Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, JAKARTA -- Pernyataan politikus Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Akbar Faisal mengenai anggaran Rp 23 triliun untuk mengangkat 430 ri‎buan honorer kategori dua (K2), dinilai tidak berdasar pada hitungan yang cermat.

Menurut Bambang Riyanto politikus Partai Gerindra, munculnya angka-angka yang tidak berdasar itu membuat Presiden Joko Widodo ragu mengambil keputusan.

"Ini angka-angka hitungan bodong. Awalnya malah Rp 1000 triliun, kemudian jadi ratusan triliun, dan terakhir angka Rp 23 triliun.

Yang saya pertanyakan, cara hitungnya bagaimana dan pakai kalkulator jenis apa," kata Bambang yang juga kapoksi Baleg DPR RI kepada JPNN, Minggu (29/1).

Perhitungan yang salah akan membuat anggaran membengkak. Padahal bila dihitung, nyatanya jumlahnya tidak sebanyak itu.

"Kalau dari hitungan kalkulator saya, negara hanya membutuhkan anggaran Rp 15 triliun per tahun bila pemerintah langsung mengangkat 430 ribuan honorer K2. Namun, bila diangkat bertahap tiga tahun, hanya Rp 5 triliun," bebernya.

Angka Rp 15 triliun itu, dihitung dari jumlah honorer K2 430 ribuan dikalikan dengan gaji Rp 3 juta dikali 12 bulan. Kenapa Rp 3 juta, karena honorer K2 akan diplotkan ke golongan dua dan tiga.

"Saya pakai standar gaji Rp 3 juta sudah bagus itu. Kalau golongan dua kan pasti di bawah Rp 3 juta gaji pokoknya, tapi ini saya pukul rata saja.

Jadi jangan mengada-ada lah, jangan sampai hitungan yang salah membuat pemerintah menzalimi honorer K2 yang sudah mengabdi bertahun-tahun," pungkasnya. [] jpnn.com, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.