Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, JAKARTA -- Pemerintah tengah mendiskusikan revisi Peraturan Menteri Perhubungan No. 32 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek. Salah satu pertimbangan revisinya adalah dibolehkannya mobil Low Cost Green Car (LCGC) digunakan sebagai taksi online.

Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Pudji Hartanto menegaskan, revisi ini masih menjadi pertimbangan. Perkiraannya, bulan ini revisi tersebut akan selesai.

"Memang kita sedang merevisi keseluruhan dari PM (Peraturan Menteri Perhubungan) No. 32 itu, tapi belum final. Mungkin akhir minggu ini atau bulan ini sudah siap semuanya. Revisinya sedang dibahas. Ada beberapa masukan, saran. Nah ini kta sedang bahas," kata Pudji kepada detikOto, Jumat (13/1/2017).

Menurut Pudji, banyak yang memberi masukan terkait Peraturan Menteri Perhubungan No. 32 Tahun 2016 tersebut. Karena itu, pihaknya sedang mempertimbangkan revisi peraturan itu.

"Banyak yang memberikan masukan, kita pelajari lagi, agar nanti kita sampaikan jadi enggak ada yang minta ini, minta itu lagi, kenapa begini, kenapa begitu lagi," kata Pudji.

Salah satu masukannya adalah penggunaan mobil bermesin di bawah 1.300 cc untuk taksi online. Pada Peraturan Menteri Perhubungan No. 32 Tahun 2016 sebelum revisi disebutkan, taksi online hanya boleh menggunakan mobil bermesin 1.300 cc ke atas, sementara LCGC dengan mesin 1.200 ke bawah tidak dibolehkan. Kemenhub sedang mempertimbangkan penggunaan LCGC untuk taksi online.

"Mesin di bawah 1.300 cc juga sedang dibahas, mengarah kepada LCGC. Pengumumannya nanti ketika revisinya sudah clear baru (bisa gunakan LCGC atau tidak untuk taksi online). Sekarang sedang dibahas dulu bisa atau enggaknya," ujar Pudji.

Selain mempertimbangkan LCGC untuk taksi online, ada beberapa hal yang sedang dibahas Kemenhub untuk merevisi peraturan itu. Salah satunya adalah teknis uji KIR.

"Mereka minta masalah KIR tidak mau diketok, kemudian yang SIM A Umum, kemudian pool. Nah nanti kita lebih jelaskan. Hanya lebih banyak kita menjelaskan lagi," ujarnya.

Masalah taksi online ini sudah diprotes oleh kalangan Organda. Mereka merasa tidak ada perlakuan yang sama antara taksi konvensional dan mobil taksi online.

"Bagus saja, dia (Organda) juga memberikan masukan. Banyak sih, intinya semua agar bisa selaras. Ini kan antara taksi online dengan taksi konvensional kan ada beberapa perbedaan. Nah, perbedaan itu yang jangan sampai jomplang, coba kita setarakan. Kan itu harus ada kesetaraan," ujar Pudji. [] detik.com, photo : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.