Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SINGKIL -- PAGI masih gelap. Sambil memikul bubu (perangkap lele), Pahot keluar dari Desa Teluk Rumbia, Singkil, Aceh Singkil, menuju sampan yang ditambat di pinggir sungai Singkil. Bermodalkan perahu bermesin tempel pemotong rumput, ia membelah alur sungai selebar ratusan meter menuju rawa Singkil.

Tidak lupa membawa nasi, garam, pemantik api serta beras sebagai bekal menginap di tengah hutan. Setelah menelusuri sungai (lae) Truf, Pahot tiba di kawasan Lawah Pangkalan, sekitar pukul 09.00 WIB. Nyaris tanpa istirahat pria paruh baya itu, langsung mendayung sampan melusuri anak sungai cabang dari Lae Truf. Napasnya tersengal namun tetap cekatan mendayung.

Satu jam waktu terlewati, ia menemukan lokasi yang diyakini cocok meletakkan perangkap ikan lele dengan memasang tanda di dekat lokasi bubu. Melewati tengah hari, Pahot selesai memasang bubu. Ia lalu kembali ke pemondokan menunggu esok tiba saatnya memanen lele yang merupakan anugerah alam di rawa Singkil. “Sekali pergi dapat kira-kira sepuluh kilo lele,” katanya kepada Serambi belum lama ini. Ukok, pencari lele asal Rantau Gedang, yang bersebelahan dengan Teluk Rumbia, memilih memasang bubu di Lawah Seribu Pulau.

Setelah menginap semalam rejekinya hanya mendapat dua kilo lele. Tapi itu sudah cukup menutupi kebutuhan keluarganya. Jika dijual per kilo, lele hasil tangkapan warga di rawa Singkil dihargai Rp 40.000. Sedangkan biaya yang dikeluarkan sekali berangkat sekitar Rp 30.000. Biaya yang dikeluarkan semakin tinggi bila lama tinggal di hutan. Akan tetapi biasanya warga menginap bila sedang banjir lele saja. Rawa Singkil, merupakan surga bagi pencari lele asal Desa Teluk Rumbia dan Rantau Gedang.

Miliki perkampungan lele

Saban hari warga silih berganti keluar masuk kawasan itu mencari nafkah hidup di tengah belantara rawa. Setiap warga memiliki lokasi sendiri, yang tentu saja tidak boleh sembarangan diserobot pencari lele lainnya. Tak mengherankan jika di sepanjang alur lae Treuf yang membelah pedalaman belantara rawa Singkil, memiliki banyak nama. Penamaan ditapalkan sebagai penunjuk bahwa wilayah tersebut sudah ada pengusahanya. Biasanya setiap wilayah kekuasaan selalu ditandai dengan pendirian gubuk hutan berukuran kecil di atas sungai menikung, sebagai tempat menginap.

Warga lokal malah menyebutnya sebagai perkampungan. Tentu saja bukan kampung sebenarnya. Paling-paling hanya ada dua pencari lele yang menempatinya. Kampung yang tidak diketahui luasnya itu, dipenuhi air rawa serta tumbuhan bakung, palas dan tumbuhan akuatik lainnya.

Kampung di belantara rawa Singkil itu, diawali dengan nama lawah (pondok). Seperti Lawah Semut, Gedibok, Kerabang, Seribu Pulau, Pangkalan, Pangkalan Ujung dan Lawah Puasa. “Di rawa Singkil, ada kawasan nama umumnya Lae Treuf. Di Lae Truf, ada kampung-kampungnya tempat orang mencari lele,” kata Puka Dragon, penduduk lokal yang menemani Serambi, Asisten I Setdakab Aceh Singkil, Mohd Ichsan menelusuri rawa Singkil belum lama ini.

Lokasi mencari lele sesuai penamaan diwariskan turun temurun, sejak manusia menempati Rantau Gedang dan Teluk Rumbia. Sebab itulah, dua desa di bantaran sungai Singkil ini, dikenal sebagai penghasil lele yang dalam bahasa setempat disebut limbek. Menjaga kwalitas lele hasil tangkapan dibawa pulang dalam kondisi hidup. Jika sudah kebanyakan, terutama ketika banjir tuba lele akan dikeringkan dengan cara ditaruh di atas tungku api di pondok peristirahatan.

Warga memiliki kearifan lokal dalam menangkap lele. Penduduk menangkapnya menggunakan bubu dengan umpan biji kelapa sawit. Sehingga walau sudah puluhan tahun ribuan ekor lele tetap tersedia di rawa Singkil. Tak pernah terdengar ada pertikaian antara pencari lele dengan pengisi rawa Singkil. Sepertinya mereka sudah menjadi sahabat yang biasa hidup berdampingan. [] aceh.tribunews.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.