Dilihat 0 kali

Oleh : HAMDANI*

Tanah Tamiang adalah tanah tumpah darahku, tempatku dilahirkan dan pertama kali darahku di tumpahkan, tanah Tamiang adalah tempat pertama aku melihat sinar bulan dan matahari serta menghirup udara segar dari alam. Tanah tamiang adalah tempat pendahuluku mencari penghidupan, aku tidak tau sudah berapa lama nenek moyangku menetap dan hidup berkarya di tanah Tamiangku, aku terlahir dari rahim ibu kesayanganku dan tumbuh besar di salah satu kampung di hulu sungai tamiang tepatnya di Kampung Sunting tercinta, demikian rangkaian perjalanan leluhurku.

Di saat usiaku 19 tahun aku beranjak meninggalkan tanah kelahiranku menuju daerah perantauan, dalam perjalananku aku tak akan pernah lupa akan pesan ibu ku, tanah tamiang ku yang indah dan subur, kekayaannya melimpah ruah, dari Seruway sampai hulu Sungai Tamiang perbatasan dengan Gayo Lues dan Langkat.

Di tanah Tamiang terhampar luas area persawahan, perkebunan karet dan kelapa sawit, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduknya, sungguh demikian tanah tamiangku, tanah Tamiang kini sudah dipadati oleh para kaum pendatang, orang tamiang justru banyak tinggal di pinggiran aliran sungai tamiang. Tanah leluhurnya di jual, kepemilikan tanah berpindah tangan ke para kaum pedatang, orang Tamiang pergi menjauh orang dari suku lain datang dan mendekat.

Budaya Tamiangku terkikis hilang akibat kurangnya kepedulian dan perhatian, Bahasa Tamiangku dulu semarak dan menjdi favorit, dulu bahasa Tamiang ku diminati dan menjadi kewajiban, sekarang bahasa tamiangku dianggap kampungan oleh orang Tamiang yang tinggal di kota kecil Kuala Simpang dan sekitarnya, dulu orang Tamiang sangat bangga menggunakan tutur "PO, MAKCIK, DAPO, PAKCIK, LONG, NGAH, ALANG, UTEH, ANDAK, ANJANG, ENCU". Namun kini orang Tamiang justru lebih merasa bangga mempopulerkan "om dan tante".

Bahasa Tamiang sejatinya adalah bahasa pemersatu di wilayah Tamiang baik hulu maupun hilir, karena itulah orang Tamiang banyak yang tidak percaya diri menggunakan bahasanya, justru lebih tertarik menggunakan bahasa tetangganya, bahkan di lingkungannya sendiri. Sungguh ironis namun semua itu adalah fakta, orang Tamiang banyak yang tidak menyadari tergerusnya bahasa Tamiang bukan karena orang lain melainkan akibat kealpaan dan kelalaian orang Tamiang sendiri.

Menapak tilas masa lalu suku Tamiang termasuk suku hebat pernah memiliki kerajaan yang kuat dan sudah mengenal sistem tatanan pemerintah, melirik kondisi sekarang orang Tamiang banyak mengalami perubahan budaya dan bahasanya kian mengalami ketergerusan, Tanah Tamiang Mende sudah diramaikan suku pendatang, kepemilikan tanah Tamiang sudah banyak berpindah tangan, orang Tamiang meniggalkan tanah kelahirannya dan memilih hidup di tanah perantauan karena tidak mendapat peluang di kampung halamanya tanah Temiang mende.

Demikianlah kondisi kehidupan orang Tamiang saat ini, bagaimana dengan 50, 60, 100 tahun mendatang, masihkah tanah Tamiang dimiliki orang Tamiang, akankah budaya dan bahasa Tamiang mampu bertahan. Bagaimana bila 50 tahun tanah Tamiang ternyata sudah beralih kepada kaum pendatang, anak cucu kita akan bertanya : "ayah, tanah orang Tamiang dimana?, sang ayah menjawab : dulu tanah Tamiang ada di Kabupaten Aceh Tamiang mende Provinsi Aceh, sekarang kita sudah jadi orang Medan, Banda Aceh dan lain-lain, disinilah tanah kita, udah pahamkan nak? jawab anak : udah yah".

Ini merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua dan juga menjadi tanggung jawab kita bersama, sekali lagi sebagai generasi penerus Tamiang. Semoga kata-kata saya di atas bisa menjadi renungan untuk kita semua yang berdarah Tamiang!

Tanah Tamiang mende adalah tanah kelahiranku
Tanah Tamiang mende adalah budayaku
Tanah Tamiang mende adalah bahasa ibu ku, dan
Tanah Tamiang mende adalah aku.

Penulis adalah warga Kampung Sunting Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang, Hp. 085270846xxx, email : hamdanidani281@yahoo.co.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.