengan harapan ada pihak yang membantu memfasilitasi. Menurut Fauziah, bahwa sebelumnya pihak Dinas Sosial juga sudah berkunjung dan mendata. [] tribunnews.com, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.