Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, JAKARTA -- Ar-riya' adalah penyakit yang paling ditakuti semua orang beriman, termasuk para ulama. Satu akar kata dengan 'ra aa- yaraa', artinya 'melihat'. riya' maksudnya ingin dilihat orang. Jadi orang yang beramal dengan riya', tidak ingin dilihat Allah melainkan ingin dilihat orang lain.

Dengan kata lain, ia tidak mengharapkan pahala dari Allah, tetapi hanya mengharapkan imbalan atau pujian dari makhluk. Orang seperti ini hakikatnya telah berpindah tuhan kepada makhluk. Tapi tidak sampai ke tingkat penyembahan. Namun bau kemusyrikan sudah tercium di situ. Itulah mengapa Rasulullah SAW menganggap perbuatan riya' sebagai syirik kecil.

Karenanya, ketika menggambarkan kepribadian orang-orang munafik dalam surah al-Mauun: 6, Allah SWT berfirman: "Alladziinahum yuraa uun (yaitu orang-orang yang berbuat riya')."

Dalam surah al-Baqarah: 264, Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang berbuat riya' adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Kiamat. Allah swt berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian..."

Perhatikan ayat ini, bagaimana Allah SWT menggandeng antara perbuatan riya' dengan tidak beriman kepada Allah dan alam akhirat. Betapa dosa riya' ini sangat membahayakan.

Lawan kata riya' adalah ikhlas, artinya memurnikan. Dari kata "akhlasha-yukhlishu". Air yang murni disebut dengan "al-maul khalish". Karena masih belum ada campurannya sama sekali. Tapi jika dalam air itu dimasukkan teh sekalipun sedikit, langsung otomatis berubah sebutan menjadi air teh.

Sama dengan amal ibadah, ia dikatakan ikhlas ketika murni diperbuat untuk Allah. Tetapi ketika ada niatan lain untuk dipuji makhluk, misalnya, atau untuk kepentingan duniawi lainnya maka unsur ibadahnya menjadi hilang. Inilah yang disebut riya'.

Orang yang ikhlas cirinya sama, ia selalu dalam kebaikan. Baik ada dalam keramaian atau dalam kesendirian ia tetap baik. Inilah yang disebut ihsan. Rasulullah SAW menjelaskan makna ihsan dalam sebuah hadis, "Engkau menaati Allah seakan engkau melihat-Nya. Jika tidak melihat-Nya maka engkau yakin bahwa Allah melihatmu."

Sebaliknya, orang riya' akan bekerja dengan pencitraan. Di depan banyak orang ia tampak seperti orang baik, tetapi ketika sendiri tidak merasa berdosa berbuat maksiat. Termasuk riya' adalah janji-janji palsu yang diumbar pada saat kampanye. Dengan senang mereka memberikan harapan yang muluk dan menggiurkan agar didukung. Namun setelah terpilih, malah semua janji-janji itu dicampakkan. Seperti inilah selalu perbuatan manusia-manusia riya'.

Bayangkan, berapa banyak manusia yang dirugikan oleh penyakit ini. Itulah mengapa Allah SWT dan rasul-Nya sangat membenci penyakit ini. Dan bagi orang-orang beriman, sungguh penyakit riya' ini benar-benar sangat ditakuti. Sebab ia datang secara tiba-tiba dan langsung menghapus amal saleh yang sudah kita kerjakan. [] Amir Faishol Fath (Republika)

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.